53 - Teman dan Cinta

7.9K 556 92
                                        

ALVI berulang kali mengepulkan asap rokok ke udara, membawa terbang isi kepalanya bersamaan dengan asap yang terbang dan melebur tanpa sisa. Namun sayangnya, sepuluh batang rokok tidak mampu menghilangkan suara sekaligus wajah Lula saat tadi menolaknya mentah-mentah.

Sejak turun dari rooftop itu, Alvi langsung membawa semua barang-barangnya di sekolah. Menurutnya, berada di sekolah hanya akan menambah luka di bagian dadanya.

Di apartemen inilah Alvi sekarang, satu-satunya tempat yang terbesit di dalam kepalanya untuk menenangkan pikiran yang kacau. Mungkin, ia bisa saja pergi ke basecampnya sering kumpul, atau pulang ke rumah dengan alibi sakit jika Bunda menanyakan alasannya. Tapi kali ini, Alvi benar-benar ingin sendiri. Menyadarkan diri, bahwa mulai hari ini perasaan Lula terhadapnya hanya sekedar ilusi.

Dan mulai hari ini pula perjuangan Alvi berakhir sia-sia.

Alvi terbatuk, tenggorokannya tiba-tiba terasa gatal. Mungkin karena ia terlalu banyak menghisap tembakau. Baru kali ini ia menghisap sepuluh batang rokok dalam waktu setengah hari. Biasanya, ia hanya menghisap vape, itupun sedikit.

Merasa bahwa batuknya tak kunjung berhenti, ia melangkah ke arah dapur. Dan untunglah, masih ada sisa air di apartemen yang jarang dikunjungi ini. Alvi menegak satu gelas penuh air putih dalam satu tarikan napas, kemudian menjatuhkan diri dikursi meja makan. Bahkan dikeadaan seperti ini, ia masih sulit berpikir jernih. Seolah Lula sudah menyita habis seluruh pikirannya.

Alvi terkekeh pelan, kemudian kembali menghisap rokok ditangannya. Detik berikutnya kepulan asap melambung di udara, "Alula..," cicitnya pelan kemudian menarik senyum masam, "Apa belum cukup bukti kalo gue beneran suka sama lo?" lanjutnya samar, lalu menggeleng, "Enggak, bukan cuma suka, tapi gue sayang sama lo." koreksinya yang langsung ditelan oleh sunyinya apartemen.

Setelah itu Alvi kembali mengisap rokoknya, kali ini lebih panjang dalam satu tarikan napas. Membuatnya kembali terbatuk, merasakan gatal pada paru-paru juga tenggorokannya.

Untuk kesejuta kalinya Lula berhasil menjatuhkan hatinya. Namun kali ini, hatinya benar-benar dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya. Bukan jatuh ketika melihat bagaimana Lula tersenyum, bukan pula jatuh karena menyukai Lula, melainkan jatuh karena Lula yang secara tidak langsung melukai hatinya sehingga membuatnya patah berkeping-keping.

Patah, tanpa tahu siapa yang mampu memperbaikinya.

Sebab, sesuatu yang sudah rusak tidak akan pernah sama lagi meski sudah di perbaiki oleh tangan hebat sekalipun.

Alvi mengacak rambut frustasi sebelum beranjak menuju ruang tengah apartemen ini, kemudian meraih ponsel dan ternyata sudah ada ratusan telepon masuk yang ia abaikan. Namun dari sekian banyak notif tersebut, tak satupun nama Lula muncul dilayar ponselnya.

"Dia udah nolak lo bego." Alvi mengumpat jengkel pada dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti ini, masih bisa-bisanya ia berharap bahwa Lula akan menarik kembali ucapannya.

Baru saja ingin mematikan ponselnya, matanya berhenti pada jam yang tertera jelas dilayar ponselnya. Sekolahnya sudah dibubarkan lima belas menit lalu. Alvi terdiam sepuluh detik menimang-nimang keputusannya, diremasnya ponsel itu kuat, kemudian berjalan tergesa-gesa keluar apartemen menuju lantai lima.

Lantai lima, tempat dimana apartemen Nat berada.

Sebab Alvi merasa bahwa saat ini hanya Nat-lah yang mampu menjadi pundaknya untuk bersandar.

Hello A : Alvino & AlulaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang