68. Obsesi Berujung Duka

1K 120 50
                                        

KEMACETAN akibat adanya truk mogok di tengah jalan sempat menjebak mobil yang dikemudikan Pak Mahmud. Beruntung proses evakuasi penertiban lalu-lintas tidak memakan waktu berjam-jam. MPV hitam berpenumpang tiga orang itu akhirnya bisa leluasa memasuki jalan tol Srondol – Jatingaleh.

Sakha yang duduk di jok penumpang depan meminta Pak Mahmud mempercepat laju kendaraan. Tidak seorang pun yang dapat duduk dengan tenang dalam perjalanan mobil tersebut. Termasuk Erlang yang duduk sendirian di jok belakang dan yang sedari tadi fokusnya hanya mengikuti alur posisi perjalanan mereka menuju titik lokasi melalui navigasi GPS di atas dashboard mobil. Intinya semua orang merasakan hal yang sama. Berharap-harap cemas untuk segera sampai ke tujuan, lalu menemukan Kenzie.

Benang-benang ruwet memadati setiap jeluk labirin otak Sakha dengan hasil meringkas pengakuan seluruh pekerja di rumah keluarga Kenzie yang selama ini bungkam soal kedatangan Tante Sevanee. Bahkan Kenzie sekalipun tak pernah mengungkit kedekatannya dengan wanita itu seolah-olah lupa bagaimana perlakuannya di masa lalu.

Sakha tahu kelemahan sepupunya itu adalah mudah percaya dengan orang. Akan tetapi, Sakha tidak habis pikir Kenzie akan senaif ini mengambil langkah percaya begitu saja, sedangkan secara kenyataan justru menjebaknya pada lubang yang sama.

Lamunan Sakha membuyar ketika dering ponsel yang digenggamnya menandakan adanya panggilan masuk. Nama pemanggil yang tertera di layar ponsel sontak saja membuat wajahnya memucat.

“Siapa, Kha?” tanya Erlang yang menyadari mimik gelisah Sakha.

“Khol Adib,” bisik Sakha.

“Terus gimana? Mau diangkat?”

Sakha meneguk ludah. Angkat atau jangan diangkat? Situasi ini benar-benar membingungkannya. Sesaat Sakha memejamkan kedua matanya. Ya, percuma menghindar jika tidak akan menyelesaikan masalah.

Helaan napas lirih, mengiringi usapan ibu jari Sakha menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau itu. “Assalamu’alaikum, ya Khol!” sapa Sakha hati-hati begitu menempelkan ponsel ke telinga. Percakapan pun terjadi antara Sakha dan orang tua tunggal Kenzie tersebut.

“I-iya, Khol, ini Sakha lagi perjalanan pulang sekolah.”

Benar saja dugaan Sakha. Setelah itu Khol Adib menelepon karena ada kaitannya dengan Kenzie.

“O-oh, Kenzie? Nggak bisa dihubungi? A-ah, i-itu palingan ponselnya mati gara-gara dipakai dia buat main game terus.”

Sakha menggigit bibir bawahnya antara gugup dan merasa berdosa lantaran telah mengarang kebohongan seperti itu.

“A-apa? Oh, i-iya, Kenzie baik-baik aja, kok. Iya, nanti Sakha bilangin ke Kenzie supaya nelepon balik Khol Adib.”

Sakha mengempaskan kepalanya pada sandaran headrest usai mengakhiri telepon. Ya Rabb, kenapa ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya saja sekalipun kejujuran itu sendiri pahit? Sungguh, Sakha tidak pernah dididik untuk menyenangi kebohongan, terlebih kepada orang tua. Ucapan istigfar berkali-kali mengalir keluar dari mulutnya. Memohon ampun atas perkataan dustanya. Memohon supaya Tuhan tidak menimpakan murka atas kekhilafannya yang terpaksa melakukan perbuatan tercela tersebut.

“Kha, Kenzie pasti akan baik-baik aja.” Erlang menepuk pundak teman yang sudah dikenalnya sejak duduk di bangku TK itu. Mencoba menyalurkan harapan bahwa mereka pasti bisa menyelamatkan Kenzie, sehingga Sakha tidak lebih merasa bersalah pada omnya.

Sakha membalasnya dengan anggukan kepala. Hingga tak berselang lama kemudian, suara notifikasi GPS yang menyebutkan bahwa mereka sudah sampai di lokasi tujuan berhasil menarik pasang telinga semua orang.

MemoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang