Siang di hari yang sama Jenisa sendiri tengah bertempur di kitchen restoran untuk melayani para pelanggan. Siang hari merupakan waktu yang cukup sibuk dengan jam istirahat kantor yang membuat restorannya selalu terisi para karyawan yang kelaparan, Jenisa juga dua chef lain berusaha untuk memenuhi semua pesanan, hingga tak lama seorang masuk membuat sang owner menoleh.
"Kang Arif..?"
"Maaf Non, saya lama balik ke restoran. Tadi saya ditawari makan dulu, jadi saya ikut makan."
Jenisa sejenak termenung mendengarnya, terlebih pada point yang diucapkan salah satu chef restoran-nya tersebut di mana Jenisa kenal betul Kang Arif merupakan tipe orang yang bahkan tidak pernah rela mengorbankan waktunya yang berharga terbuang percuma hanya untuk ikut menemani seseorang makan. Terlebih bila mengingat wataknya yang keras kepala juga sekeras apa usaha Jenisa guna membujuk Kang Arif menggantikannya memasak untuk sang pengacara, akan lebih masuk akal untuk meyakini jika chef-nya itu akan lebih memilih menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan bergegas kembali bekerja di restoran dari pada menemani seorang pria dewasa makan siang. Namun tanpa sadar sekelebat ingatan melintas dalam pikiran, sesuatu yang mungkin saja bisa mengubah keputusan Kang Arif untuk lebih memilih menetap dan bisa membuatnya masuk akal.
"Aku... A-aku, enggak mau makan sendirian." Masih dapat Jenisa ingat dengan jelas pria itu bergumam pelan dengan mata yang hampir terpejam, nada yang lemah dan seolah mengundang rasa kasihan.
"Aku benci sendirian. Itu alasan semua kekonyolan ini, itu juga alasan aku mempermainkan kamu." Pria itu tersenyum dengan mata redup seolah tengah mabuk dan kesadarannya hendak terenggut.
"Aku... enggak mau sendirian." lanjutnya lirih. "Karena itu, jangan tinggalin aku lagi."
"Non, kalau begitu saya mau balik kerja." Pamit Arif, yang membuat Jenisa kembali tersadar dan memfokuskan perhatian pada lelaki di depannya yang tengah memakai mengikatkan tali apron di belakang punggung. Sementara itu Jenisa hanya mengangguk pelan sebagai jawaban lalu kembali menata hasil masakan di atas piring.
*****
Pagi di hari yang baru Tetto tengah duduk nyaman di atas sofa menikmati hari cutinya yang membosankan dengan menonton serial kartun satu kebiasaan yang memang tidak bisa berubah bagi sang pengacara muda yang melalui masa kecilnya dengan diwarnai karakter fiksi yang dulu sering tayang di akhir pekan. Namun di tengah kesibukan-nya yang tengah serius tertawa menikmati adegan kejar mengejar tikus dan kucing yang tidak pernah berdamai, bunyi bel di pintu depan terdengar memenuhi ruangan pertanda jika seseorang hendak bertamu, dan tanpa perlu terlebih dulu memastikan siapa yang datang melalui lubang intip karena tahu bila Arif lah satu-satunya orang yang datang -yang juga merupakan utusan dari restoran Jenisa- untuk memenuhi perjanjian antara dirinya dan sang pemilik restoran. Mengingat hal tersebut tanpa sadar memantik emosi sang pengacara dan kemarahan menguasai hatinya, mengingat bagaimana Jenisa berkelit hanya untuk menghindar dengan menggunakan orang lain membuat Tetto merasa menjadi pihak yang terlihat buruk karena memaksa secara tidak langsung juga membuat Arif memasak hanya untuknya seperti seorang pesuruh.
"Mas Arif, mending gak usah masak lagi di sini, saya gak apa-apa. Masak aja buat pelanggan di restoan, itu lebih penting dari pada melayani lelaki manja. Mas Arif sendiri yang bilang, saya enggak apa-apa."
Menyadari tak ada sahutan dari lawan bicaranya membuat Tetto kembali bersuara untuk memastikan.
"Mas?"
"Ohh, oke kalau begitu."
Dan setelah mendengar suara yang ia yakini bukan suara seorang pria. Tetto mulai menaikkan kepalanya yang semula menunduk karena merasa kurang nyaman mengatakan kalimat pengusiran tersebut setelah Arif jauh-jauh datang, namun saat melihat dengan mata kepala sendiri siapa lawan bicaranya sedari tadi membuat Tetto tak bisa untuk tak terkejut dengan mata melotot karena mendapati sosok seorang lain yang tengah berdiri di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomanceBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
