Sebelumnya, terimakasih yang masih setia dengan Alvino & Alula, yang masih kangen mereka, yang masih nungguin mereka, yang masih mau ketemu mereka di HELLO A. Terimakasih🖤
Oia,
Hati-hati senyum-senyum sendiri wkwk.
Yang dibawah umur, tolong kondisikan 😅
••••••
"Dingin, ya?" Alvi bertanya pada Lula setelah mereka sampai di depan pintu apartemennya. Raut wajahnya terlihat begitu menyesal, mengajak Lula pergi tanpa melihat cuaca lebih dulu. "Maaf ya."
Lula menggeleng, "Kenapa harus minta maaf?"
"Jadi basah kuyup gini." kata Alvi.
Lula kembali menggeleng, kali ini tubuhnya menggigil, "Nggak papa." yakinnya. Sejujurnya ia tidak suka mendengar Alvi berucap maaf setiap kali hal kecil terjadi padanya. Walau bukan kesalahan Alvi, selalu saja kata maaf keluar dari mulutnya. Seperti ini contohnya. Yang jelas-jelas bukan salah Alvi mereka kehujanan, tapi meminta maaf. Juga, saat tadi mereka tidak jadi makan karena hujan, Alvi meminta maaf pula. Ia tidak suka.
Alvi mengeluarkan card dari dalam dompetnya untuk membuka pintu apartemen. Tangannya sampai gemetar saking dinginnya. Lula yang melihat itu rasanya cepat-cepat ingin masuk dan membuatkan apapun yang dapat menghangatkan tubuh Alvi.
Ketika pintu terbuka dan Alvi hendak masuk, Lula menahan bajunya, "Gue ... gimana?" tanyanya dengan wajah kikuk.
Alvi mengernyit dengan senyum tipis, "Masuklah. Emang mau nunggu diluar sampe kering?" ujarnya gemas sendiri.
"Tapi," Lula menggigit bibir bawahnya, melihat dirinya sesaat sebelum mata cokelatnya beralih pada Alvi, "Basah."
"Nggak papa, nanti dilap aja." kata Alvi. Nyaris tertawa melihat betapa polos pacarnya ini. Rasanya ingin ia gigit.
Lula mengangguk, "Tapi..."
Alvi yang baru saja ingin melangkah masuk kembali menoleh, "Apalagi, sih, sayang?" ujarnya gregetan.
Lula hampir saja ingin guling-guling di koridor apartemen setelah mendengar panggilan itu. Rasanya masih sangat menggelitik perutnya. Wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus.
"Gue boleh masuk?" tanya Lula malu-malu. Ini kali pertama dirinya mampir ke apartemen Alvi. Rasanya dag-dig-dug juga.
Alvi bergerak menghampiri Lula yang masih berdiri diluar pintu, mengamit tangan Lula, menarik masuk, "Boleh dong. Ngapain coba diajak kesini kalo nggak boleh masuk?" katanya setelah menutup pintu, "Mana tega."
Lula mengulum bibirnya. Tentu saja tanpa dilihat Alvi, karena cowok itu sudah melenggang masuk ke dalam kamar. Lalu kembali membawa satu handuk berwarna biru dongker. Pipi Lula terasa panas membayangkan itu adalah handuk Alvi.
Astaga, gue pasti gila! Lula menepis pikiran anehnya.
"Pake ini." Alvi memberikan handuk juga baju kaos abu-abu serta celana pendek sejenis boxer. "Nggak papa, kan, untuk sementara pake itu dulu?" tanyanya, "Itu satu-satunya baju yang ukurannya paling kecil dilemari, kalo celana mungkin muat kali, ya, karena pinggangnya karet?" ujarnya dengan wajah meringis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Teen FictionAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
