"Pak, Tuan Revin sudah menunggu di ruang meeting." Rendi yang baru datang langsung menyampaikan informasi mengenai kedatangan sang klien
"Hmm, oke. Kita langsung ke sana."
Sudah lebih dari seminggu Tetto menjalani kehidupan lamanya, kehidupan tanpa gadis bernama Jenisa. Tak seperti kebanyakan orang yang akan mengalami patah hati berkepanjangan, pria itu tidak bertingkah demikian. Memang siapa Jenisa, bahkan mereka tak berada dalam sebuah hubungan sehingga Tetto bisa merasa sakit hati ditinggalkan wanita itu.
"Lina ke mana?" tanya Tetto sambil berjalan keluar dengan Rendi mengikuti di belakang.
"Dia masih di kubikel. Kalo Dinda sudah duluan di ruang meeting."
Mendengar informasi dari Rendi membuat Tetto tak langsung melangkahkan kaki menuju ruang meeting seperti tujuan awal. Mengetahui jika Lina yang tengah tertidur di kubikelnya dengan kepala di atas meja membuat Tetto yang melihat itu sedikit merasa geram. Gadis itu, bahkan dia masih bisa tidur di saat jam kerja. Dengan tidak berperasaan, Tetto mengambil beberapa kertas yang tersedia lalu menggulungnya menjadi sedemikian rupa untuk digunakan memukul gadis yang masih saja tak menyadari kehadirannya.
PLATAK......
"Aduh." keluh Lina dengan sebelah lengan mengusap bagian belakang kepalanya. Sejujurnya sakit yang didapati memang tak seberapa terlebih hanya dipukul menggunakan gulungan kertas. Namun yang membuat Lina marah ialah karena aksi tersebut sukses mengejutkan dan menariknya dari alam mimpi secara paksa.
"Sialan. Berani-be......"
"Apa, apa?" tanya Tetto dengan wajah menantangnya. "Masih bisa ya tidur di jam kerja. Cepet bangun, ikut gue meeting!" lanjutnya dengan nada memaksa. Terbukti dari tangannya yang sudah menyeret kerah belakang Lina seperti hewan terlantar.
"Ih, gak usah gitu juga kali. Di pikir gue kucing." keluh Lina kesal sambil berdiri dari kursi. "Lagian kenapa sih harus ajak gue. Gue tuh masih pusing." lanjut si gadis berambut bob mengeluh sambil memegang bagian samping kepalanya.
"Kebiasaan elo masih gak berubah ternyata."
Bukan rahasia lagi alasan kenapa wanita itu pusing di hari Senin yang merupakan hari pertama dalam mengawali satu pekan penuh. Tetto cukup mengenal gadis itu untuk tahu kebiasaannya.
"Lo tuh yang kelewat kaku. Masa muda itu harus dimanfaatkan buat bersenang-senang, jangan cuma kerja." Lina menasihati, "Jangan pikir gue pikun, jawab pertanyaan gue kenapa gue harus ikut meeting segala?"
Keduanya tetap berjalan menuju ruang meeting dengan pintu kaca yang terletak di sudut lain ruangan. Kantor firma ATP memang berdomisili di sebuah gedung di pusat kota. Pak Ahmad sebagai pemilik menyewa satu lantai sebagai kantor untuk para staffnya. Karena itu di satu lantai yang sama semua sudah tersedia. Begitu pun ruang meeting yang hanya perlu berjalan menuju sudut ruangan.
"Meeting kali ini soal kasus penipuan Pak Revin. Cuma lo yang tahu detail ke mana temennya yang bawa kabur uang dia." Jawab Tetto singkat.
"Lo percaya gitu aja dia nggak cari uangnya sendiri dan malah sibuk datang ke firma hukum? Orang yang punya kekuasaan kayak dia tuh gak sulit buat lacak di mana lokasi uangnya yang dibawa kabur dari pada dari informan kayak gue, To." kesal Lina.
"Iya gue tahu, bahkan gue juga gak yakin dia mau tuntut temennya itu. Mungkin alasannya cuma buat gertak doang." Balas Tetto menjelaskan. "Tapi yang pasti, kita harus kasih pelayanan hukum terbaik. Dia klien VIP, bahkan Pak Ahmad sendiri yang minta gue buat terjun ke kasus sepele kayak gini."
"Terserah aja lah. Toh, ini sekedar formalitas doang." balas Lina tak acuh lalu menghentikan pembicaraan saat pintu ruangan sudah Tetto buka.
Hal pertama yang di lihat Lina dari balik kacamatanya ialah kehadiran Dinda si anak magang yang tergabung dengan tim kuasa hukum Revin. Lalu menggeser mata sedikit, didapati seorang pria yang bisa ditaksir baru memasuki umur awalan tiga puluh tengah menatap mereka dengan tatapan dingin. Lina memilih mengambil alih kursi tepat di samping Tetto. Meja bulat besar yang digunakan membuat jarak antara empat orang yang duduk di sana cukup terbentang jauh satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomansaBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
