43 - Bersaing

9.1K 565 48
                                        

ALVI mengatur napasnya yang tersegal-segal akibat berlari, lalu mengusap wajahnya yang entah sejak kapan mengeluarkan keringat. Alvi menutup pintu ruang rawat yang saat ini di dalamnya ada Nat yang sedang diperiksa oleh dokter--yang untungnya ada sepagi ini.

Deon benar-benar membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli sepadat apa jalanan pagi ini. Tapi tidak masalah, setelah itu mereka bernapas lega, karena apa yang dilakukan tidak berakhir sia-sia, Nat langsung di tangani oleh dokter.

Alvi duduk dikursi tunggu rumah sakit, kemudian menoleh pada Deon yang berdiri sambil menyenderkan tubuh di dinding rumah sakit. Sudut bibir Alvi tertarik membentuk senyuman miring, siapapun juga tahu jika melihat sikap Deon saat mengendarai mobil, terlihat luar biasa panik dan sorot matanya tak dapat di elakan bahwa Deon khawatir.

"Santai aja, Nat udah ditangani sama dokter." Alvi membuka suara lebih dulu, jengah juga melihat Deon yang terus-menerus berdiri.

Deon menoleh lalu tersenyum miring, "Bilang itu sama diri lo. Bukannya dari tadi lo yang kelihatan nggak santai?"

Alvi tertawa sumbang, lalu menghela napas pendek. "Disini dia nggak punya siapa-siapa. Gue kasihan aja. Punya keluarga deket tapi berasa nggak ada."

Mendengar itu Deon mengatupkan rapat bibirnya, rahangnya mengeras. Bukan karena merasa tertohok, tapi karena Nat sudah berani menceritakan kepada orang lain bahwa mereka adalah saudara tiri, Deon membenci fakta itu.

"Jangan dibawa, kalo lo nggak bisa jamin keselamatan dia disini." kata Alvi lagi, membuat Deon tertawa lebih keras di dalam hati.

Jika memiliki banyak pilihan, Deon tidak akan pernah mau mengajak Nat ikut ke Indonesia. Tapi sayangnya, Deon hanya diberi satu pilihan oleh Papanya. Mengajak Nat atau tidak sama sekali.

Lantas, Deon harus bagaimana?

"Deon mau ngomong sama Papa."

Deon tidak ingin banyak berbasa-basi, setelah masuk ke ruang kerja Papanya ia langsung meletuskan tujuannya.

Bram melepas kacamata yang tadi bertengger di hidungnya, fokusnya sudah jatuh pada putra tunggalnya. Dokumen-dokumen segera ia jauhkan dari hadapannya, yang artinya Bram bersedia menjadi pendengar yang baik untuk Deon.

"Silahkan, selagi ini bukan tentang Mama kamu."

Deon mengangguk, "Deon mau tinggal di Indonesia-"

"DEON!"

"Bukan karena Mama, tapi karena orang lain." ujar Deon tidak peduli semerah apa wajah Bram saat ini, "Aku nggak mau tinggal di negara orang, aku mau sekolah di sekolah pada umumnya, bukan homeschooling kayak sekarang. Aku cukup mandiri buat tinggal sendiri."

"Kalo itu alasan kamu, Papa bakal urus kepindahan kamu ke sekolah biasa. Jangan jadikan alasan buat ketemu Mama kamu, Ladeon." tegas Bram penuh wibawa, sampai Deon merasa terlalu sakit memiliki seorang Ayah semembanggakan ini, namun ia tidak pernah merasa bahagia.

"Bukan Mama, tapi orang lain. Papa cukup ngerti, kan?" ulang Deon lagi, lebih menegaskan bahwa apa yang ia katakan tidak main-main.

"Ladeon Mahesa!"

Deon mengeraskan rahangnya, sorot matanya menajam. Tapi tidak dapat di pungkiri bahwa di dalam mata itu hanya ada kelam, luka, dan rasa sakit. Karena selama ini, hanya kepedihan yang melingkupi hidupnya.

"Pa .." Deon menunduk, berusaha keras menahan desakan yang ingin keluar dari matanya, "Deon nggak bahagia." cicitnya kecil.

Bram terdiam. Garis wajahnya yang semula tegas, kini menurun begitu saja. Sorot mata yang semula tidak ingin di bantah, kini menyendu. Tak dapat dipungkiri, yang baru saja di dengarnya berhasil menohok dalam sesuatu di balik dadanya. Anaknya sendiri, anak kandungnya .. mengaku tidak bahagia. Di hadapannya.

Hello A : Alvino & AlulaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang