Pagi hari telah tiba.
Anggota keluarga Raden melakukan aktivitas mereka masing-masing, walau sesungguhnya mereka--kecuali Erin, merasa ada yang kurang.
Ketidakhadiran Ayana ditengah mereka membawa suasana berbeda. Mengingat bagaimana rajin dan cekatannya perempuan itu, sungguh, ada sesuatu yang kurang.
Ayana yang selalu tersenyum tiap pagi, Ayana yang membantu menyiapkan sarapan, dan Ayana yang sama sekali tidak pernah melakukan hal yang membuat mereka merasa tersinggung. Tapi mereka sadar, jika selama ini mereka yang telah menyakiti Ayana.
Sejak semalam Raden memikirkan ucapan Ayahnya. Menutup mata, melihat siapa yang selalu muncul dibayangannya.
Awalnya Erin, tapi semakin lama, sosok Ayana terlihat lebih dominan.
Apa betul Raden telah mencintai Ayana?
Walau ragu, Raden akui ada perasaan hampa kala istri pertamanya itu pergi dari rumah, dan sempat berkata jika ia tidak akan kembali lagi. Sejak itu, Raden tak pernah tenang. Ketakutannya semakin bertambah kala orang disekitarnya meyakini, jika Ayana akan menceraikannya. Sementara Raden tidak akan pernah siap melepas Ayana. Entah karena apa, tapi Raden masih ragu, jika ada perasaan cinta untuk Ayana atau belum, sementara ia mencintai Erin. Walau seiring berjalannya waktu, ada perasaan mengganjal jika terus bersama Erin. Seolah, terlalu banyak yang berubah. Ditambah sikap Erin yang cenderung kekanakan dan tidak dewasa, bahkan bisa menjadi sangat egois.
"Rumah benar-benar sepi sekarang," gumam Hakim, yang masih dapat didengar oleh anggota keluarga lainnya.
Erin malah memutar kedua matanya malas. Jengah, karena menurutnya Hakim terlalu banyak drama. "Sudahlah, Ayah. Lebih baik mbak Ayana tidak disini, daripada nanti dia ganggu kita lagi."
"Ganggu?" Tiba-tiba Miranti berujar. "Maksud kamu dengan 'ganggu'?", tanya Miranti dengan nada sangsi.
Erin menghela napas. "Bukannya selama ini dia memang sumber gangguan? Aku keguguran karena perbuatannya..."
Prang!
"Erin, cukup!", bentak Raden membanting sendok dan garpunya, lalu bangkit dari kursi. "Semakin lama ucapanmu sudah semakin keterlaluan. Bahkan disaat kak Ayana tidak ada, kamu tetap menyalahkannya, sementara kamu sendiri mengaku jika semuanya terjadi bukan karena salahnya? Kamu memang sengaja cari gara-gara!"
Erin bungkam. Merasa tidak terima jika Raden sering membentaknya di dalam status pernikahan mereka.
"Ayah, ibu, Raden pamit ke kantor."
****
Ayana dan Dania sengaja duduk di depan rumah saat sore hari tiba, dengan membawa Davida keluar. Setidaknya bayi kecil itu bisa menghirup sedikit udara di sore hari.
"Senang banget deh, kamu akhirnya bisa diterima kerja," kata Ayana menepuk pelan pundak Dania yang menggendong Davida, dengan wajah yang sangat bangga.
"Semua berkat doa kalian. Terima kasih." Dania menghela napas. "Terus kamu sendiri bagaimana? Kapan kamu akan mengajukan gugatan cerai?", tanya Dania.
Ayana sampai terkekeh pelan. "Sabar. Aku menunggu waktu yang tepat, kata Ayah, beliau sendiri yang akan menemaniku. Lagipula akhir-akhir ini ayah sangat sibuk."
Dania mengangguk membenarkan. "Aku heran, apa Om Ardi nggak capek, kerja dari pagi sampai sore, pas malam baru punya waktu luang? Apalagi usianya sudah tidak muda."
Pandangan Ayana lurus ke depan. Setitik rasa bersalah dan penyesalan itu hadir kembali. "Kadang aku merasa tidak berguna sebagai anak perempuannya, Dan. Harusnya aku ini bisa membuatnya bangga, kan? Tapi kenyataannya, aku adalah anak yang membawa kegagalan pada Ayah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Twolove
RomanceTentang Ayana. Dengan segala kebodohan, ketidaktegasan, dan ketidakberdayaannya. Menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua, karena takut anak perempuan mereka akan tetap perawan di usia tua sudah bukan hal yang mencengangkan lagi. Ayana Gayatri...
