Tetto Tegar Sebastian terbiasa menahan diri, entah sejak kapan kebiasaan itu selalu dilakukan. Dulu kehidupan masa kecilnya memang tak terlalu indah untuk dikenang, banyak yang tak menyukai dan mengejeknya dengan berbagai kata hinaan. Meski begitu, Tetto kecil hanya bisa menahan dengan mengepalkan tangan kuat dengan tetap menunjukkan senyum tipis. Baginya bermain, mengejek, itu sudah menjadi hal lumrah. Karena itu Tetto kecil tak suka dan tak mau ambil pusing dengan merasa sakit hati atas perlakuan orang yang tidak menyukainya. Namun karena hal tersebut pula, tanpa disadari Tetto mulai terbiasa melakukannya. Dia mulai terbiasa dengan menahan diri dan segala emosi dibalik seutas senyuman. Tuan Tegar selalu mengajarinya bila sebagai seorang anak laki-laki ia harus terlihat tetap tegar dan tidak cengeng, seperti nama tengahnya yang juga merupakan nama sang ayah, yaitu Tetto Tegar Sebastian. Mungkin karena itu juga yang membentuk karakternya jadi seperti sekarang.
Namun semakin lama Tetto menahan, semakin berat beban yang ditanggung. Entah karena sudah tak sanggup lagi menahan semua beban tersebut atau apapun itu alasannya, namun untuk pertama kali dalam hidupnya ia tak ingin lagi menahan diri. Pengacara itu ingin meluapkan segala sesuatu yang sudah lama dia tahan selama ini. Namun siapa sangka aksi pelampiasan seorang Tetto membuat dirinya kini harus berakhir duduk di kantor polisi sebagai tersangka kasus penyerangan dengan seorang pria babak belur yang tengah duduk di kursi lain. Jangan lupakan keberadaan seorang gadis yang sudah berniat tak akan ditemuinya, kini berada di antara mereka.
Ini semua berawal pada hari itu......
Pagi yang cerah untuk mengawali hari. Aktivitas di kantor firma ATP sudah cukup ramai akan para pegawai, begitu pun dengan seorang pria yang sudah datang bahkan sebelum isi kantor ramai seperti sekarang. Pria itu asik berkutat dengan beberapa berkas mempelajari permasalahan yang tertera di sana dengan wajah serius. Suara dering panggilan dari pesawat telepon di meja menghentikan kegiatan si pria, dengan malas pria tersebut menerima panggilan yang tidak lain berasal dari Rendi, sang sekretaris, yang memberi tahu jika ada telepon dari klien dan meminta persetujuan untuk mengalihkan panggilan. Setelah ditanyai dari siapa panggilan tersebut berasal, Tetto -pria yang sebelumnya berkutat dengan berkas-berkas tersebut- akhirnya menyetujui.
Pertama kali mendengar sapaan dari jenis suara yang cukup berat dan dalam tersebut, Tetto masih tampak tenang.
"Tuan Tetto? Apa kabar?"
"Panggil nama saja, saya merasa kurang nyaman, dan untuk pertanyaan Anda, kabar saya baik, Pak Revin." Balas pemuda itu sejenak menjeda kalimatnya untuk fokus membalik kertas. "Bisa to the point saja, ada urusan apa?"
"Wah-wah Anda gak suka basa-basi, ya. Baiklah." di seberang sana Revin tersenyum tipis saat mendengar jelas Tetto yang seolah tak ingin membuang waktu. "Saya mau meminta untuk bertemu."
"Kalau boleh tahu dalam rangka apa? Kalau pun ada pembahasan mengenai keberlanjutan gugatan Anda, akan kami informasikan. Pihak firma akan menghubungi duluan jika memang diharuskan, bahkan kelengkapan berkas Anda masih disiapkan saat ini." Tanya Tetto dengan ketenangannya menjawab.
"Loh-loh... Jangan cepat menolak seperti itu, Tetto. Saya cuma mau menjamu kalian sebagai tanda terima kasih."
"Tidak perlu, lagi pula saya sudah sarapan. Saya juga yakin pemimpin perusahaan seperti Anda pasti sibuk. Saya tidak mau merepotkan."
Sementara Tetto yang masih santai bermain dengan bolpoin menjawab santai dengan tangan sibuk mencoret di beberapa kata yang ada di kertas. Sementara itu di kantornya Revin merutuki lawan sang bicara yang memiliki mulut setajam pisau.
"Ahahaha, Anda bisa saja. Saya mentraktir untuk makan siang, bukan sarapan."
"Tapi ini belum jam makan siang." balas Tetto sambil melirik arloji di pergelangan tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomanceBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
