P.s: Hati-hati sesak napas. Part ini mengandung rasa yang tertinggal😋
-----
Natasha: Lula pingsan.
Pesan itu berhasil menyentak dada Alvi keras. Jantungnya seperti ditarik paksa keluar diikuti oleh degup yang tidak bisa Alvi kendalikan. Posisinya yang semula berbaring spontan terduduk. Nyawanya kini seperti diambang kematian, belum terkumpul sempurna karena baru bangun tidur.
Tidak perlu berpikir dua kali bagi Alvi untuk menelpon Nat. Yang semakin membuatnya kalang kabut melihat pada pukul berapa Nat mengirimkan pesan itu. 09.43 wib. Masuk ke ponselnya sekitar pukul empat subuh. Sedangkan sekarang pukul delapan pagi waktu Belanda. Yang artinya, di Indonesia sekarang sekitar pukul satu siang. Alvi mengumpat dalam hati karena telah melewatkan lima jam pesan itu.
"Nat." Alvi berseru panik setelah telepon tersambung, "Gimana ceritanya?" tidak peduli lagi senaik apa nada suaranya. Alvi tidak dapat menutupi rasa khawatirnya.
"Apanya?" dari suaranya Nat tampak bingung. Baru Alvi ingin menyahut, Nat lebih dulu paham, "Chat gue tadi, ya? Iya, tadi Lula pingsan. Lo tenang aja, dia baik-baik aja sekarang. Gue baru aja pulang dari rumah dia." jelasnya panjang. Namun Alvi merasa itu hanyalah kalimat penenang.
"Kok bisa?"
"Nangisin lo." jawaban itu cukup keras menampar Alvi, "Dia tau lo pindah. Dia marah karena nggak tau apa-apa. Lo tau nggak dia pingsan dimana? Di depan rumah lo."
Alvi spontan berdiri dari duduknya. Kakinya hendak melangkah keluar kamar ingin menghampiri Lula, tetapi semesta lebih dulu menyadarkan jika negara yang mereka tinggali tidak lagi sama. Lantas Alvi mengurungkan niatnya dan kembali duduk di atas tempat tidur dengan wajah putus asa.
"Dia tau?" Alvi bertanya pelan yang dibalas dehaman singkat dari Nat. Ia mendesah berat, lalu bergumam, "Nanti gue telpon lagi." kemudian sambungan terputus.
Setelah melakukan empat belas jam perjalanan, Alvi langsung beristirahat. Tidak sempat memberi kabar kalau ia sudah tiba di Belanda karena ponselnya mati total dan dicas semalaman. Ketika terbangun malah disodorkan kabar yang membuat rasa khawatirnya meningkat berkali-kali lipat.
Alvi menatap layar ponselnya yang menampilkan kontak Lula. Ditatapnya kontak itu lama, lalu tangannya meremas ponsel kuat. Menahan diri supaya tidak memperparah keadaan dengan menelpon Lula. Alvi mendesah, melempar ponsel diatas tempat tidur, kemudian mengusap wajah gusar. Rasanya ia ingin kembali tidur dan berharap ketika membuka mata dirinya berada di Indonesia.
Sayangnya itu hanya sebatas harapannya saja. Sebab ekspektasi memang sepahit itu untuk dijadikan realita.
Alvi mencoba berlapang dada, mencoba melupakan amarahnya, menerima orang-orang baru dengan tangan terbuka. Mati-matian Alvi menyesuaikan diri dengan ligkungan barunya, menyesuaikan lidah dengan makanan yang sulit diterima oleh perutnya, atau bahkan belajar bahasa Belanda untuk komunikasi sehari-harinya.
Tidak ada yang spesial. Menunggu masuk sekolah benar-benar membosankan. Alvi mengikuti les privat bahasa agar tidak terlalu seperti orang linglung saat masuk sekolah. Les, pulang, makan, tidur. Itu dilakukannya setiap hari. Alvi merasa hidupnya terlalu monoton, tidak menarik dan begitu membosankan.
Seringkali Alvi mengingat Lula. Tidak jarang ia menanyakan keadaan Lula pada Arka atau Zio dalam bentuk rahasia, tak boleh Lula mengetahuinya. Katanya, Lula lebih banyak melamun dan jarang keluar kamar. Berat badannya juga menurun karena tidak napsu makan. Mendengar ceritanya saja membuat dadanya seperti tertikam pisau tajam. Alvi merasakan sakit dalam diam. Sesekali Alvi bertanya pada Nat mengenai Lula. Tetapi karena libur sekolah Nat tidak begitu tahu apa saja yang dilakukan Lula. Dera memang teman baik Lula disekolah, tapi bertanya pada Dera sama saja memasukannya ke kandang singa. Dera tidak mungkin tutup mulut meski Alvi meminta. Dan bertanya pada Deon sama sekali tidak ada di daftar keinginannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Teen FictionAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
