TwoLove | 23

614 35 0
                                        

Ayana bersama keluarganya melangkah masuk ke dalam rumah mewah milik keluarga Raden. Begitu banyak pelayan di rumah itu.

Tapi, Ayana sedih sebab Yulia tidak datang. Alasannya karena Mamanya itu tidak menyetujui pernikahan ini, sementara Lazuardi dan Arinda hanya bisa memaklumi sikap Yulia itu.

Tak ada yang begitu istimewa bagi Ayana, semuanya nampak baik-baik saja. Ia dan keluarganya diundang oleh keluarga Raden untuk makan malam bersama, dan pastinya topik yang akan dibicarakan pihak keluarga tentunya tidak akan jauh-jauh dari seputar rencana pernikahan Raden dan Ayana.

"Lazuardi!"

Ayana sedikit terkejut kala seorang pria paruh baya menyambut mereka dengan wajah yang sangat bahagia.

Lazuardi turut mendekat dan memeluk pria itu. "Apa kabarmu, Hakim?", tanya Lazuardi kala pelukan antara keduanya terurai.

"Alhamdulillah, baik. Ayo, ayo, silakan masuk!"

Hakim meminta keluarga Lazuardi untuk masuk, begitupun Ayana yang berjalan di bagian belakang saudara-saudaranya.

Pandangan Ayana memperhatikan isi rumah Hakim yang rupanya jauh lebih mewah dari yang dibicarakan banyak orang selama ini. Semua barang yang ada di rumah itu nampak mahal dan juga sangat berkelas.

Terlalu fokus memandangi rumah calon suaminya, Ayana tidak sadar jika Hakim sudah memperhatikannya dengan senyum tipis. "Sebentar lagi, kamu akan jadi menantu Om."

Ayana terkesiap. Ia nampak sedikit canggung. Ia lalu tersenyum kikuk. "Maaf, Om. Saya tidak sadar ternyata Om ada disini, saya kira Om sudah masuk bersama yang lain ke ruang makan."

Hakim tersenyum . "Ayo, masuk!"

Ayana mengangguk patuh. Ia berjalan tepat dibelakang Hakim menuju ruang makan.

Seperti dugaan Ayana, setiap sudut rumah milik keluarga Raden ini memang sangat mewah. Termasuk ruang makan keluarganya. Meja yang panjang, kursi dengan jumlah yang cukup banyak, serta makanan dan minuman yang sudah tersaji hingga aromanya menguar di udara.

Ayana melirik kecil, mencari keberadaan Raden. Ia bingung, calon suaminya itu belum juga muncul.

Kedua mata Ayana mengerjap. Ia agak geli jika ia menyadari  Raden akan jadi calon suaminya. Seolah-olah, pemikiran itu tercipta karena Raden senang dengan pernikahan ini.

"Silakan duduk!", kata Hakim mempersilakan keluarga Ayana untuk menempati kursi makan.
Ayana melirik kecil pada anggota keluarganya yang sudah mulai menduduki kursi. Dimulai dari Lazuardi, Arinda, hingga kelima adiknya pun sudah duduk dengan wajah bahagia disana. Hanya ia saja yang masih berdiri.

Tak, Tak, Tak

Suara yang tercipta antara lantai dan sepatu hak tinggi itu menyeruak memenuhi ruangan. Ternyata, suara itu datang dari sepatu hak tinggi milik wanita paruh baya yang tiba bersama Raden. Ayana sudah yakin wanita itu adalah ibunya Raden.

"Selamat malam," sapa Miranti dengan sangat formal, lalu setelahnya mengambil posisi duduk tak jauh dari Hakim.

Raden pun demikian. Ia duduk tepat disebelah Ayana, membuat gadis itu melonjak kecil. Ia tak sangka Raden akan duduk disebelahnya, karena Ayana pikir Raden akan duduk disebelah orang tuanya.

Makan malam pun dilangsungkan. Ayana menyantap makanan dalam diam. Sementara para orang tua terlibat obrolan yang sangat menyenangkan.

Kecuali Ibu Raden, Ayana melihat wanita itu tidak begitu terlibat dengan pembicaraan itu. Miranti hanya menanggapi seperlunya, dan kadang kala menunjukkan raut wajah jengah.

TwoloveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang