SATU yang dapat Lula simpulkan mengenai Alvi selama duduk kurang lebih setengah jam di meja makan ini, bahwa Alvi tipe orang yang tidak bisa diam barang semenit saja.
Meja makan terisi oleh enam orang, tiga diantaranya lebih banyak diam mendengarkan, sedang tiganya lagi berceloteh tanpa henti. Alvi dengan ringan menceritakan tentang dirinya jika Mama bertanya Alvi tipe seperti apa. Well ... salahkah jika Lula menilai bahwa Alvi lebih banyak bercerita mengenai keburukannya?
Seperti tentang bagaiman dulu saat SMP Alvi pernah di drop out karena terlalu sering membuat onar, tentang Alvi menaruh permen karet di bangku guru baru yang berakhir mendapat surat panggilan orang tua, tentang Alvi yang di kurung selama satu minggu oleh Bunda karena terlibat tawuran, tentang Alvi yang sering tidur saat jam pelajaran berlangsung, tentang Alvi yang setiap pagi selalu menjadi tukang bersih sekolah karena di hukum, dan masih banyak tentang-tentang lainnya yang Alvi ceritakan.
Termasuk tentang tugas matematika dari Pak Reto.
"Memangnya Alvi paham ngerjain matematika?" tanya Mama penasaran, melihat itu batin Lula meringis. Lihat saja sebinar apa mata Mamanya jika melihat Alvi.
"Anugerah kalo saya paham mah," balas Alvi.
"Tipe-tipe anak badung mana mau ngerjain soal." sahut Arka tertawa, yang di angguki oleh Alvi, "masuk sekolah aja syukur." sambungnya lagi.
"Kalo sekolah paling tiap pagi jadi tukang bersihin rumput sama toilet, pas masuk kelas eh ... di suruh push-up karena telat." cerita Alvi acuh tak acuh.
Mama tertawa begitu pula dengan Arka, "Jadi gimana ngerjain soalnya? Bukannya besok di kumpul?" tanya Mama perhatian.
"Bolos aja, tan." Alvi menyahut enteng, "Nanti minta di buatin surat sakit sama temen kelas." sambungnya.
"Janganlah, masa gitu aja mau bolos?" bantah Mama setelah meminum air putih, kemudian matanya beralih pada Lula, "Alula pinter loh matematika."
Mendengar namanya disebut, Lula tersedak air putih yang baru berjalan diujung tenggorokannya. Air tersebut merambat naik ke ubun-ubunnya, membuat kepala Lula di gerogoti oleh rasa nyeri. Wajahnya merah padam, Dera yang kebetulan duduk di sebelahnya dengan sigap menepuk-nepuk punggungnya.
"Kamu nggak apa-apa, dek?" tanya Arka panik, menyodorkan tisue mana tahu di butuhkan oleh Lula.
"Pelan-pelan, La." tegur Zio melihat mata adiknya berair.
Lula menggeleng entah baik-baik saja atau sebaliknya. Setelah merasa cukup, Lula beralih menatap Mamanya.
"Mama, aku nggak pinter matematika!" seru Lula masih berusaha meredam nyeri di kepalanya.
"Kamu pernah ikut OSN Matematika loh, nak. Nilai kamu juga bagus-bagus di sekolah. Mama nggak asal bicara loh," sergah Mama.
"Gue nggak nyangka lo sepinter itu, Ul." sahut Alvi senyum-senyum.
"Ul?"
Semua yang berada di meja makan--kecuali Alvi dan Lula-- berseru serentak mendengar ujung kalimat yang di ucapkan Alvi. Lula meringis merutuki Alvi, ia tidak tahu lagi dimana harus meletakan wajahnya.
Alvi menggaruk tengkuknya, "Alula maksudnya."
Mama tersenyum, "Alula keberatan nggak kalo Mama minta bantuin Alvi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Novela JuvenilAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
