46 - Alvi atau Deon?

7.3K 574 28
                                        

AKIBAT saran konyol sekaligus paksaan Alvi, mereka bertiga duduk melingkar di ruang tengah dengan botol kaca kosong di tengah-tengah mereka, tak lupa kecap asin yang sudah di campur dengan air sebagai drink pelengkap permainan ini.

Deon berulang kali mengumpat, benar-benar tidak berminat mengikuti game semacam ini. Alvi terlalu bekerja keras memaksanya, sehingga mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas ia harus merelakan waktu berharganya untuk hal yang sia-sia seperti saat ini. Andai, seandainya saja Lula tidak mengangguk menerima ajakan Alvi, Deon tidak akan duduk disini.

"Lo yakin mau main game kayak gini?" Deon mendesah keras, bulu halusnya meremang begitu saja ketika melihat sebotol kecap yang sudah di campuri air. Membayangkan kecap itu mengalir di tenggorokannya membuat perutnya terasa mulas. Ini konyol. Dan waktu Deon terlalu berharga untuk hal seperti ini.

"Pengecut banget jadi laki." celetuk Alvi tanpa pikir dua kali, padahal dia juga ragu melihat kecap asin yang sudah di campur oleh air itu. Perutnya ikut bergolak ketika membayangkan menegak kecap yang-entah-seperti-apa-rasanya itu.

"Drinknya bisa di ganti aja nggak? Itu kecap bukan coca-cola." ucap Deon setengah frustasi. Ia sudah kelewat jengkel dengan makhluk bernama Alvino ini. Mengingat bagaimana Alvi membawanya ikut serta dalam game ini membuatnya sedikit menyesal telah datang ke rumah Lula. Bukannya berhasil mengajak Lula pergi, malah bermain ini.

"Kecap itu ... buat di minum?" Lula membuka suara setelah kebisuannya sejak tadi, membuat Alvi menoleh sambil mengangguk-angguk.

"Kenapa?"

Lula menelan ludah, "Tapi-"

"Lo cukup pilih truth, dengan begitu kecap itu nggak bakal lo minum." ujar Alvi menenangkan. "Kalo lo nggak bisa atau nggak siap jawab pertanyaan dari si penanya, lo harus pilih drink."

"Lagian kenapa nggak pilih minuman lain sih?" protes Deon tak suka melihat kegelisahan Lula.

"Nggak seru, lah!" bantah Alvi, "Kalo air putih, sirup, jus doang mah semua orang kagak bakal milih truth, pilihnya drink semua." ia mendengus tak habis pikir. Deon selalu saja memancingnya untuk mengumpat.

"Lo-"

Alvi menyela sebelum Deon memancing nalurinya untuk kembali mengumpat, "Kita mulai!"

Deon menggertakan giginya kesal, lalu menghela napas guna menyabarkan diri. Rasa menyesal mengikuti game ini tumbuh berkali-kali lipat.

Alvi bergerak menuju botol yang berada di tengah-tengah mereka kemudian menatap lawan mainnya secara bergantian. Setelah itu ia memutar botol tersebut cepat, saking semangatnya botol tersebut terpental jauh dari posisi semula.

"Gimana sih?" Deon mencibir pelan, sedangkan Lula yang melihat itu hanya mengulum senyum kecil.

"Botolnya nih yang ngajak beramtem!" Alvi mendecak sambil menghampiri botol tersebut, "sekali lagi mental gue pecahin lo!" ancam Alvi pada botol itu, ia meletakan kembali di tengah-tengah mereka kemudian memutarnya.

Dan botol berhenti tepat mengarah Lula.

"Semalam mimpiin gue nggak?" Alvi menanyakan dengan gaya tengilnya, membuat pipi Lula memanas hingga disebari oleh rona merah.

Lula tampak berpikir lalu menggeleng, "Nggak."

"Kemarin kenapa lo nangis?"

Mendengar pertanyaan dari Deon membuat Lula terperangah sesaat, sama sekali tidak menyangka kalau Deon masih mengingat kejadian kemarin. Lula menelan ludah, tapi dengan yakin ia meyakinkan, "Kena pisau, Deon."

Hello A : Alvino & AlulaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang