Deni bersama Erin, Lina, dan dua orang polisi mendatangi rumah keluarga Raden.
Kebetulan, pintu rumah Raden terbuka, menampilkan sosok Hakim yang sibuk menenangkan Miranti yang sama sekali tidak bisa tenang.
"Tenanglah! Raden pasti baik-baik saja. Kamu terlalu cemas padanya," kata Hakim.
Miranti berdecak. "Bagaimana aku tidak merasa cemas, Mas? Sejak kemarin Raden belum pulang, perasaanku jadi tidak enak."
"Raden sudah dewasa, Miranti. Berhentilah memperlakukan Raden seperti seorang anak kecil. Mungkin saja dia bermalam di kantornya, karena pekerjaan penting yang harus segera ia selesaikan."
"Mas tidak akan pernah mengerti, firasat seorang ibu tidak akan pernah salah."
"Hakim!"
Hakim yang semula berusaha memberi pemahaman pada Miranti, mengalihkan pandangannya, dan kini tertuju pada Deni yang tiba bersama dengan Erin dan Lina, serta dua orang polisi.
"Ada apa ini?", tanya Hakim bergerak mendekat. Merasa heran sebab mereka membawa serta polisi untuk datang ke rumahnya.
"Kami ingin memberitahu, jika Raden disekap oleh orang yang menerornya dan Erin dulu."
Miranti bergerak mendekat, matanya sudah menunjukkan sorot cemas. "Dimana? Dimana mereka menyekap putraku?!"
"Di gedung tua di perbatasan kota." Deni memberitahu.
"Kita lebih baik masuk ke dalam, dan membicarakan soal ini." Hakim mempersilakan Deni, Lina, Erin, dan dua polisi itu untuk masuk ke dan rumahnya. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Berdasarkan keterangan yang kami peroleh dari saudari Erin, tindakan penyekapan ini memang sudah direncanakan. Sebelum penyekapan ini, Pak Raden dan Ibu Erin menerima teror berupa paket ataupun telepon yang sarat ancaman. Pak Raden menerima teror melalui sambungan telepon, dan Ibu Erin yang dikirimi paket dengan isi paket yang sangat menakutkan. Ibu Erin juga telah menjelaskan, selama disekap disana, baik Ibu Erin dan Pak Raden mendapat perlakuan kasar, dan Ibu Erin mengalami pelecehan."
Miranti dan Hakim saling menatap, tak menyangka jika Erin dan Raden dalam situasi yang sangat sulit.
Erin berusaha menguatkan diri, kebenaran yang terjadi kemarin harus ia beritahu pada Miranti dan Hakim. "Yang dikatakan pak polisi ini memang benar, ayah, ibu. Seandainya kemarin tidak ada Mbak Ayana yang menolong Erin, mungkin Erin pun masih berada disana. Mbak Ayana merelakan dirinya menjadi tawanan mereka."
Kedua tangan Hakim terkepal. "Siapa pelakunya?"
"Budi dan Yordan."
Kemarahan Hakim semakin menjadi. "Lalu untuk apa lagi kita berada disini?! Kita harus membawa Raden dan Ayana keluar dari sana. Kondisi Erin saja sudah terlihat menyedihkan, apalagi kedua anak itu?!"
Salah seorang polisi dengan nama Agung itu berdiri, berusaha memberi pengertian pada Hakim. "Saya tahu kekhawatiran Bapak, tapi kita tidak bisa bertindak gegabah sekarang. Kedua korban akan dibuat celaka jika kita tidak berhati-hati dalam bertindak."
"Lalu sampai kapan kita akan menunggu disini?"
Deni menghela napas, kini bergerak mendekat pada Hakim. "Kita tidak boleh gegabah, Hakim. Polisi yang bertugas mengusut kasus ini jelas lebih mengerti. Kita harus ikuti arahan mereka, agar Raden dan juga Ayana bisa selamat."
Polisi lainnya bernama Akbar mendekat, dan mengangguk setuju dengan pernyataan Deni. "Betul kata Pak Deni. Sejak laporan ini kami terima, beberapa anggota kepolisian yang ditugaskan segera menuju ke gedung tua di perbatasan kota itu. Disana, terdapat beberapa orang bersenjata yang berjaga di depan gedung tua itu. Gegabah sedikit saja, nyawa Pak Raden dan Ibu Ayana yang akan jadi korbannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Twolove
RomantikTentang Ayana. Dengan segala kebodohan, ketidaktegasan, dan ketidakberdayaannya. Menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua, karena takut anak perempuan mereka akan tetap perawan di usia tua sudah bukan hal yang mencengangkan lagi. Ayana Gayatri...
