Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam itu. Suasana di rumah keluarga Gemelard perlahan kembali ke ritme normal, meski ada perubahan kecil yang tersisa.
Yoda, yang sebelumnya seperti bayangan pengawas bagi Yasha, kini mulai mengalihkan fokusnya. Meja kerjanya di kamar penuh dengan sketsa arsitektur, buku-buku teori desain, dan daftar perlengkapan kuliah yang harus dibeli sebelum masa orientasi dimulai. Kesibukan itu ternyata menjadi obat alami bagi kecemasannya. Ia tetap perhatian, tapi tidak lagi mengamati setiap napas Yasha seperti detektif.
Bagi Yasha, ini adalah angin segar. Ia merasa sedikit lebih lega bisa bergerak tanpa ada suara "Hati-hati" atau "Jangan lari" dan "jangan pegang itu bahaya." yang terus-menerus menggema di telinganya.
Pagi itu, matahari bersinar cerah melalui jendela ruang makan. Yasha duduk sambil mengaduk-aduk serealnya, matanya sesekali melirik ke arah tangga dimana Gerdylan biasanya turun.
"Mih, Kak Gege udah turun belum?" tanya Yasha.
Hanna yang sedang menyiapkan bekal buah tersenyum. "Udah, Dek. Tadi Papih bilang Kak Gege ada meeting penting sama manajemen label musiknya. Mungkin bakal pulang sore."
Wajah Yasha langsung merosot. "Hah? Janjinya tadi mau ajak Yasha ke studio..."
"Iya, maaf ya, Nak. Pekerjaan Kak Gege memang kadang mendadak." Yasir yang sedang membaca koran ikut menyela lembut. "Tapi nanti kalau Kak Gege pulang, pasti dia akan ganti janji."
Yasha menghela napas panjang, menyuapkan serealnya dengan lesu. Rencana jalan-jalannya pagi ini tiba-tiba terasa hampa.
Tepat saat ia hendak mengeluh lagi, terdengar suara langkah kaki ringan dari tangga. Tara muncul dengan penampilan rapi, mengenakan kemeja kasual dan rok panjang. Wajahnya berseri-seri, berbeda dari biasanya yang lebih sering terlihat serius dengan buku medisnya.
"Pagi semuanya," sapa Tara ceria.
"Pagi, Kak Tara!" sahut Yasha setengah hati.
Tara menarik kursi di sebelah Yasha. "Kenapa muka ditekuk gitu? Kaget lihat Kakaknya cantik gini?"
Yasha mendengus pelan. "Enggak. Yasha cuma lagi kecewa. Kak Gege batal ajak Yasha keluar. Padahal semalam udah janji."
Mata Tara berbinar. "Oh, jadi Adek mau keluar?"
"Iya lah, udah bosan di rumah terus udah berapa minggu."
Tara tersenyum misterius. "Kalau gitu, gimana kalau Adek ganti temen jalan sama Kak Tara?"
Yasha menoleh cepat. "Beneran boleh? Kakak mau ke mana emang?"
"Mau nonton bioskop, terus makan siang bareng sama Ka Sultan. Oh iya, Nanti juga Kak Reivan ikut makan bareng. Dia bilang kangen sama calon adik iparnya yang paling ganteng ini."
Mendengar nama Sultan dan Raivan, mata Yasha langsung berbinar lebar. Raivan itu kakak nya Sultan, dikenal sangat baik dan selalu memperlakukan Yasha seperti adik kandungnya sendiri. Pria itu jarang sekali pelit jika urusan membelikan sesuatu untuk Yasha tidak jauh beda dengan Sultan.
Mereka sama-sama dokter punya rumah sakit keluarga juga seperti Yasir. Pokoknya paket mantap deh buat di jadikan kakak ipar oleh Yasha.
"Serius ka. Boleh banget!" Yasha langsung lupa pada kekecewaannya. Ia bahkan hampir melompat dari kursinya.
"Tapi ingat," potong Hanna tegas, meski matanya tersenyum. "Jangan capek-capek. Kalau merasa lelah atau sesak, langsung bilang. Terus minum obat dulu sebelum berangkat. Jangan minta yang aneh-aneh ya."
"Siap, Mih!" Yasha mengangguk patuh.
Dari ujung meja, Yoda yang sedang menyeruput susu coklat hanya melirik sekilas. "Jaga adek lo baik-baik, Ka, inget waktu itu pulang dari bioskop sama Temen-temen nya malam nya demam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
Fiksi PenggemarHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
