"Don't cry. You make me want to protect you more."
•••••
LULA menepis pelan tangan Alvi dari pergelangan tangannya, ia menarik diri agar sedikit menjauh menyadari bahwa wajahnya hanya berjarak tujuh jengkal dari wajah Alvi. Sorot mata Alvi masih tetap sama, tajam.
Lula, tidak menyukai bagaimana cara Alvi menatapnya saat ini.
"Bukan cuma kaki dan tangan, ternyata kepala lo juga harus diperiksa."
Sadar jika emosinya sedang tidak stabil, Alvi menarik napas pelan, lalu berusaha meredam emosinya dalam-dalam. Hanya saja, Alvi ingin Lula mengerti bahwa ia ingin melindungi.
Jika Reo berani membawa atau menyentuh orang terdekatnya meski seujung kuku, maka jangan salahkan Alvi jika Reo habis di tangannya.
"Sorry." gumam Alvi menyesal karena menarik tangan Lula tanpa perasaan, "gue ... di luar kendali."
Lula menghela napas, "Bisa pulang?"
Alvi tidak menjawab, matanya menjurus tepat pada iris cokelat Lula, "Jadikan gue sebagai temen lo." pintanya.
Kedua alis Lula bertaut, "Hah?"
"Jadikan gue temen lo, Alula." ulang Alvi memperjelas, "gue bisa jadi temen lo."
Kata Dera, jika Lula menganggap seseorang teman berarti seseorang itu ada tempat tersendiri di hidupnya. Alvi juga tidak terlalu mengerti apa maksud dari kata-kata itu. Namun hanya untuk membuktikan, tidak ada salahnya 'kan?
"Teman?" cicit Lula pelan dengan nada yang terdengar kosong.
"Susah ya?" tanya Alvi.
Lula terdiam lalu menarik senyum miris, mendengar pertanyaan Alvi semakin membuatnya merasa begitu menyedihkan masalah pertemanan.
"Lo butuh istirahat." alih Lula tidak ingin membahas masalah teman.
"Alula," panggil Alvi lirih, berpikir keras bagaimana caranya agar Lula mengerti keadaan saat ini. Ia sangat yakin bahwa Reo ingin menjadikan Lula umpan untuk menariknya. "Gue serius."
Lula meremas roknya, "Kenapa harus teman?"
"Supaya gue bisa melindungi lo."
Sungguh, Lula ingin tertawa keras saat ini. Terlebih mendengar jawaban Alvi yang menggelikan. Melindungi? Lula tertawa keras dalam hati.
"Bukannya harus jadi temen lo dulu supaya gue punya ruang di hidup lo?" celetuk Alvi.
Lula membuang pandang, "Gue buruk dalam pertemanan."
"Siapa yang peduli?" Alvi menyahut. "Gue nggak peduli." tegasnya.
"Vin,"
"Kenapa, Ul? Segitu susahnya ya jadi temen lo?"
Perkataan Alvi menampar keras pipi Lula, seperti menyadarkan bahwa ia benar-benar buruk dalam berteman. Ingatan buruk di masalalu semakin membuat jantungnya berdegup keras, lalu ditarik paksa keluar dari tempat seharusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Fiksi RemajaAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
