Terima Kasih Untuk Endingnya

108 6 0
                                        

Jadi, bagaimana? Hanya aku kan, yang terluka?

Tak apa. Tak perlu lah kau bersikap berpura-pura terluka, karena jika aku tahu begitu nyatanya, terlalu sakit bagiku. Tapi seharusnya kamu tak perlu tertawa setelah memahat luka. Tak perlu kau berpuas hati ketika melihat karya ucapanmu yang terukir di hatiku. Tak perlu. Rasanya sesak.

Ini konsekuensi menyayangimu, bukan? Jika aku tahu akan sesakit ini, mungkin lebih baik mundur dari dulu saja. Ekspetasiku, mencintaimu tak akan sesulit ini. Apalagi untuk melupakanmu. Apalagi, tahu bahwa selama ini hanya aku yang berharap. Apalagi membiasakan diri untuk tak melihatmu. Apalagi tidak saling meracau soal hari-harimu. Apalagi ... Cukup. Aku tak ingin mengeluh yang hanya akan mengingatkanku tentangmu.

Kini, aku dan kamu bukanlah kita. Tak ada lagi kata kita dalam ceritaku, karena tokoh kamu sudah hilang, mengakhiri dialog kita dalam cerita. Karena akan ada tokoh lain yang akan jadi akhir yang bahagia. Mungkin sesekali kamu akan mampir dalam dialogku dengan dia, menjadi seorang masa lalu yang tak ingin aku ingat mungkin? Atau ... menjadi seniman yang memahat luka di hati?

Terima kasih. Terima kasih atas akhir yang menyedihkan.

Today.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang