"KENAPA lo ngajak gue kesini?"
Lula membuka helm yang dikenakannya, matanya mengamati sekitar yang dipenuhi oleh berbagai macam bunga dengan aroma khas yang berbeda. Mulai dari bunga warna pink, kuning, putih, biru, merah, hitam, ungu, dan orange.
Harum semerbak dari berbagai bunga langsung menusuk indra penciuman siapa pun yang berada disekitar bunga-bunga tersebut. Meskipun banyak juga bunga tak hidup, seperti bunga plastik yang tidak akan pernah mati.
"Gue pengen minta tolong," Alvi menuntun Lula memasuki toko bunga tersebut, dan membalas sapaan salah satu pegawai yang berdiri di dekat pintu masuk yang menyapa mereka.
"Gue?" Lula menunjuk hidungnya sendiri.
"Gue nggak jago milih bunga buat cewek, makanya gue ajak lo kesini, bantu pilihin."
"Hah?"
Alvi meniup wajah Lula, "Bantu pilihin."
Lula mengerjap, "Buat siapa?"
"Someone."
"Special?"
Alvi salah tingkah, "Maybe, yes."
Lula memandang Alvi sejenak. Ada perasaan aneh melihat Alvi salah tingkah seperti itu, membuat perasaannya jadi tidak enak. Siapa seseorang itu? Alvi memiliki pacar? Atau gebetan? Lula tanpa sadar mendengus, kemudian memisahkan jaraknya pada Alvi, dan melenggang kearah lain yang mungkin dapat menghilangkan perasaan aneh dihatinya.
Lula tersenyum ketika hidungnya mengendus bau harum bunga yang dipegangnya, lalu berpindah ke bunga lainnya, begitu seterusnya. Alvi sendiri memisahkan diri dari Lula, membiarkan Lula mencium satu persatu aroma dari bunga-bunga itu. Hingga akhirnya suara Lula memanggil namanya untuk segera mendekat.
"Itu! Bouquet itu cantik deh, Vin." Lula menunjuk satu-satunya bouquet yang paling menarik dan cantik di dalam rak kaca.
"Yang warna pink merah?" tanya Alvi memastikan bahwa tidak salah menduga.
Lula mengangguk antusias, "Bagus, kan?" dan menoleh kearah Alvi.
"Kenapa nggak yang warna merah semua?" tunjuk Alvi pada salah satu bouquet mawar dipaling ujung.
"Jelek," pendapat Lula, "Bagusan yang tadi juga."
"Emang yang lo pilihin udah yakin bagus? Kan itu menurut lo, bukan menurut yang pengen gue kasih bunga." Alvi berucap sembari tertawa dengan nada bercanda, bermaksud menggoda Lula.
Senyum dibibir Lula langsung hilang, "Ya kalo mau orangnya suka, kenapa nggak disuruh pilih langsung disini, kenapa minta tolong sama gue?" katanya mendadak sewot.
"Nanti nggak surprise dong,"
Lula menahan diri agar tetap terlihat biasa saja, tapi perubahan air muka Lula terlalu kentara dihadapan Alvi, "Kalo gitu, lo pilih sendiri aja." tanpa dikomando, kaki Lula sudah bergerak keluar dari toko bunga.
Alvi tidak mencegahnya. Ia mengedarkan pandangan mencari salah satu pegawai untuk membantunya. Setelah salah satu pegawai perempuan mendekat, Alvi meminta agar bunga yang Lula pilihkan disimpan untuknya, kemudian memberikan kartu ATM-nya untuk melakukan pembayaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Teen FictionAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
