BAB 25

3K 79 3
                                    

Pemanasan global!


Sudah dua minggu Lucas mengikuti Jasmine ke mana-mana. Pria itu bahkan memuncukkan gosip aneh-aneh banyak kepada Jasmine.

Dan marahnya Jasmine sebelum ke luar dari toilet, bahwa gosip adalah Lucas sedang mendekati seorang gadis dan masih virgin.

Semburat merona merah marah di pipi Jasmine belum pudar sejak ke luar dari toilet. Di perpustakaan sekolah, sialnya Jasmine tidak bisa fokus dan buku-buku dalam antrian ingin ia baca sejak seminggu lalu tak akan bisa ia tuntasakan. Ia benar-benar frustasi jika masih digosipkan terus sepanjang tahun Senior dengan Lucas.

Sebuah pesan muncul pada ponsel Jasmine di meja sebelah kiri. Pandangan Jasmine beralih dan membaca isi pesan itu. Kemarahan Jasmine bertambah mendapati pesan itu dari Lucas-tak tahu dari mana Lucas mendapatkan nomor ponselnya.

Hari-hari Jasmine penuh terorran dari seorang penguntit Lucas Agnellie.

Tak peduli, Jasmine membiarkan pesan Lucas bahkan membalas saja Jasmine tidak melakukannya. Lucas terlalu gigih―tetap saja Lucas mengiriminya pesan, basa-basi dan salah satunya keintian pesan dan masih tidak dipedulikan oleh Jasmine.

Jasmine kembali memfokuskan seluruh inderanya ke buku-buku yang dibaca.

Beberapa detik kemudian ponsel Jasmine berdering, seluruh pengunjung perpustakaan menatap tajam kepada Jasmine. Tangan Jasmine cepat-cepat memencet tombol hijau tanpa melihat lebih dulu siapa yang menelepon padanya.

Jasmine beranjak dari tempat duduk dan keluar dari perpustakaan, seseorang di balik ponselnya menyahut. "Aku mencarimu di beberapa tempat. Kau di mana?!"

Kening Jasmine terkerangkat. Ia kenal dengan suara di seberang telpon itu.

"Bukan urusanmu."

"Urusanku. Kau kekasihku, Sayangku."

"Aku. Astaga, Lucas sudah kukatakan bahwa aku bukan Kekasihmu. Sudahlah! Aku tak ingin terus-menerus ribut denganmu, Pria Menyebalkan!"

Jasmine memutuskan panggilan telepon Lucas secapatnya setelah itu tanpa mendengar banyak kata-kata Lucas. Ia tahu Lucas tak akan berhenti berbicara.

Setelah bel sekolah pulang berbunyi, Jasmine memasukkan seluruh alat tulis ke dalam tas. Jasmine keluar dari kelas dan seseorang sangat menyebalkan muncul, dan patut diberikan dua jempol-Lucas menunggu Jasmine di depan pintu kelas. Jasmine menelengkan kepala, tak memedulikan keberadaan Lucas di depan pintu kelas.

Jasmine melangkah dan Lucas di belakang langsung menyusulnya lalu mensejajarkan langkah bersamanya.

"Kumohon jangan mengikutiku lagi Lucas," lirih Jasmine.

"Kenapa?"

"Aku tak ingin menjalin hubungan apa pun denganmu ataupun para pria di sini. Sekarang pergilah."

Lucas tiba-tiba meraih tangan Jasmine dan menggenggamnya erat. Pria itu tersenyum dan Jasmine tertegun.

"Lucas apa-apaan ini?! Lepas!"

"Diamlah. Tak lama lagi kita akan keluar meninggalkan halaman sekolah."

"Aku bisa pergi sendiri. Lepaskan tanganmu, Lucas!"

"Jasmine jangan keras kepala. Aku tidak ingin menyakitimu." Lucas kembali menatap kepala pada Jasmine. Dia memasang senyum hangat dan lembut.

"Jangan tersenyum."

"Kenapa? Aku terlihat tampan?"

"Aku tidak suka. Kau lihat orang-orang memerhatikan kita?" Jasmine berkata dan memberi tahukan kepada Lucas melalui pandangan yang ia arahkan. "Pusat perhatian mereka adalah kau sedang tersenyum padaku. Aku seorang biasa saja, perempuan miskin, tak cantik."

Behind Forbidden Love | #Vol (1). PPTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang