Setelah kejadian saat Lazuardi mengetahui fakta tentang Budi, tak ada yang perlu dipermasalahkan. Lazuardi merasa, mungkin cinta Budi pada Ayana sudah sebesar itu, untuk itulah Budi belum menemukan momentum yang tepat untuk mengatakannya pada Ayana. Lazuardi bisa sedikit bersyukur, karena saat Budi melamar Ayana, Lazuardi malah meminta Raden untuk menikah dengan Ayana. Walau ujung-ujungnya anak sulungnya itu akan mengajukan permohonan cerai.
Hari ini, mereka menyambut Yordan yang tengah bertandang ke rumah mereka. Tak seperti kedatangan Yordan yang sebelumnya, keluarga Ayana jauh lebih ramah saat menyambut Yordan. Bahkan Dania sendiri tidak lagi berujar ketus atau memasang raut kesal. Ia perlahan mulai melepas semua rasa sakit hatinya.
"Hari ini saya bawakan beberapa makanan ringan, yah tidak seberapa, tapi semoga kalian berkenan menerimanya. Saya juga membelikan mainan baru untuk Davida. Tolong diterima."
Dania dan Ayana menerima pemberian Yordan.
"Terima kasih nak Yordan," kata Lazuardi.
"Sama-sama, Om." Kini Yordan mengarahkan pandangannya ke arah Dania. "Boleh aku menggendong Davida lagi?"
Tanpa berpikir panjang, Dania mengangguk. Davida yang semula berada digendongan Yulia, langsung diberikan pada Yordan. Pria itu nampak senang sekali.
"Assalamualaikum! Ayana, Dania, aku datang!"
Semua orang menoleh ke arah pintu. Mereka terkekeh pelan mendapati Ila yang baru saja datang bersama dengan Musa.
"Wah, ramai yah," kata Musa saat ia melihat orang rumah tengah berkumpul di ruang tamu.
"Wa'alaikumussalam!", jawab mereka serempak.
"Ila, Musa, ayo duduk dulu!", kata Ayana. Ia langsung meraih tangan Ila, membantu perempuan itu. Apalagi sekarang kondisi Ila yang tengah mengandung, bahkan perut teman masa kecilnya itu terlihat sedikit membuncit.
"Ih, Davida makin gemesin aja, sih!", kata Ila memandangi Davida yang tertawa kecil digendongan Yordan.
"Nah, mumpung lagi ramai begini, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Makan siang sambil lesehan di taman belakang, biar serasa piknik." Aneta memberi ide. "Mumpung Aneta juga tidak sedang punya tugas. Lumayan, kumpul bersama bisa buat Aneta tidak terlalu stres."
Mereka pun setuju. Akhirnya, Yulia, Arinda, dan Ayana langsung menuju ke dapur. Disusul Aneta, Ayya, Alsa, dan Dania. Sementara yang laki-laki, dan juga Ila, langsung menuju ke taman belakang, mempersiapkan piknik dadakan.
****
"Kamu masih menyelidiki soal peneror itu?", tanya Raden kepada Razi.
"Masih, Pak. Menurut saya, mereka sudah pasti merencanakan hal yang lebih besar dari yang kita bayangkan, Pak. Saya takut kecolongan, jadi saya berusaha terus menyelidiki ini."
Raden mengangguk. "Saya juga memikirkan hal yang sama denganmu. Tapi, apa menurutmu, siapa yang melakukan ini?"
Razi nampak berpikir. "Bisa banyak kemungkinan, Pak. Bisa saja rival bisnis bapak, atau justru orang terdekat bapak sendiri."
Sebelah alis Raden terangkat. "Saya sudah mencurigai seseorang sekarang, karena beberapa hari ini saya sering melihat dia mondar-mandir di depan kantor."
"Mohon maaf, Pak. Kalau boleh saya tahu, siapa orangnya? Agar saya bisa bergerak cepat, Pak.", tanya Razi.
Raden memandang sekeliling. Ia meraih kertas dan pulpen, menuliskan satu nama disana.Razi membacanya, dan mengangguk perlahan.
"Apa bapak ingin agar saya segera mengawasinya?"
Raden menggeleng. "Tidak perlu terburu-buru. Saya akan ikut memantaunya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Twolove
RomanceTentang Ayana. Dengan segala kebodohan, ketidaktegasan, dan ketidakberdayaannya. Menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua, karena takut anak perempuan mereka akan tetap perawan di usia tua sudah bukan hal yang mencengangkan lagi. Ayana Gayatri...
