70. HTS-an (3)

14 1 0
                                        

Beberapa menit sebelumnya..

"Jenisa."

Gadis dengan surai bergelombang yang diikat menjadi satu itu menoleh dan mendapati seorang pria blasteran yang sebelumnya memanggil tengah berjalan mendekat.

"Kenapa?" tanya Jenisa penasaran.

"Come here, aku mau minta pendapat soal resep eksperimen baru yang ku buat." Ato a.k.a Alberto menarik lengan sang bos pelan menuju kitchen counter wilayahnya.

"Iya-iya bentar." sahut Jenisa lalu memilih mematikan terlebih dulu nyala api di kompornya.

Mengikuti ke mana pemuda berdarah Eropa itu membawanya, kini Jenisa sudah berdiri di belakang Ato yang tengah mengaduk sebuah saus eksperimen juga pasta di dalam teflon yang tengah di panaskan. Tak butuh waktu lama untuk pemuda itu memberikan sedikit sampel masakannya dalam sendok, sementara bagi Jenisa yang memang dibutuhkan untuk mencicipi hanya menerima saja suapan yang diberikan Ato padanya. Sejenak gadis itu mencoba berpikir guna meresapi sensasi asing yang menjalar di lidahnya.

"Rempahnya kuat banget." ungkap Jenisa mengemukakan pendapat dengan alis bertaut.

"Sudah terasa, ya? Aku coba pakai rempah khas Indonesia. Gimana menurut kamu?"

Entah bagaimana Jenisa harus mendeskripsikan rasa yang baru pertama kali dicicipinya tersebut. Kerutan di dahi sudah menandakan jika gadis itu tengah menahan gejolak dalam mulut, namun gadis itu tak sampai tega untuk memuntahkah kembali hasil masakan yang telah dibuat susah payah oleh kawannya. Melihat wajah Ato yang tampak antusias menunggu masukan, membuat Jenisa tak sampai hati untuk menyakiti pemuda itu dengan komentar buruk.

"Emmm, gimana ya." gadis itu menjeda mencoba untuk berpikir. "Rasa yang aku cicipi ini. Emmm..... s-sedikit unik. Iya ini unik." Lanjutnya yakin setelah menemukan kata yang tepat. Unik sendiri memiliki arti yang luas, karena itu Jenisa tak perlu membohongi Alberto mengenai komentar yang diberikan.

"Thank's, Jenisa. You're the best boss I ever had." Ato yang kegirangan langsung memeluk gadis di depannya tanpa berpikir panjang, membuat Jenisa yang mendapatkan pelukan tersebut hanya bisa tertawa sumbang karena telah memberi harapan palsu.

"So, resep ini boleh naik ke buku menu?" tanya Ato lagi dengan wajah yang menunjukkan harapan besar. Binar di matanya membuat Jenisa harus ekstra menguatkan iman untuk menolak ide tersebut.

"Emm, untuk yang satu itu..." Gadis itu mencoba menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sebagaimana gestur yang kerap kali ditunjukkan orang yang tengah kebingungan. "Tentu saja. Hanya saja resep unik ini bisa lebih disempurnakan. Kamu bisa eksplor lagi, mungkin?"

Bersyukur Ato hanya mengangguk dengan tak menghilangkan senyumannya yang lebar hingga Jenisa bisa sejenak menarik napas lega. Entah karena pemilihan katanya yang bijak atau memang suasana hati pemuda itu yang terlampau baik, hanya saja satu yang pasti ialah fakta bila ia tak sampai harus menyakiti hati pria yang telah membantunya selama satu tahun di benua biru tersebut. Jenisa tak akan pernah lupa kebaikan Alberto dan keluarganya selama ini.

Selesai dengan urusan sang pemuda blasteran, Jenisa kembali menekuni membuat salah satu menu andalan di kitchen counternya sendiri. Namun tak untuk waktu yang lama, gadis itu lagi-lagi harus menghentikan kegiatan saat suara dering ponsel terdengar. Alhasil Jenisa harus meminta salah satu staf chef-nya untuk berganti menangani masakan yang tengah diselesaikan. Nama Yoga tertera di layar ponsel yang menyala dan mati secara teratur sebagai ID caller yang melakukan panggilan. Butuh beberapa detik bagi gadis itu untuk menerima panggilan masuk tersebut setelah lebih dulu menarik napas dalam.

"Hallo?" sapa Jenisa lebih dulu.

"Hmm... Hallo Jenisa. Kenapa tadi chat aku?"

"Ah, itu... Aku mau tanya apa kamu punya waktu luang? Aku.... enggak, maksudnya, temanku ada yang butuh bantuan kamu. Jadi, apa...."

DANGEROUS WOMANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang