45 - Truth or Drink

7.5K 520 28
                                        

SUASANA mendadak hening setelah kepergian Lula maupun Deon. Beku menyelimuti, hingga menarik kepala Nat untuk menoleh pada Alvi yang masih berdiri mematung menatap nanar pintu ruang rawat yang tertutup.

"Al?" panggil Nat parau, bermaksud menyudahi kebekuan di ruangan ini.

Alvi menghela napas panjang, lalu Alvi menoleh pada Nat sambul tersenyum setelah berhasil menguasai diri. "Kenapa?"

"Lo nggak mau susul Lula?" tanya Nat hati-hati, "Sebelum jauh." Ia menunjuk pintu ruang rawat dengan dagu.

Alvi menggeleng, "Nggak." lalu berjalan menuju nakas, meraih plastik putih yang di dalamnya terdapat soto.

"Lula ... dia,"

Alvi menoleh tak acuh, "Biarin aja."

Kedua alis Nat bertaut, "Kenapa?"

Sudut bibir Alvi tertarik, membentuk senyum geli. Lalu tawanya meledak begitu saja, membuat Nat mengangkat sebelah alisnya bingung.

"Alula cemburu nggak sih?" bukannya menjawab Alvi malah balik bertanya, kemudian menuangkan soto kedalam mangkok kosong. "Jadi biarin aja. Guenya aja yang bangsat pura-pura nggak tau."

Nat terperangah sesaat, "Tapi dia nangis." katanya kikuk.

Alvi meletakan mangkok soto di overbed besi pasien, lalu membantu Nat untuk memposisikan diri.

"Gue bangsat banget emang." Alvi tertawa kecil, "Gue liat dia nangis, gue tau dia nggak bisa liat darah. Tapi gue diam aja. Bangsat, kan?"

Nat hanya mengangguk sambil menyuap sesendok soto kedalam mulutnya.

"Biar gitu hati gue tetep princess kok, karena kalo bidadari udah biasa." Alvi menegak setengah air mineral diatas nakas, "Nggak tau aja tadi mati-matian gue nahan diri buat nggak nonjok si Deon udah berani bawa Lula kesini. Sengaja pasti. Biar bisa nyolong start."

"Start?"

"Nggak." Alvi menggeleng tanda tak ingin memberitahu lebih rinci, "Nih, minum." ia menyodorkan sebotol air mineral yang langsung di terima baik oleh Nat.

"Lo sesuka itu sama Lula?" tanya Nat ragu. Aneh memang menanyakan hal seperti ini pada seseorang yang pernah hadir di hati. Agak canggung, dan ... pasti tahu sendiri rasanya seperti apa.

Begitu pula dengan Alvi, mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang Natasha--yang statusnya kini mantan pacar-- rasanya sangat aneh. Alvi jadi bingung sendiri mau menjawab apa. Tapi tetap saja, bibirnya bergerak sendiri tanpa di komando.

"Sesuka itu."

-----

Lula bergegas turun setelah mobil berhenti di perkarangan rumahnya. Di sepanjang perjalanan menuju rumah Lula tidak berhenti menangis. Deon berulang kali bertanya, tapi berulang kali pula Lula tidak menyahuti.

"Sore neng Lula..." sapa hangat Pak Rudi dengan senyum lelah di wajahnya yang terabaikan begitu saja oleh Lula. Pak Rudi mengernyit bingung, tidak biasanya Nona Muda rumah ini pulang dengan wajah seperti itu. "Neng Lula kenapa mas, Deon?" tanya Pak Rudi penasaran.

Deon hanya tersenyum tipis sebagai respon, kemudian menyusul langkah Lula yang sudah memasuki rumah. Namun langkahnya kembali tertahan saat tangan seseorang menarik kasar kerah baju seragamnya.

Hello A : Alvino & AlulaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang