PUDING cokelat vla vanila sukses dibuat Rissa dengan sepenuh hati. Sekarang tinggal satu lagi pemanis yang akan menyempurnakan tampilan mahakaryanya. Sip, buah ceri berwarna merah itu tak kalah cantiknya menggantikan toping stroberi untuk puding cokelat vla vanila yang sengaja ia buat untuk Kenzie. Untung Rissa masih ingat cowok itu intoleransi dengan stroberi atau makanan yang mengandung perisa buah berasa manis-manis asam tersebut. Kalau tidak, bukannya amnesia yang sembuh malah menambah penyakit gara-gara melanggar pantangan makanannya sendiri.
Rissa hanya berharap dengan cara membuatkan puding cokelat vla vanila itu barangkali saja dapat merangsang ingatan masa lalu Kenzie kembali. Lebih-lebih sebelumnya Rissa pernah membuatkan puding yang sama pada momen sweet seventeen cowok itu. Semestinya memori itu masih membekas di sana.
"Biarin. Siapa tahu kamu malah kena amnesia terus berubah jadi anak pendiam dan nggak lagi merecoki orang."
"Jahatnya mendoakan aku amnesia. Kalau aku nggak ingat kamu beneran gimana?"
Lagi-lagi Rissa teringat perkataan yang pernah ia lontarkan pada Kenzie. Sungguh, Rissa tak pernah berpikir panjang jika ucapan asal-asalannya itu akan berarti seburuk kegagalannya menyaring kata-kata yang seharusnya tercegah ia keluarkan. Mau menarik kembali ucapannya pun sudah barang mustahil. Semuanya telah menjadi kenyataan. Kenzie terkena amnesia dan benar-benar tidak mengingatnya lagi.
Akan tetapi, Rissa tidak akan menyerah menghidupkan kembali eksistensinya di dalam memori Kenzie. Tekadnya sudah bersungguh-sungguh akan membantu Kenzie mengumpulkan kenangan-kenangan yang dilupakannya. Bukankah cowok itu sendiri suka mengaku-ngaku memiliki ingatan sehebat ingatan gajah?
"Wah, anak mama yang cantik ini lagi ngapain sibuk-sibuk di dapur?"
"Mama!" Terjingkat kaget, Rissa mengelus-elus dada bersamaan ia mendapati keberadaan mamanya yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. "Mama, nih, masuk dapur kayak ninja aja."
"Kayak ninja gimana, sih, Sayang? Orang jelas-jelas mama dari tadi itu sudah di sini. Lihat, sampai mama selesai ambil minuman malah. Kamunya saja kali yang kebanyakan melamun sampai-sampai nggak tahu, kan, mama datang." Anna mencubit gemas ujung hidung putrinya yang tentu saja segera menuai protes.
"Tapi, kok, Mama udah bangun?" Rissa yakin sekarang ini belum masuk pukul 10:00. Mamanya memang baru pulang ke rumah sekitar pukul 7 pagi tadi setelah semalaman suntuk berjibaku di rumah sakit. Bertepatan ini hari Minggu, biasanya mamanya akan menggunakan waktu seharian untuk beristirahat.
"Gimana mama nggak bangun kalau mama keburu penasaran sama apa yang kamu lakukan dari pagi di dapur. Memangnya kamu lagi bikin apa, sih?" Anna bertanya sembari melongokkan kepalanya pada beberapa cup di atas talam. "Kamu bikin puding?"
Rissa meringis malu-malu. "I-iya, Ma. Rissa mau ... mau bawakan puding itu buat Kenzie. Boleh, kan, Ma?"
"Tentu boleh, dong. Masa' kamu sudah capek-capek bikin puding begini nggak jadi dikasihkan ke Kenzie. Eh, tapi seingat mama, dulu itu kamu juga pernah bikin puding cokelat seperti ini, kan? Kalau tidak salah itu untuk ... ah, iya, tugas sekolah. Kamu juga, kan, minta diajarin mama bikin pudingnya waktu itu."
"A-ah-eh, seingat Rissa juga begitu, Ma." Rissa tertawa sumbang. Kenapa mamanya mengungkit-ungkit lagi soal puding itu, sih? Rissa, kan, jadi ingat dengan kebohongannya yang tidak patut dijadikan suri teladan bagi generasi masa depan anak-anak Indonesia. Ia harus menghindarkan topik ini sebelum keringat dinginnya bercucuran ke lantai dan dikhawatirkan memicu risiko kepeleset bagi orang yang lewat. "Ma, Rissa mau mandi dulu, ya."
"Lho, anak gadis sudah mau siang begini, kok, belum mandi?" decak Anna.
"Mama juga belum mandi. Bau acem," sahut Rissa sambil lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memory
Novela Juvenil[COMPLETED] Young Adult | Religi | Romantic Comedy Mulanya Rissa si cewek tomboi itu benar-benar risi ketika harus mengubah penampilannya dengan berhijab demi memenuhi janji di hari ulang tahunnya yang tepat menginjak angka tujuh belas. Esensi berhi...
