HINGGA berumur tujuh tahun, Lula tidak pernah berbaur bersama anak seusianya. Entah itu ikut bermain boneka, petak umpet, lompat kodok, rumah-rumahan, kejar-kejaran, atau permainan yang biasa anak umur tujuh tahun mainkan. Lebih senang menyendiri di dalam kelas, bermain sendirian di rumah dengan boneka-boneka sebagai teman bicaranya, sering juga di temani oleh kedua kakak lelakinya tapi tidak pernah ingin berbaur dengan anak-anak komplek seusianya.
Lula tidak pernah membenarkan jika seseorang menyebutnya sebagai introvert, karena faktanya itu bukan sifatnya--menyukai ketenangan tapi mampu berbaur dengan orang lain-- apalagi anti sosial terhadap dunia, ia bukan seseorang yang memiliki gangguan mental ketika melihat orang lain.
Bisa jadi, dirinya hanya memiliki suatu keperibadian yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sifat itu mengurungnya agar tetap pada dunianya sendiri, seperti tidak ingin membiarkannya terlepas dari kurungan itu.
Hingga akhirnya anak kecil berumur tujuh tahun datang sebagai pahlawan di hidupnya, menjadi temeng perlindungan jika teman seusianya usil dan jahil, menjadi teman bermainnya setiap hari di sekolah, menjadi teman berlari--entah yang baik atau yang buruk, menjadi teman yang mau menemaninya bermain boneka, yang siap kapan pun jika dirinya membutuhkan seorang teman, yang tidak pernah menganggap dirinya aneh karena terlalu sering sendiri, atau yang tidak pernah meninggalkannya disaat benar-benar membutuhkan sebuah sandaran.
Saat itu, untuk pertama kalinya, Lula mendapat sebuah titik terang bahwa makhluk bernyawa bernama teman tidak selalu buruk.
Saat itu, untuk pertama kalinya, Lula memberanikan diri membuka mata melihat bahwa bermain bersama makhluk bernyawa lebih menyenangkan daripada bermain dengan benda tak hidup.
Saat itu, untuk pertama kalinya Lula sadar bahwa Deon orang pertama yang datang dan mengulurkan tangan untuknya, membawanya bangkit dan menegakannya tubuhnya untuk berdiri, mengajaknya untuk melihat bahwa mereka tidak perlu di takuti, atau jika memang dirinya masih berpikir bahwa mereka buruk, setidaknya Lula masih dapat melihat bahwa masih ada satu orang yang tidak seburuk itu, masih ada satu orang yang dapat di percayai sebagai teman, masih ada satu orang yang siap mengiringi langkahnya untuk berjalan, yaitu seorang teman bernama Ladeon Mahesa.
Disaat dirinya sendirian, dirinya tersandung dan jatuh tanpa ada yang berniat membantu, Deon datang dan memegang pundaknya. Seperti anak yang buta akan dunia, Deon menunggunya dengan tenang untuk membuka mata, mengajari bagiamana cara berjalan dengan baik, menuntun langkahnya dengan sabar, menjadi teman berbicara yang baik, membawanya terus berlari sampai Lula berpikir untuk tidak akan pernah berhenti.
Mungkin, karena terlalu senang melihat dirinya berlari, terlalu bahagia megiring langkahnya berjalan, Deon sampai lupa mengajarkan caranya untuk berhenti.
Olehnya, Lula merasa buta di keramaian ketika penyangganya tiba-tiba hilang.
Dan untuk pertama kalinya, Deon mengajarkan arti sebuah kehilangan.
Lula pernah bertanya, "Deon, kamu kenapa sih mau temenan sama aku? Padahal aku nggak seasik mereka. Aku nggak punya temen. Aku nggak punya mainan yang banyak juga."
"Karena gue sama kayak lo."
Hanya itu. Setiap kali Lula bertanya hal serupa, hanya seperti itu jawabannya. Ia masih terlalu kecil memahami ucapan Deon saat itu, dan terlalu telat untuk memahami.
Bahwa Deon kesepian.
_____
Lula berlari melewati lorong rumah sakit yang sepi, kakinya terayun begitu saja setelah menanyakan dimana letak kamar VIP nomor 12. Sadar kalau oksigen di dadanya kian menipis, ia membungkuk, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Gemetar di seluruh tubuhnya terasa sangat nyata, padahal berulang kali ia meyakinkan bahwa ini hanya mimpi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello A : Alvino & Alula
Genç KurguAwalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan tersebut berubah ketika Alvino dan Alula dipertemukan pada insiden kecil di kantin sekolah. #94 in TeenFiction [28/10/18] #2 in FiksiRema...
