9 - Hemophobia

13.8K 753 16
                                        

SEPERTI dua hari sebelumnya, pagi ini Alvi kembali mengikuti mobil Lula dari belakang menggunakan motor hitam besarnya. Meski sudah ditolak berkali-kali oleh Lula untuk pergi ke sekolah bersama, Alvi tidak pantang menyerah. Dengan segala ide gilanya, Alvi memilih ide mengikuti mobil Lula dari belakang.

Kata Alvi, "Anggap aja kita pergi bareng, Ul. Bedanya, lo naik mobil, gue naik motor."

Lula menolehkan kepala ke belakang guna melihat Alvi yang ternyata masih setia di belakang mobilnya, sama sekali tidak berniat memotong. Lula kembali menghadap depan, lalu mendengus, ia tidak habis pikir mengingat tadi Alvi sudah standby di depan rumahnya.

"Hai, tetangga." sapa Alvi dengan cengiran setelah Lula keluar dari dalam rumah.

Lula nampak terkejut, "Lo-"

"Ganteng." Alvi menyela lalu senyum, "Makasih... lo juga cantik." sambung Alvi kalem.

"Gue nggak mau berangkat bareng lo!" sergah Lula cepat, tahu maksud Alvi pagi-pagi datang kemari. Serta pesan-pesan yang Alvi kirimkan tadi malam untuk mengajaknya pergi bersama.

Alvi tertawa, "Tetangga bisa geer juga. Siapa juga yang mau ngajakin bareng?"

"Terus ngapain disini?" balas Lula.

"Mau nyapa bidadari bumi," celetuk Alvi asal, "Selamat pagi tuan puteri." ia menunduk dengan tangan di depan perut, berlagak seperti prajurit yang mempersilahkan Ratunya.

"Apaan deh."

Alvi cengir, "siapa tau yang nyapa nyangkut di hati."

Buku paket di tangan Lula melayang begitu saja ke bahu Alvi, "Dasar psikopat!"

Sudut bibir Lula tertarik mengingat itu, lalu kepalanya kembali menoleh ke belakang. Senyum diwajahnya sirna, tergantikan oleh kerutan samar di dahi melihat motor Alvi tak lagi mengikuti mobilnya. Lula berbalik, mengedarkan pandang keseluruh jalan raya. Siapa tahu, diantara ramainya kendaraan, ia dapat menangkap motor Alvi.

Namun ternyata, Alvi benar-benar tidak ada.

-----

Alvi melambaikan tangannya pada Lula yang terus-menerus menoleh ke arah belakang, lalu terkekeh pelan melihat Lula membalikan tubuh menghadap depan dengan cepat. Meski Alvi tidak berhasil mengajak Lula pergi bersama ke sekolah, mungkin mengikuti mobil Lula selama dua hari berturut-turut dapat membuatnya luluh.

Mata Alvi melirik spion mendengar suara motor meraung-raung seperti sengaja memancingnya untuk melirik, ia melambatkan laju motornya melihat siapa si pengendara motor.

Dugaan Alvi tepat sasaran, ternyata motor itu memang tertuju untuknya. Motor Alvi hampir oleng ketika ban belakangnya di serempet oleh motor dibelakang.

Alvi menoleh penuh emosi, "Bangsat!" makinya keras, pandangannya beralih pada mobil Lula yang sudah menjauh.

Motor di belakang semakin meraung kencang, membuat Alvi mengeraskan genggamannya pada stang motor. Alvi berusaha memadamkan emosi yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Namun sepertinya, si bajingan itu tidak merasa puas jika Alvi belum terkubur oleh tanah.

"Pengecut!" teriak si pengendara motor yang berusaha mencelakai Alvi.

"Lo yang pengecut brengsek!" balas Alvi tidak terima. "Lawan gue! Jangan berani sembunyi tangan lo anjing!"

Hello A : Alvino & AlulaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang