Erin sudah terlihat jauh lebih baik saat orang tuanya sendiri yang menenangkannya. Bahkan, Erin berinisiatif menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga. Walau tak pandai memasak, asisten rumah tangga bersedia membantu, walau beberapa kali asisten rumah tangga itu harus menahan sakit hati karena Erin mengomel dan berkata kasar kepadanya, jika ia melakukan kesalahan sekecil apapun.
"Jangan letakkan makanannya seperti itu!", omel Erin.
Tak ada pilihan selain mematuhi Erin, dan menelan segala kekesalan didalam hati.
Setelah memastikan semua makanan tersaji, anggota keluarga berbondong-bondong untuk duduk di kursi makan. Raden yang melihat Erin rela turun tangan menyediakan sarapan, nampak begitu kagum.
"Wah, kamu yang memasak semua ini?", tanya Miranti dengan wajah senang.
Erin mengangguk. "Iya, Bu. Aku sengaja bangun pagi, agar bisa menyiapkan sarapan untuk kalian. Ayah dan Ibuku juga semalam sudah menjagaku, anggap saja sarapan ini sebagai hadiah kecil dari Erin."
Erin dengan cekatan menghidangkan sarapan dengan wajah bangga, karena pujian yang dilontarkan anggota keluarga.
"Oh iya, kak Ayana dimana?", celetuk Raden mengedarkan pandangan. "Biasanya dia juga menyiapkan sarapan."
Erin menatap Raden, lalu berusaha memaksakan senyum hadir diwajahnya. "Bisa tidak kita membicarakan yang lain saja? Soalnya anggota keluarga kita semua sudah ada disini."
Tatapan Raden berubah tajam. Semakin lama, sikap Erin sudah semakin keterlaluan.
Erin tidak peduli. Ia kembali menyajikan sarapan.
"Bibi, tolong panggilan kak Ayana!", tegas Raden membuat Erin mendelik.
"Kamu ini apa-apaan, Raden?"
Raden nampak tidak peduli.
"Kalian ini kenapa? Di meja makan kalian bertengkar," ujar Deni dengan nada menusuk. Suasana meja makan langsung hening.
Ayana pun menghampiri di meja makan. "Ada apa?", tanya Ayana dengan wajah bingung.
"Sarapan, kak," balas Raden. Ayana kaget. Itu sudah jelas.
"Mohon maaf sebelumnya, Mbak." Erin menyela. "Raden hanya bercanda. Ini sarapan khusus untuk keluarga besar kami. Jadi maaf yah, Mbak."
"Erin!", tegur Raden dengan nada yang sangat tegas.
Ayana mengangguk paham. Ia tersenyum tipis. "Iya, silakan dilanjutkan. Saya bisa sarapan bersama Bibi nanti." Ayana berdehem. "Oh iya, Erin, saya hanya mau kasih tahu, lain kali, jangan suka berbohong. Sarapan ini dimasak oleh bibi, dan kamu bilang ini masakanmu. Ini kelas perbuatan tidak baik, Erin." Ayana rupanya masih ingin berbicara. "Kasihan Bibi, beliau yang memasak, dan sejak tadi kamu hanya memarahinya."
"Diam kamu!" Lina membentak Ayana. "Berani-beraninya kamu berkata seperti itu pada anak saya, membuat rusuh di kegiatan sarapan keluarga kami!"
"Saya berhak berkata demikian karena saya jujur, Nyonya." Ayana membalas Lina dengan sangat tajam. "Apa salahnya jika dia mau berkata jujur? Lagipula, yang memanggil saya kemari adalah Raden, kalian bisa marahi dia saja."
Lina berdecih. "Jadi ini rupanya didikan Lazuardi dan Yulia? Anaknya tidak punya sopan santun. Orang kaya tapi berkelakuan seperti orang miskin!"
Tanpa sadar kedua tangan Ayana mengepal. Raden yang menyadari itu sontak bangkit dari duduknya.
"Anda mengatakan apa tadi?", tanya Ayana dengan nada menusuk.
"Didikan Lazuardi dan Yulia tidak benar," ulang Lina enteng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Twolove
RomantikTentang Ayana. Dengan segala kebodohan, ketidaktegasan, dan ketidakberdayaannya. Menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua, karena takut anak perempuan mereka akan tetap perawan di usia tua sudah bukan hal yang mencengangkan lagi. Ayana Gayatri...
