Raden memutuskan untuk kembali ke rumah. Ayana begitu marah padanya.
"Raden, kamu darimana?", tanya Erin ketika Raden baru saja kembali.
Raden menatapnya tajam. "Kenapa juga kamu harus peduli?!", tanyanya tajam.
Erin tersentak. "Kamu marah padaku? Aku minta maaf," kata Erin dengan wajah memelas.
Raden tak peduli. Ia berlalu begitu saja, menyisakan Erin yang sudah sangat geram dengan keadaan rumah. Baginya, Ayana adalah pemicu semua ini. Ada atau tidak adanya Ayana, ia sudah begitu diabaikan orang rumah. Ia merasa, cinta Raden kepadanya sudah tidak sebesar dulu lagi.
"Apa yang harus aku lakukan supaya Raden peduli lagi padaku?" Erin berujar. Otaknya berpikir keras.
****
Raden melangkah ke arah taman belakang. Disana Hakim sudah duduk dengan pandangan lurus. "Ayah cari Raden?"
Hakim berbalik, dan tersenyum tipis. "Duduklah dulu." Raden mengangguk. Ia mengikuti ucapan Hakim, dan duduk tak jauh darinya.
"Jadi bagaimana? Kamu sudah memikirkan keputusan?", tanya Hakim.
Raden mengangguk. "Sudah, ayah. Tapi Raden bingung sekarang. Pertanyaan Raden masih sama, apakah Raden bisa mencintai dua wanita?"
"Jadi itu yang membuat kamu bingung? Kamu merasa mencintai dua istrimu?"
Raden mengangguk. "Benar, ayah."
Hakim menghembuskan napas. "Inilah resiko yang harus kamu tanggung karena menikahi dua perempuan. Ayana kamu nikahi karena perjodohan dan tidak mencintainya dulu, dan kamu juga menikahi Erin karena kamu memang mencintainya. Tapi sekarang, ayah melihat situasinya terbalik. Dulu, kamu begitu memanjakan Erin, dan mengabaikan Ayana. Sekarang, kamu benar-benar merasa memiliki perasaan lebih pada Ayana, sementara Erin hendak mengedalikanmu, karena dia takut posisinya di hatimu bergeser dan tergantikan oleh Ayana."
Raden tersentak.
Hakim rupanya masih ingin mengatakan sesuatu. "Mencintai dua wanita, sementara mereka istrimu bukanlah kesalahan, apalagi aib. Itu wajar. Sebelum Erin, kamu bahkan sudah bertemu Ayana dimasa kecil. Setelah Ayana pergi, datanglah Erin yang akhirnya berhasil membuatmu sedikit melupakan kenangan masa kecilmu. Takdir pun akhirnya bermain lagi, kamu dan Ayana bertemu karena perjodohan, tanpa tahu kalian adalah dua anak kecil yang punya ikatan persahabatan yang sangat kuat dulu. Saat menikah, kamu tidak bisa adil karena hanya mencintai Erin, sementara Ayana rupanya sudah sangat lelah. Keadaan makin rumit karena kamu mencintai Ayana juga, apa kamu sungguh bisa adil?"
"Jadi, apa yang sebaiknya Raden lakukan?", gumam Raden mengusap wajahnya frustasi. Ia tak ingin bertindak seperti ini terus, ia ingin tegas dengan apa yang ia perbuat.
"Sekarang, ayah tanya. Bagaimana perasaanmu pada Ayana dan Erin? Jawab dengan jujur."
Raden nampak berpikir. "Saat bersama Erin, Raden bahagia. Kami seperti dua orang teman, yang terlibat hubungan romantis. Jika kami ingin menunjukkan cinta, kami akan saling mendekat dan melakukan apapun agar perasaan kami tersalurkan. Erin wanita yang baik, tapi kadang bisa jadi sangat egois, posesif, dan kekanakan. Kadang juga bisa begitu menganggap sepele beberapa hal. Itu yang membuat Raden berpikir keras, apakah perasaan hangat yang kami rasakan hanya sebatas dihubungan pasangan kekasih saja, dan malah tidak berlanjut saat menjadi suami dan istri."
Hakim mengangguk mengerti. "Lalu, bagaimana dengan Ayana?"
Wajah Raden berubah, degupan jantungnya kembali menggila. Setiap nama Ayana disebut, kondisi jantungnya ikut terpengaruh. Raden meringis. "Kak Ayana itu tidak berubah sama sekali sejak kami masih kecil, ayah. Dia tetap jadi dirinya sendiri. Dia orang yang peduli, dan sabar. Walau dia diperlakukan tidak adil, dia tidak pernah menuntut macam-macam. Dia sering berdebat dengan Raden, dan pada akhirnya Raden bisa menceritakan apapun yang ingin Raden katakan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Twolove
RomanceTentang Ayana. Dengan segala kebodohan, ketidaktegasan, dan ketidakberdayaannya. Menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua, karena takut anak perempuan mereka akan tetap perawan di usia tua sudah bukan hal yang mencengangkan lagi. Ayana Gayatri...
