P.s: yang lupa, mohon baca sekilas part sebelumnya. Dan abaikan aja title dipart ini bcs aku sendiri bingung mau kasih judul apa. Jangan lupa vote, komentarnya ditunggu yaa!^^
-----
"Lo, kan?!" tuding Alvi dengan intonasi penuh penekanan, napasnya memburu akibat berlari dari parkiran ke bangunan kelas dua belas. Ditatapnya lawannya dengan sorot berapi-api. Bom yang sejak tadi digenggamnya siap dilemparkan, "Gue nanya setan!" suaranya meninggi, urat lehernya mencuat seperti hendak putus.
"Jangan kurang ajar lo!" meski hanya beberapa orang di dalam kelas ini, di perlakukan Alvi sedemikian rupa seolah mematahkan harga dirinya. Agar tidak terlihat lemah, didorongnya bahu Alvi kuat, "Junior aja belagu lo!" makinya tidak tahu malu.
Alvi menggertakan giginya, tidak terima bahunya didorong. Apalagi kali ini bukan kesalahannya. Alvi menepis kuat tangan lawannya yang bernama Aldo--pernah hampir berkelahi di kantin dengannya waktu itu-- "Anjing!" Alvi menarik kerah seragam Aldo kuat, "Maksud lo nyebar foto itu apaan?! Nyari ribut?!"
Emosi Alvi meledak. Beraninya cowok brengsek ini menyentuhnya! Mencari keributan bukan kemauan Alvi. Tetapi jika disenggol lebih dulu, terpaksa harus melempar batu. Macan yang tenang tak mungkin maraung jika tidak diganggu.
Seharusnya hari ini Alvi tidak pergi ke sekolah. Berada di sekolah hanya membuatnya muak. Namun pesan yang dikirim teman-temannya serta obrolan grup angkatan sekolah tidak dapat Alvi abaikan begitu saja. Foto yang tersebar menjadi bahan guyonan dan olokan tiga angkatan sekaligus.
Terlebih lagi foto yang tersebar tidak sesuai kenyataan. Alvi merasa terbakar, darahnya mendidih, emosinya meradang setelah mengetahui siapa dalangnya. Alvi benar-benar merasa dipermalukan!
Aldo mendorong bahu Alvi keras hingga termundur dua langkah, "Kalo iya mau apa lo?!" balasnya menantang, membuat Alvi semakin meradang.
"Setan!" Alvi mengumpat, wajahnya merah padam. Dilemparnya salah satu kursi kayu dikelas ini kesembarang arah. Mengundang pekikan saling bersahutan dari para siswi. Alvi maju menarik kerah seragam Aldo, dalam sekali pukulan Aldo jatuh tersungkur.
Melihat temannya jatuh tersungkur, teman kelas Aldo tidak tinggal diam. Beberapa diantara mereka bergerak maju sembari menunjuk Alvi dengan mata menyala-nyala, "Jangan sok jagoan!" teriak salah satu diantara mereka yang tidak Alvi ketahui namanya namun sering terlihat dimatanya.
Bukannya merasa takut, Alvi malah semakin tertantang. Alvi mengangkat tinggi dadanya angkuh, lalu mendorong mereka dengan dadanya yang berlagak sok menjadi pahlawan Aldo, "Kalo gue jagoan mau apa lo?!" tak terpisahkan jarak, mata Alvi beradu tajam menatap lawannya. Meski tidak mengenal, Alvi tahu persis siapa-siapa yang paling yang paling keras menertawakannya di room chat angkatan. "Jangan jadi pengecut!" Alvi menyorot Aldo bengis, "Kalo punya nyali lawan gue sendiri jangan pake kawan!" ujarnya remeh, sama sekali tidak memedulikan orang lain selain Aldo. Kata 'kawan' sengaja ia tekankan agar teman-teman Aldo segera menjauhi circle yang diciptakannya, "Gue juga punya kawan. Jauh lebih banyak dari lo. Tapi gue nggak sepengecut itu buat bawa mereka ke masalah gue."
Tepat sasaran. Aldo merasa tertampar. Harga dirinya benar-benar dilukai oleh Alvi. Merasa emosinya diuji, Aldo bergerak maju mendorong siapapun yang menghalanginya mendekati Alvi. Dalam sekali ayunan, bogeman itu melayang telak dirahang tegas Alvi.
Keadaan semakin riuh, suasana terasa begitu mencengkam. Suara langkah kaki berlarian berlomba-lomba mendekat. Lama-kelamaan udara terasa pengap lantaran ruangan mulai disesaki oleh segerombolan murid yang menyaksikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Teen FictionAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
