59 - Pindah

8.2K 527 52
                                        

"DEON ... kira-kira kita bisa bareng-bareng terus nggak, ya?"

Mendengar pertanyaan itu, Deon beralih menatap Lula. Sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Deon menyahut bingung, "Kenapa nanya gitu?" tanyanya kemudian.

Lula cengir sembari menggeleng, "Enggak apa-apa," balasnya kemudian memasukan suapan es krim terakhir ke dalam mulut, "Katanya, 80% persahabatan antara cewek dan cowok mustahil terjadi. Pasti salah satunya ada yang melibatkan hati. Pasti kamu, ya?"

Deon mengangkat sebelah alisnya mendapat tuduhan seperti itu, tubuhnya menegak tak terima, "Kok gue?"

Lula menjauhkan mangkok es krim yang sudah kosong dari hadapannya kemudian bertompang dagu menatap jutek Deon, "Soalnya nggak mungkin aku." tekannya cemberut, kedua bola matanya berputar ke atas, berpikir. "Kalo itu terjadi, udah pasti kamu." lanjutnya yakin.

Deon kembali menyadarkan tubuh, bibirnya tertarik membentuk senyum mencibir, "Ngapain juga gue suka sama lo." protesnya pada pemikiran pendek Lula.

Rasanya Deon ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. Meski sekarang umur mereka masih empat belas tahun, atau bahkan sepuluh tahun kemudian, Deon tidak berniat menyukai Lula sedemikian rasa suka antara lelaki dan perempuan.

"Lagian lo dapet teori kayak gitu darimana, sih?" tanya Deon risih.

"Dari abang Arka." Lula menyahut polos, detik berikutnya garis wajahnya berubah penasaran, "Kamu serius nggak suka aku? Kita udah sahabatan bertahun-tahun loh." lanjutnya mencoba memastikan, matanya juga memicing curiga.

Deon mendengus. Dasar Arka. Pasti dia yang meminta Lula menanyakan hal-hal seperti ini. Pantas saja Deon merasa aneh ketika Lula bertanya hal seperti tadi.

"Gue suka sama lo lebih dari 'suka' yang lo maksud." balas Deon.

Tubuh Lula menegak dengan mata berbinar, "Berarti suka banget dong?"

Deon berdecih sambil tersenyum, "Iya, suka banget. Puas nggak?" cibirnya, "Lo udah gue anggep kayak adek sendiri, La. Enggak mungkin suka, tapi kalo sayang sih bisa jadi." sambungnya membuat pipi bulat Lula memerah.

Benar. Deon ... hanya menyukai Lula sebagai seorang sahabat.

"Berarti teori yang abang Arka kasih salah dong? Buktinya kita yang udah sahabatan bertahun-tahun aja nggak saling suka."

Deon menarik senyum miring, lalu beralih memainkan ponselnya.

"Lagian, kalo kamu suka sama aku, kayaknya cinta kamu bertepuk sebelah tangan deh. Soalnya kamu bakal aku tolak. Maaf ya, tapi kamu harus tau, kalo aku nggak bakal pernah mau jadi pacar kamu."

Deon hanya berdeham tidak begitu menanggapi. Menurutnya, Lula hanya meracau sesuai keinginannya. Lagipula, memangnya siapa yang ingin memacari sahabat sendiri?

Lula mencondongkan tubuhnya dan menoel tangan Deon, "Tanya dong kenapa!"

Deon terpaksa mengangkat kepalanya menatap wajah cemberut Lula, "Kenapa?"

Lula melebarkan senyumannya, "Soalnya kakak nggak mungkin suka sama adiknya." godanya mengingat perkataan Deon tadi, "Eh salah, soalnya aku nggak mau putus. Nanti kalo pacaran bakal putus terus musuhan. Aku nggak mau musahan sama kamu." koreksinya.

Hello A : Alvino & AlulaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang