MENIT demi menit berlalu tanpa belum terjadi pembicaraan di antara dua orang yang duduk berhadap-hadapan di kursi lounge rumah sakit tersebut. Pun, pesanan dua cangkir latte—yang sejak beberapa saat lalu telah disajikan pramusaji—di atas meja bundar yang didiami mereka belum tersentuh untuk sama-sama saling dinikmati.
Pria berkemeja putih dengan wajahnya yang tampak sembap dan kurang tidur masih saja memalingkan perhatiannya ke arah pemandangan jalanan kota melalui jendela kaca besar lounge lantai lima tersebut. Sementara pria yang lebih tua dan yang berpenampilan perlente juga tampak canggung setelah sekian lama akhirnya baru kini dapat menjumpai mantan menantunya kembali.
Ahmet, pria tua itu sadar diri ketika dirinya yang sudah mengundang Adib pada pertemuan ini, berarti dirinya jugalah yang harus memulai pembicaraan terlebih dahulu.
“Adib, terima kasih kamu sudah mau menemui baba,” kata Ahmet yang diawalinya dengan dehaman sekadar untuk mencairkan suasana. “Maafkan baba juga sudah menyita waktumu di saat kamu tampak kelelahan. Pasti karena kamu menjaga Kenzie.”
Kepala Adib menengok pria yang pernah menjadi wali pada pernikahannya dengan Sevda itu. Dijauhkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu menumpukan kedua siku di atas meja. “Saya rasa kita tidak memerlukan sebuah basa-basi semacam itu kan, Tuan Ahmet yang Terhormat. Anda sendiri tentu memiliki tujuan yang lebih penting daripada sekadar menyapa saya dengan jamuan kopi ini. Jadi, bagaimana kalau kita persingkat saja acara ini sebelum lebih banyak waktu berharga yang terbuang? Silakan katakan apa tujuan Anda sebenarnya mengajak saya berbicara empat mata seperti ini. Oh, dan satu lagi, tidak ada kata lelah dalam hidup saya demi menjaga putra saya sendiri.”
Hati Ahmet merasa tersentak mendapati sikap sinis Adib, terlebih oleh penekanan yang diucapkan pada kalimat terakhirnya. Mantan menantu yang dulu senantiasa dibangga-banggakannya itu bahkan tidak berkenan lagi memanggilnya ‘Baba’. Yah, Ahmet sadar jika hubungan mereka sekarang ini memang sudah tidak lagi sama seperti dulu. Ahmet juga tidak menyalahkan sikap Adib yang tentunya kecewa setelah semua kejadian nahas pada Kenzie disebabkan oleh kehadiran Ahmet dan Sevanee.
“Maaf, bukan maksud baba mengatakan kamu seolah-olah merasa lelah menjaga Kenzie. Baba cuma khawatir kalau kamu juga malah ikut jatuh sakit. Kenzie itu bagaimanapun juga adalah cucu baba. Tentu saja baba tidak keberatan—sungguh tidak keberatan—jika kita bisa saling bergantian menjaganya.”
“Tidak perlu. Di sini sudah ada banyak orang yang menyayangi Kenzie dan kami pastikan sendiri untuk menjaganya dengan baik,” tolak Adib mentah-mentah. “Tolong, kita kembali saja pada apa yang akan kita bahas di sini.”
Gurat keraguan sejenak terpasang di wajah Ahmet. “Ini ... tentang Sevanee.”
Adib mendengkus geli yang disambung dengan seringai meremehkan. Namun, sejatinya ia lebih tahu tentang bagaimana hatinya yang tertohok sakit ketika mendengar nama itu. “Kenapa? Putri kesayangan Anda itu tidak betah dengan rumah barunya? Dia merengek pada Anda untuk membantunya? Lalu pada akhirnya Anda mendatangi saya supaya saya mencabut tuntutan itu? Begitukah yang ingin Anda sampaikan?”
“Semua itu tidak benar, Adib. Baba paham kalau saat ini kamu marah, kecewa, dan membencinya. Tapi Sevanee juga sangat menyesali perbuatannya. Dia berkata ikhlas jika harus menebusnya di penjara. Kedatangan baba menemuimu bukan kehendak Sevanee. Bahkan dia tidak tahu apa-apa kalau baba datang ke sini. Langkah ini murni dari inisiatif baba sendiri. Baba harap kita bisa menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.”
“Kekeluargaan?” Lagi-lagi Adib mendengkus. “Anda bilang kekeluargaan? Anda ingat sepuluh tahun lalu saya sudah pernah mengikuti anjuran serupa untuk menyelesaikan perkara yang kalian lakukan pada putra saya. Anda tahu dulu saya mencoba memaafkan Anda dan putri Anda itu karena saya masih sangat menghormati kalian sebagai keluarga dari wanita yang saya cintai. Tapi nyatanya apa? Kasus yang sama diulangkan kembali oleh putri Anda itu. Lihat, lagi-lagi Kenzie yang menjadi korbannya. Lalu, untuk apa sekarang saya masih harus mengulangi kebodohan yang sama demi memercayai kalian?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Memory
Teen Fiction[COMPLETED] Young Adult | Religi | Romantic Comedy Mulanya Rissa si cewek tomboi itu benar-benar risi ketika harus mengubah penampilannya dengan berhijab demi memenuhi janji di hari ulang tahunnya yang tepat menginjak angka tujuh belas. Esensi berhi...
