Dari dermaga hingga mereka duduk di atas motor ini, Alvi tak sekalipun buka suara. Tak menjawab permintaan Lula, hanya menarik tangan Lula mengajaknya pulang ke rumah. Disepanjang perjalanan pun Alvi tidak menoleh ke belakang atau sekedar melirik kaca spion seperti yang selalu dilakukannya ketika membonceng Lula. Tidak juga berguyon dan berceloteh hanya untuk mencairkan suasana. Alvi lebih memilih membeku, diam, tanpa jawaban.
Lula yang dibelakangnya pun ikut bungkam. Meski berbagai pertanyaan timbul dan mendesak didalam kepalanya. Namun suasana beku ini mencekiknya untuk tetap diam, sehingga pertanyaan-pertanyaan dikepalanya harus disimpan tanpa jawaban.
Lula hanya takut... kejadian satu tahun silam terjadi kembali.
Berkali-kali Lula meyakinkan perasaan buruknya tidak akan terjadi. Menepis segala kemungkinan yang diciptakan oleh otaknya sendiri.
Mengapa Alvi bersikap seperti ini? Mengapa Alvi berbicara seolah mereka tak akan bertemu lagi? Apa yang terjadi selama mereka tak dekat lagi? Atau mungkin ada sesuatu yang tidak Lula ketahui?
Masih ada banyak mengapa di dalam kepala Lula sehingga memaksanya untuk tetap diam tersumbat oleh pertanyaan-pertanyaan mengerikan itu.
Hingga akhirnya motor berhenti di depan rumah besar yang begitu Lula kenali. Rumahnya. Rumah lamanya. Dalam keadaan mesin motor masih meraung, Lula belum juga memberi gestur akan turun dari motor.
"Masih pengen jalan, ya?" dengan kepala menoleh kesamping, Alvi mengeluarkan suara setelah kebisuan panjang.
Lula diam. Matanya memperhatikan Alvi sejenak sebelum akhirnya menarik napas dalam. Kemudian turun dari atas motor dan berdiri disisi motor.
Alvi membuka kaca helm, "Kirain masih mau jalan." godanya, "Panas, Ul, besok-besok ya. Tapi nggak janji." cengirnya.
Lula mengangguk kecil. Mengangguk menyakinkan hatinya bahwa perasaan buruknya tidak akan terjadi.
"Hadiahnya nyusul, biar suprise." kata Alvi lagi.
Kedua alis Lula bertautan, "Hadiah apa?" tanyanya. Sekaligus merobek bisu yang menjadi dinding tipis tenggorokannya.
"Karena lo udah jadi yang terbaik di kelas. Guru aja ngasih lo hadiah, masa gue enggak. Iya kan?" Alvi bertanya, lebih terdengar seperti seseorang yang cemburu karena dikalahkan oleh orang lain.
Lula menarik senyum tipis, "Apa sih."
Alvi terkekeh, "Gue pulang ya." kata Alvi akhirnya yang hanya diangguki oleh Lula.
Lula pikir setelah mengatakan itu Alvi akan langsung berlalu pergi membawa motornya. Namun nyatanya cowok itu diam membiarkan motor tetap menyala. Matanya menatap Lula dalam, dengan bibir yang membisu seakan ada sihir yang membuat Alvi menjadi patung secara mendadak.
Ditatap seperti itu Lula mengelua lehernya bingung, "Kenapa?" tanyanya dengan satu alis terangkat.
Alvi tak langsung menjawab. Seperkian detik berlalu barulah Alvi membuat motornya meraung keras. Alvi menarik gas tanpa memasukan gigi motornya hingga menimbulkan suara yang begitu memekakan. Lalu pergi meninggalkan Lula yang terdiam seribu bahasa.
Terdiam dengan jantung berdegup kuat.
Bukan tanpa alasan Alvi melakukan itu.
Suara raungan motor itu seakan sengaja dilakukan supaya Lula tidak mendengar apa yang Alvi katakan. Ditengah suara raungan motor, jelas Lula mendengar jika Alvi mengatakan, "Gue pasti balik lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Teen FictionAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
