Ayana melirik Raden dengan perasaan ragu. Tadi, ia membawa Raden makan bersamanya di pinggir jalan. Ia takut jika Raden merasa tidak nyaman setelahnya.
Tak ada niatan di hati Ayana untuk membuat Raden terkesan dengan kesederhanaannya ini, ataupun membuat Raden tak nyaman karena membawa pemuda itu ke tempat yang mungkin saja tidak ada di pikiran pemuda itu.
"Kalau kamu nggak nyaman disini, saya nanti akan bungkus makanannya, dan akan saya bawa pulang."
Kepala Raden menggeleng. "Tidak masalah jika Kak Ayana mau makan disini, saya sama sekali tidak terganggu."
Ayana menatap Raden sebentar. Gadis itu menaikkan sebelah alis. "Yakin?"
Tahu jika Ayana sudah ragu akan ucapannya, Raden mendengus geli. Setelahnya ia duduk di satu bangku panjang dengan Ayana, dengan memberi sedikit jarak agar tidak terlalu dekat.
"Saya sama sekali nggak terganggu kak, saya cuma heran saja dengan kakak."
"Kenapa memangnya?", tanya Ayana ingin tahu.
Raden bertopang dagu, menatap Ayana dari samping. "Heran saja, Kakak ini anaknya Om Lazuardi, pengusaha kain sutera sukses dan punya tempat produksi oleh-oleh khas yang pengolahannya dari ubi. Seharusnya, gadis kaya seperti kakak ini pastinya sudah tahu tentang gaya hidup orang kaya."
Tak langsung membalas pernyataan Raden, lebih dulu Ayana membawa semangkuk mie ayam itu dihadapannya. "Yang kaya bukan saya, Raden. Tapi Ayah saya."
Sebelah alis Raden terangkat. "Lalu? Apa bedanya?"
"Sudah jelas ada bedanya. Semua itu Ayah dapatkan dengan kerja kerasnya, sementara saya sama sekali tidak punya kekayaan selama ini."
Raden sekarang mengerti, Ayana punya sudut pandang dan pemikiran sendiri tentang segala hal yang dilakukannya.
Baiklah, Raden sudah menemukan satu hal dari diri Ayana, yang akan ia nikahi.
Ayana perlahan menyantap mie ayam dihadapannya dengan tenang, tanpa merasa terusik dengan kehadiran Raden. Ditambah lagi, pemuda itu masih berusaha menemukan hal lain. Ayana sadar dengan hal itu. Gadis itu tersenyum kecil.
"Jangan berusaha mempelajari karakter saya, Raden," celetuk Ayana, membuat Raden langsung menegak.
"Maaf, kak. Saya nggak bermaksud seperti itu." Raden nampak salah tingkah.
Ayana tertawa kecil. "Santai saja. Lagian, kita juga akan lebih sering bersama setelah menikah, kalaupun memang hal itu akan kesampaian."
Raden bungkam, sementara Ayana kembali menyantap masakannya. Beberapa kali Ayana menawarkan agar Raden ikut makan bersamanya tetapi pemuda itu terus menolak.
Hingga makanan Ayana habis, tak ada lagi obrolan setelahnya. Mereka memilih beranjak pergi.
****
Ayana tersenyum tipis saat Raden pamit pulang. Ayana menunggui sosok Raden sudah tidak terlihat lagi oleh pandangannya. Barulah ia melangkah masuk ke rumahnya.
"SAYA TIDAK TERIMA PENGHINAAN INI!"
Tubuh Ayana membeku kala suara bentakan itu terdengar sampai ke luar rumah.
Rasa takut Ayana menjalar. Ia tahu betul siapa pemilik suara itu, Ayana masih sangat mengingatnya.
Mengabaikan rasa takutnya, Ayana berlari cepat dan segera masuk ke dalam rumah.
"Ka...kalian...."
Tenggorokan Ayana tercekat, mendapati keluarganya berkumpul di ruang tamu, tak lupa dengan Dania yang sudah menangis karena kehadiran orang tuanya yang menyatakan rasa tidak terima , terbukti beberapa kali suara ayah Dania terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Twolove
RomanceTentang Ayana. Dengan segala kebodohan, ketidaktegasan, dan ketidakberdayaannya. Menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua, karena takut anak perempuan mereka akan tetap perawan di usia tua sudah bukan hal yang mencengangkan lagi. Ayana Gayatri...
