Kedua tangan Ayana kini terasa begitu dingin, karena terlalu cemas, meskipun sekarang ia tengah sibuk mengupas kulit buah apel.
Hari ini Lazuardi sudah memutuskan untuk menerima lamaran dari salah satu pemuda yang melamar Ayana kemarin.
Raden dan Budi, Ayana tidak tahu siapa yang akan ayahnya pilih.
Kini, Ayana bersama kelima saudaranya duduk di teras belakang rumah. Ayana sibuk memotong buah apel menjadi potongan yang lebih kecil, agar kelima adiknya bisa memakannya dengan lebih mudah. Walau sebenarnya, pikiran Ayana sudah melayang di tempat lain.
"Hm, Aneta mau nebak siapa yang bakalan ayah pilih lamarannya buat Kak Yana," celetuk Aneta. Gadis berusia dua puluh tahun itu menatap Ayana dengan kedua alis dinaik turunkan. Melihat hal itu Ayana tak merespon terlalu banyak. Wanita itu hanya mendengus geli karena kelakuan adiknya.
"Menurut kakak siapa yang bakal ayah pilih?", tanya Alsa penasaran.
Aneta menyengir. "Kayaknya sih ayah bakalan milih Mas Raden."
"Sependapat," timpal Ario lalu menjentikkan jari.
Aris yang sejak tadi terdiam langsung mulai larut dalam pembicaraan kakak-kakaknya. "Aris enggak suka sama Mas Raden."
Semua perhatian kini tertuju pada Aris. Ayana yang tadinya sibuk memotong buah apel menghentikan kegiatannya. Ia menatap Aris dalam diam. Wajah Aris yang polos itu menunjukkan raut tidak suka yang begitu kentara.
"Memangnya mas Raden kenapa, Ris? Kok kamu nggak suka?", tanya Alsa lalu bertopang dagu. Di dalam pikiran gadis itu, Aris hanya menunjukkan ketidaksukaannya untuk sesaat. Alsa yakin, jika ketidaksukaan Aris pada sosok Raden hanya berlangsung sesaat, sebab adiknya itu belum mengenal Raden lebih dekat.
Ayana sendiri menantikan apa yang akan dikatakan Aris. Entah alasan apa yang membuat adik bungsunya itu tidak suka Raden. Harusnya Ayana tidak perlu menganggapnya sebagai hal yang serius. Tapi Ayana tidak bisa menampik jika dia luar biasa penasaran dengan pendapat yang akan Aris katakan.
Bukan rahasia umum lagi, jika dalam situasi tertentu ucapan anak kecil itu terlampau jujur. Mereka mengatakan segalanya tanpa ada yang ditutupi.
Hingga Aris mengerucutkan bibir, ia langsung berlari ke arah Ayana, memeluk kakak sulungnya itu. Ayana yang sedari tadi sibuk memotong apel langsung melepaskan pisau digenggamannya, takut adiknya terkena pisau.
"Aris kenapa?", tanya Ayana lembut.
"Aris nggak mau mas Raden bawa kakak. Aris sayang sama kakak."
Aris terus mengeratkan pelukannya pada tubuh sang kakak. Ayana dan keempat saudaranya yang lain tersenyum kecil memandangi tingkah Aris.
"Jadi kamu takut kak Ayana dibawa pergi sama Mas Raden?", tanya Ario masih dengan senyum kecilnya.
Tanpa ragu Aris mengangguk cepat. "Aris nggak suka kak Ayana dibawa pergi dari Aris. Kak Ayana harus disini!"
Aneta mendengus. "Ayah aja belum menentukan yang ayah pilih itu siapa."
Ayana tersenyum maklum. "Mungkin Aris salah paham soal omongan kamu tadi, Net. Aris pikir mungkin ayah sudah memilih Raden."
"Iya juga, yah," sahut Aneta.
Ayana memandangi kelima saudaranya satu persatu. Ketakutan untuk meninggalkan kelima saudaranya langsung mengiang begitu saja. Tapi Ayana sudah pasrah, apapun yang ayahnya lakukan, ia akan patuh.
"Kalian makan apelnya di dalam rumah yah, kakak mau tutup jendela dulu. Kayaknya bentar lagi hujan deras."
Ayana perlahan bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah jendela rumahnya yang terbuka lebar. Sesekali Ayana menoleh ke arah belakang, memandangi adik-adiknya yang memakan apel dengan begitu nikmat. Lalu setelahnya Ayana kembali menatap arah luar jendela.
KAMU SEDANG MEMBACA
Twolove
RomansaTentang Ayana. Dengan segala kebodohan, ketidaktegasan, dan ketidakberdayaannya. Menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua, karena takut anak perempuan mereka akan tetap perawan di usia tua sudah bukan hal yang mencengangkan lagi. Ayana Gayatri...
