67 - Bersama Sebentar

4.8K 503 112
                                        

Ps: chapter ini sangat panjang, sediakan kopi supaya gak ngantuk, siapkan cemilan supaya gak bosen. Happy reading!

------------

CLASS meeting berakhir. Serunya perlombaan, dan bosannya menunggu hasil ujian berakhir sejak kemarin. Ini adalah hari sabtu, hari yang paling sering dijadikan sebagai hari untuk pembagian raport anak sekolah.

"Selamaaaaaaaaat Alula-ku sayangg!!" Dera melompat memeluk Lula setelah kelas bubar dengan pengumuman bahwa sekolah diliburkan hampir tiga minggu lamanya, "Akhh nggak nyangka lo bisa dapet juara satu! Mimpi apa gue punya temen deket pinter banget?!" pekiknya girang dengan wajah berbinar bahagia tanpa dibuat-buat.

Lula sendiri hanya senyum, karena ini bukan yang pertama kalinya. "Jangan lebay deh." kekehnya pelan.

Dera menggeleng dengan ekspresi menyangkal, "Gue bangga tau punya temen pinter. Seumur-umur, temen gue tuh kalo nggak bolot ya o'on. Makanya seneng banget liat lo maju jadi juara kelas. Lo harus traktir gue pokoknya!" puji sekaligus permintaan yang membuat Lula menggeleng geli.

"Tuhkan ada maunya."

"Ihhh Lula....." Dera cemberut, "Sebagai perayaan, ditraktir pisang goreng depan sekolah juga nggak apa-apa, kok."

Lula tertawa, "Mau ditraktir apa?"

Wajah Dera berbinar cerah, ia tampak menimang-nimanag, "Nggak perlu mahal, yang penting enak tapi banyak ya!"

Lula memutar kedua bola mata pura-pura sebal, "Itu sih sama aja." cibirnya sembari terkekeh, Dera malah tertawa. Tawanya beriringan dengan bisingnya koridor yang penuh disesaki oleh murid.

Lula menatap hadiah beserta piagam di tangannya, kado yang terbungkus kertas cokelat bertuliskan 'Juara 1' itu membuat kedua sudut bibirnya tertarik sempurna. Tentu saja Lula sangat bangga pada dirinya sendiri, prestasinya meningkat dan mendapat nilai sempurna. Ia tidak sabar memberitahu orang tuanya, kedua kakaknya, Deon, juga Alvi.

Alvi?

Senyum diwajah Lula menghilang. Mata cokelatnya spontan mengedar mencari seseorang yang akhir-akhir ini tidak terlihat lagi dimatanya. Terakhir kali ia melihat Alvi beberapa hari lalu di kelas dua belas karena berkelahi. Setelah itu Alvi seolah lenyap, batang hidungnya tidak terlihat, dan sampai detik ini pun keberadaan Alvi seperti ditelan bumi.

Matanya terus mengedar, namun tak kunjung menemukan tanda-tanda adanya Alvi diantara lautan manusia di koridor ini. Dimana cowok itu? Mungkinkah tidak datang karena raportnya ditahan oleh guru? Pikirannya berkelana dan membuat asumsi guna meredakan kecemasannya.

Cemas untuk apa?

Setelah melewati tikungan koridor, Dera seakan turut merasakan kegelisahan Lula, "Akhir-akhir ini Alvi jarang keliatan, iya nggak sih?" katanya sembari menoleh pada Lula.

Lula tidak menjawab. Hanya mengiyakan dalam hati. Matanya menatap kosong ubin lantai koridor. Hari-harinya tidak cukup baik tanpa Alvi. Kosong, hampa dan terasa membosankan. Meski ada beribu manusia di sekolah ini, tetap saja terasa sepi tanpa adanya Alvi.

Hadirnya Alvi bagaikan cahaya yang menuntun gelapnya jalan yang ia lewati. Setelah cahayanya menghilang, jalannya meredup, membuatnya kembali meraba pada luasnya ruang di depannya.

Hello A : Alvino & AlulaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang