73. How to be Ex? (1)

16 1 0
                                        

Masa lalu...

"Wahhh kenyang terus gue kalau main di sini." cetus seorang pria dengan mulut penuh akan camilan. "Kalo begini ceritanya, mending gue tinggal di sini aja." celutuknya lagi.

"Hmm, gue juga betah nih. Koneksi WIFI-nya bagus." tambah pemuda lain yang diangguki temannya yang tengah merebahkan diri di sofa.

"Yakkk... Kalian, dasar temen-temen laknat." Satu orang yang baru tiba dan masih berdiri di ambang pintu tak bisa untuk tak berteriak melihat kondisi ruangan yang baru dimasukinya tersebut. "Mas Dim, elo juga. Itu brownis dari emak gue buat si Tetto, kenapa main di embat aja." lanjut Dendi memprotes.

Merasa tak habis pikir, Dendi hanya bisa memegang kepalanya yang mendadak merasa pening melihat kondisi ruang inap sang kawan yang sudah luluh lantah seolah terkena badai. Namun entah kenapa orang yang tengah terbaring di ranjang pasien tampak tak terganggu dengan hanya diam menatap kosong keluar jendela. Melihat itu membuat Dendi hanya bisa menghela napas pelan.

"Apa sih, orang Tetto sendiri nggak keberatan kok." balas Dimas membela diri.

"Udah. kalian iki bikin ribut aja. Pada pulang sana! Jam besuk juga sudah mau habis. Di depak sekuriti baru tahu rasa." ancam Aji yang tiba-tiba muncul dari belakang punggung Dendi. Pemuda asal Solo itu menerobos masuk, melewati tubuh besar sang kawan yang menjulang di pintu ruangan.

"Biar gue aja yang jaga si Tetto." pinta Ilham mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang sedang dimainkan.

"Halah, bilang aja kamu mau menghindar dari bapak kos, Mas." cibir Aji memilih duduk di ujung ranjang Tetto

"Biar gue aja yang stay di sini." Sela Dimas memberi usulan dan langsung mendapat penolakan dari teman-temannya..

"Yang paling bener itu gue." Cetus Dendi mengajukan diri.

"Kalian pada pulang! Biar Tetto gue yang jaga Tetto di sini." Sela satu suara dari arah pintu ruangan. Rama yang sadar telah menjadi pusat perhatian tampak tidak gentar sekalipun sorot mata para temannya secara tidak langsung sudah menyuarakan rasa tidak setuju atas usulan tersebut. Bagaimana pun Tetto dan Rama tidak boleh ditinggalkan dalam satu ruangan yang sama berdua setelah insiden yang terjadi tempo hari.

"Aku mau ikut jaga Tetto di sini." Tambah Aji kemudian saat sadar bila tekad Rama sudah tidak bisa lagi diganggu gugat.

Tak berapa lama seorang suster datang membawa nampan berisi makan malam. Tak hanya itu, sang suster juga mengusir para penjenguk karena bisa mengganggu jam istirahat pasien. Seperginya anak-anak kos yang datang menjenguk. Kini tinggallah Tetto sendiri di dalam ruangan yang luas tersebut. Di tempatnya duduk tepat di samping ranjang pasien, Dendi sibuk menghabiskan brownis yang disiapkan orang tuanya untuk Tetto. Sementara Aji yang duduk di ujung ranjang menatap tak percaya pada sang kawan.

Menolehkan mata, Aji yang sudah mengambil posisi duduk ti tepi ranjang memilih memfokuskan diri pada Tetto yang hanya diam dengan nampan berisi makanan. Sementara Rama sudah menduduki single sofa dan sibuk bermain ponsel sendiri.

"Di makan To, biar cepet sembuh."

"Gak napsu. Rasanya hambar."

"Namanya juga makanan rumah sakit." Lanjut pria itu menasihati. "Mau tak sekalian aku suapi biar kamu mau makan?"

DANGEROUS WOMANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang