19. Closer (3)

50 10 0
                                        

Berbanding terbalik dengan Tetto yang merasa risih menjadi pusat perhatian, lain lagi dengan Jenisa yang seolah memilih tidak peduli dengan komentar dan persepsi banyak orang. Gadis itu dengan santai mengambil tempat duduk tepat berhadapan dengan mengisi kursi kosong di meja yang sama dengan meja yang Tetto tempati sendirian. Setelahnya Jenisa hanya diam, bukan hanya mengabaikan perhatian banyak orang, gadis itu bahkan mengabaikan laptop juga buku referensi yang baru saja dipinjam di atas meja dengan mata sibuk memandang dalam diam seolah satu kata saja bisa menghancurkan konsentrasi si pria berkacamata yang tepat duduk berhadapan. Memang sedari awal Jenisa tidak berniat membuka pembicaraan, namun membiarkan gadis itu lebih lama melakukan hal tersebut sementara Tetto sendiri sadar bila dirinya sedang diperhatikan malah lebih membuat tidak nyaman seolah setiap gerak gerik dan ekspresi-nya tengah diawasi dan menjadi hiburan bagi orang lain dan itu sangat menyebalkan.

"Kak Jenisa?" panggil Tetto dengan suara pelan setelah menutup buku yang tengah dibaca.

Merasa mendengar namanya dipanggil, Jenisa sendiri tersadar telah melamun dan mendapati saat yang diamatinya ternyata sudah balik menatap dengan sorot protes yang tidak bisa ditutupi. "Ya?"

"Apa ada yang salah di wajah saya?"

"Kenapa kamu tanya begitu?" bukannya menjawab, Jenisa justru balik bertanya.

Mencoba untuk memelankan suaranya terlebih Tetto sadar dia tengah berada di perpustakaan membuat pemuda berkacamata tersebut memilih mendekatkan wajah untuk berbisik agar suaranya tetap bisa didengar. "Dari tadi, kak Jenisa lihat wajah saya terus... saya nggak nyaman." Ungkap Tetto terus terang.

"Kamu yakin mau tahu?" melihat bagaimana pemuda itu mengangguk yakin sebagai sebuah jawaban membuat Jenisa tergoda untuk menjahili. "Dari tadi aku penasaran sama satu hal." Gumam Jenisa dengan tangan terulur membuat Tetto yang kebingungan hanya bisa diam seperti orang bodoh saat sadar bila sasaran dari tangan Jenisa tak lain ialah rambutnya.

"Aku pikir di rambut kamu ada ketombe." Ungkap Jenisa berbisik dengan tangan yang sudah mengambil serbuk putih dari rambut lelaki di depannya dan menunjukkannya secara langsung.

Salah besar bila ia berpikir gadis itu hanya penasaran akan sensai mengelus surai hitam lembut miliknya, nyatanya Tetto bahkan terlalu percaya diri hingga harus berujung menahan malu saat Jenisa bahkan menunjukkan secara langsung apa yang membuat gadis itu penasaran. Merasa tak terima karena rambut yang selalu ia rawat dengan baik selayaknya duta shampo secara tidak langsung dikatakan sebagai sarang ketombe membuat Tetto mau tak mau meradang hingga tanpa sadar mengeraskan suaranya dalam berbicara.

"S-saya rutin keramas." Sangkal Tetto. Tak kurang pemuda itu juga mencoba mengacak rambut yang sudah ditata rapi sedari pagi untuk membuktikan tidak ada ketombe yang berjatuhan. Namun beberapa serbuk putih yang terjatuh di atas meja membuat pemuda berkacamata tersebut dibuat bungkam karena fakta yang berbicara tidak seperti apa yang dia jelaskan. Terlebih saat mendengar teguran dari beberapa orang yang memintanya diam membuat Tetto hanya bisa menahan rasa malu dalam diam meski dalam hatinya pemuda itu ingin segera melarikan diri guna mencari toilet terdekat untuk melakukan keramas ulang.

Sementara di tempatnya Jenisa sendiri hanya tersenyum tipis mengamati bagaimana rona merah itu menjalar ke seluruh wajah yang coba disembunyikan dengan menunduk dan berpura-pura fokus melanjutkan bacaan. Memperhatikan bagaimana tangan pemuda berkacamata itu bergetar gelisah saat membalikkan tiap lembar halaman, juga saat matanya bergerak gelisah yang menunjukkan bila Tetto bahkan sudah kehilangan konsentrasi untuk melanjutkan membaca tiap halaman, dan saat tonjolan di leher pemuda itu terlihat naik turun seiring saliva yang ditelan. Sungguh pria yang aneh, tapi entah kenapa sedari tadi matanya tidak bisa lepas dan berpaling untuk mengamati reaksi pemuda itu seolah apa yang dilihat adalah sebuah kesatuan karya seni yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Menyadari bila Tetto yang pemuda di depannya tampak tidak nyaman -terlebih Jenisa sadar itu ialah hasil perbuatannya- membuat gadis itu tak tahan untuk buka suara mengalihkan pembicaraan masih dengan nada berbisik pelan karena sadar mereka masih di perpustakaan.

"Kamu memang selalu di sini?" tanya Jenisa.

Tetto yang semula diam mengangkat wajah dan mendapati gadis itu tengah bertanya menyelidik. Seketika keresahan yang selama ini dia pendam menjadi kenyataan, bila mana jika Jenisa sampai sadar mengenai modus yang dia jalankan dengan sengaja selalu menunggui kehadiran gadis itu di perpustakaan tepat di hari menjelang akhir pekan. Apakah selama ini tingkahnya sudah disadari sedari awal, karena jika benar saat itu juga Tetto akan melarikan diri dan mencari kolam untuk menenggelamkan diri karena rasa malu yang tidak berkesudahan. Belum selesai dengan urusan ketombe yang membuatnya tengsin setengah mati, jangan bilang gadis itu bahkan menyadari bila dia selama ini telah menguntit gadis itu dalam diam. Namun bukannya praduga yang sebelumnya ditakutkan menjadi kenyataan, jauh dari itu semua justru hal berbeda yang tidak pernah disangka yang akan Tetto dengar, mengenai alasan kenapa gadis itu selalu berkunjung di hari menjelang akhir pekan.

"Kamu tahu perpustakaan bukan tempat favoritku?" Jenisa menjeda kalimatnya dengan mata yang tampak menerawang mengamati suasana perpustakaan. "Hanya saja, cuma di perpustakaan yang menjadi satu-satunya tempat buat aku melarikan diri. Di sini hening dan tenang, sesuatu yang sulit aku dapat dari tempat lain di luar sana."

Tetto sadar betul dunianya dan sang kakak tingkat tidak bisa disamakan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, mereka tidak lebih bagai langit dan bumi. Jenisa itu terlalu cantik hingga setiap lelaki normal bisa dipastikan ingin menjadikannya pasangan, tak heran sosoknya begitu populer dan menjadi sorotan banyak orang. Namun yang tidak pernah Tetto ketahui ialah dibalik sosok-nya yang ceria dan ramah ada sisi lain dari seorang Jenisa yang merasa tertekan hingga menjadikan perpustakaan sebagai tempat pelarian, terlebih gadis itu sengaja memilih hari terakhir sebelum akhir pekan karena di hari tersebut pengunjung perpustakaan jauh lebih banyak berkurang. Tetto tidak sebodoh itu untuk menyimpulkan hal tersebut meski hanya mendengar sedikit mengenai arti sebuah perpustakaan bagi seorang Jenisa.

"Jadi, kenapa kamu sering ke sini?" tanya Jenisa kemudian setelah lama terdiam.

Tidak langsung menjawab, pemuda berkacamata tersebut memilih sejenak terdiam untuk memikirkan sebuah jawaban yang sesuai, tentu saja Tetto tidak akan mengatakan dengan terus terang mengenai alasannya berkunjung ke perpustakaan tepat di hari yang sama dengan hari kunjungan Jenisa bukan merupakan sebuah kebetulan melainkan kesengajaan yang sudah dipersiapkan. Karena itu, Tetto butuh waktu untuk memikirkan jawaban yang tidak mengada-ada dan masih terdengar masuk akal untuk meyakinkan gadis itu.

"Saya ke perpustakaan berusaha untuk tidak terlihat mencolok dari yang lain, juga supaya saya tetap sadar untuk tetap berada diposisi yang seharusnya." Jawab Tetto lugas.

DANGEROUS WOMANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang