ALVI memutar rubik berulang kali menjadi warna acak, kemudian di ubahnya lagi menjadi warna utuh. Ia belum membuka suara, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya yang ingin tahu. Tatapan matanya sulit di definisikan, sama sekali tidak terbaca, bahkan saat ini dapat di pastikan kalau orang-orang tidak berani mendekat kearahnya.
Alvi marah.
Alvi sangat marah Kirana menciumnya.
Alvi semakin marah ketika di ingatkan kembali pada kejadian itu.
"Al!" Danu berlarian dari luar kelas menuju bangku yang di duduki oleh Alvi, napasnya terengah, setelah berhasil menguasai diri ia menepuk pundak Alvi, "Gila lo anjir."
Alvi tidak menyahut, masih berfokus pada rubik dengan emosi yang tertahan di dalam hatinya. Dan jika di paksakan, emosi itu pasti meledak di atas kepalanya.
"Maunya sih biasa aja, tapi udah nggak biasa lagi kalo gini!" seru Danu heboh sendiri, membuat murid yang berada di kelas mencuri dengar. "Lo sama Kirana..."
Tak.
Rubik yang Alvi pegang di hempas kuat di atas meja. Alvi menatap Danu memperingatkan, bahwa ia tidak ingin mendengar nama perempuan ular itu.
"Woeee, santuy!" Danu mengelus dada Alvi, "Iya gue percaya sama lo jing, tapi keadaan memaksa buat gue buta." lanjutnya dengan wajah mencoba serius.
Kejadian di koridor dua jam lalu membuat heboh satu sekolah, berita Kirana mencium Alvi menyebar dari mulut ke mulut. Alvi mencoba tutup telinga, tapi telinganya terlalu panas mendengar 'cerita' yang tidak seperti orang-orang lihat. Selaku teman Alvi, Danu tentu langsung bertanya, dan Alvi menjawab fakta yang sama sekali tidak melebih-lebihkan.
"Yakin dia nggak cium bibir lo?"
Alvi menoleh sambil mengangkat alis tak terima kalau sahabatnya sendiri meragukan ucapannya.
"Gini loh," Danu menghela napas, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Gue percaya jing sama lo yaelah jangan tatep gue gitu kerak jigong!" Ia tak terima di tatap seperti terdakwa oleh Alvi.
"Terus?"
"Lo bilang kalo dia bukan cium bibir lo, kan? Tapi Al, sumpah, siapapun yang liat foto ini pasti salah paham. Begitu juga gue, eittt... tunggu! Jangan marah dulu, gue percaya ya sama lo, inget!" Danu menunjukan foto di ponsel milik Toyib--anak kelas sepuluh-- yang ia rebut paksa di kantin lima menit lalu.
Alvi mengatupkan bibirnya dengan gigi bergemeletuk, garis wajahnya berubah keras setelah melihat foto yang Danu tunjukan. Ia berupaya sekeras mungkin agar tidak meledak sejak tadi, namun foto itu menggagalkan upayanya agar tetap diam, foto itu cukup meyakinkan bahwa emosinya memang pantas di ledakan.
Yang terlihat dari foto di ponsel itu Kirana mencium bibir Alvi.
"Al,"
Suara seseorang berhasil melunakan rahangnya, Alvi menoleh kesamping dan mendapati Nat sedang berdiri dengan wajah tak percaya.
"Tentang lo sama--"
"Lo percaya sama gue, kan?" Alvi menyela cepat dengan suara terdengar memohon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Novela JuvenilAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
