SALAH satu yang paling Lula takutkan didunia ini; ketika membuka mata semua berubah dalam sekejap.
Dulu, ketika Deon pergi meninggalkannya tanpa sebab, Lula mencari kesana-kemari pada semua orang yang mengenal Deon alasan mengapa Deon pergi, dan ketika semua orang menjawab tidak tahu Lula memiliki secercah keyakinan bahwa Deon pergi karena memiliki alasan yang tidak dapat diberitahukan kepada orang lain.
Dan akhirnya keyakinannya terbukti. Kedua orang tua Deon bercerai, dan itu sebabnya Deon memilih ikut keluarga barunya ke Australia.
Hari ini, kejadian itu terjadi lagi. Dengan perihal yang sama, namun keadaan yang berbeda. Kali ini Lula tidak memiliki sedikit pun jawaban mengapa Alvi tiba-tiba pergi tanpa ada ucapan.
Baru kemarin mereka bertemu, baru kemarin Alvi mengajaknya ke dermaga, baru kemarin Alvi menggodanya, baru kemarin Alvi berjanji ingin memberinya hadiah, baru kemarin.... namun mengapa tak sedikitpun kata yang keluar dari bibir Alvi jika dia akan pergi?
Jika waktu itu tidak ada satupun yang mengetahui alasan mengapa Deon pergi, kali ini ada Nat yang mengetahui kemana Alvi akan pergi. Sampai-sampai Nat rela mengatar Alvi yang-entah-akan-kemana.
Dera is calling....
Mata Lula beralih pada ponsel yang berdering digenggamannya. Nama Dera tertera dilayar ponsel. Ditatapnya ponsel itu dengan pandangan kosong hingga panggilan itu berakhir.
Lula masih belum mempercayai ini. Diceknya log panggilan namun tidak juga menemukan nama Alvi disana. Kemudian beralih ke room chat tapi Alvi tidak juga mengirimnya pesan.
Setelah log panggilan dan room chat, Lula beralih membuka kontak diponselnya. Mencari nama Natasha dengan tangan bergetar. Kemudian telepon tersambung. Pada dering terakhir barulah telepon diangkat.
"Hallo?" suara berat khas bangun tidur menyahut.
"Alvino pergi kemana?" tanpa basa-basi Lula langsung menembak point tujuan dirinya menghubungi Nat.
Sedangkan Nat tidak menjawab.
"Jawab, Nat!" sebisa mungkin Lula mengimbangi suaranya agar terdengar setenang mungkin. Namun keadaan seolah menekannya, memaksanya berpikir hingga membuat suaranya terdengar bergetar.
"Lo tenang dulu," itu jawaban Nat, "Gue nggak bisa cerita ditelepon. Kita bisa ketemu?" suara tenang Nat semakin membuat Lula meradang. Rasanya sakit.... sungguh.
"Siapa aja?" Lula meremas kuat ponsel digenggamannya, menggigit bibir bawah kuat mencoba menyeimbangi emosinya, "Siapa aja yang tau dia pindah?" lanjutnya bersamaan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lula-"
Lula memutuskan sambungan secara sepihak. Kemudian mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca dengan punggung tangannya sebelum beranjak dari atas tempat tidur. Dikenakannya sweater dan tas kecil sebelum keluar dari kamar. Dengan tergesa ia berlari keluar rumah, menyusuri jalanan komplek hingga akhirnya menemukan taksi.
"Abang..." desis Lula. Bahkan ia lupa memberitahu Arka. Detik selanjutnya ia menyadari jika ponselnya tertinggal di atas tempat tidur. Pasti Arka khawatir karena ia menghilang sepagi ini. Lula mendesah, mengusap wajah gusar. "Maaf abang."
Lula benar-benar ingin menangis.
-----
"Deon!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Teen FictionAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
