47 - Gerak cepat?

8.2K 477 29
                                        

UNTUK pertama kalinya dalam hidup, Lula merasakan bagaimana rasanya terlambat ke sekolah. Akibat insomnia berkepanjangan karena memikirkan perkataan Alvi seusai permainan truth or drink itu, ia tidak bisa tertidur. Dan matanya baru terpejam saat pukul tiga pagi.

Dan, disinilah Lula berdiri dengan wajah yang menunduk. Mereka--murid yang terlambat-- di bariskan menjadi satu bersaf. Pagi ini matahari lebih terik dari biasanya, membuat kepala mereka menunduk dalam. Beberapa dari mereka menunduk karena tidak ingin bertatap muka langsung dengan Bu Risma yang tatapannya setajam pisau dapur.

"Jam berapa sekarang?" suara Bu Risma memang santai, lembut, dan tenang. Namun mampu memancing bulu tipis mereka meremang.

Semuanya diam.

Ketukan penggaris terdengar begitu keras menghantam paving block, membuat siapapun menahan napas.

"Ini sekolah normal, bukan sekolah tuna wicara. Kalian masih punya suara buat jawab, kan?"

"Iya, bu." jawab mereka serentak.

"Good!" Bu Risma bersidekap, "Jam berapa sekarang?"

"Jam 7.37 Bu." jawab salah satu dari mereka.

"Artinya?"

"Masih pagi, Bu."

Tak!

Semuanya kembali terdiam mendengar suara penggaris yang menghantam paving block. Beberapa dari mereka ada yang menahan tawa, tapi langsung kicep ketika di tatap nyalang oleh Bu Risma--guru BK paling killer di SMA ini.

"Tau kenapa saya menahan kalian disini?" Semuanya mengangguk, "Saya paling anti sama anak yang melanggar peraturan. Jadi kalian boleh pilih satu diantara tiga hukuman ini. Bersihkan toilet, lari dua puluh kali lapangan, atau-"

"Maaf, Bu saya telat."

Bu Risma berbalik ketika mendengar suara di belakangnya, membuat Lula yang menunduk mendongakan kepala guna melihat siapa pemilik suara familier tersebut.

Nat?

Bu Risma melotot sambil mengamati Nat dari atas hingga bawah. Wajahnya terlalu asing, dan ini pertama kalinya ia melihat Nat.

"Kamu nggak tahu sekarang jam berapa?" ucap Bu Risma marah, siap mengeksekusi Nat yang tampak biasa saja.

"Maaf, Bu." ujar Nat merasa bersalah.

Bu Risma memijat pangkal hidungnya, lalu mengibaskan tangan menyuruh Nat bergabung di barisan. Nat berdiri di sebelah Lula kemudian melempar senyum hangat.

"Bersihkan toilet, lari dua puluh keliling, atau membersihkan rumput di belakang aula?" tawar Bu Risma tanpa ampun.

Lula hanya diam, sedangkan yang lain sibuk berdiskusi. Jika membersihkan toilet, mereka tidak tahu seberapa lama harus menghirup racun di dalam sana. Jika lari dua puluh keliling, sudah pasti baju mereka basah oleh keringat. Maka mereka memilih serentak, "Bersihkan rumput, Bu!" karena mereka bisa berleha-leha, kan?

Tapi ternyata tidak, Bu Risma dengan mata elangnya turut mengamati aktivitas mereka.

Semuanya memencar ke seluruh arah untuk membersihkan rumput-rumput yang mulai tinggi, Lula berjongkok lalu mencabuti rumput-rumput itu dengan tangannya.

Hello A : Alvino & AlulaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang