24. All About Business (4)

52 10 0
                                        

Gelisah, resah, takut, juga rasa bersalah, datang silih berganti tiada henti menyerang seorang gadis yang hanya bisa diam termenung menunggu di depan sebuah kamar rawat inap seorang pasien. Terlihat jelas bagaimana rasa frustrasi dari penampilannya yang sedikit kacau, rambut yang hanya di cepol asal bahkan Jenisa baru sadar sandal yang dikenakan tidak selaras antara kiri dan kanan. Meski demikian, kecantikan gadis itu tak berkurang terbukti dari bagaimana sosok-nya yang menerima banyak perhatian. Namun semua perhatian yang didapat tidak dihiraukan sama sekali, rasa khawatir yang menyelimuti hati lebih mendominasi hingga gadis itu bahkan lebih memilih menunggu sambil berdiri di depan pintu ruangan rawat inap dari pada duduk di kursi. Jenisa meremas tangannya sendiri menunggu seorang dokter yang tengah memeriksa pasiennya.

Tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya jika hal semacam ini akan terjadi. ia pikir Tetto yang saat ini tengah menjadi salah satu pasien rumah sakit hanya berpura-pura memainkan peran tokoh yang teraniaya. Tapi kebenaran tak berbicara seperti yang Jenisa pikirkan, karena saat ini dia tengah berada di rumah sakit menunggu pria itu selesai melakukan pemeriksaan karena Tetto benar-benar kesakitan dengan cara yang menyedihkan, dan itu semua karena keteledorannya. Apa jadinya jika Jenisa terlambat atau paling buruk gagal membawa pria itu secepatnya ke rumah sakit, tidak akan lucu jika Tetto harus meregang nyawa di tempat usahanya. Jenisa tidak ingin arwah pria itu sampai menghantui dan meneror hanya karena secara tidak langsung dialah tersangka yang membunuh pria itu dengan memerintahkan perintah pada juru masaknya untuk membuat ravioli tanpa memberitahukan bawa isian yang dipakai tidak seharusnya menggunakan seafood.

Suara pintu yang terbuka begitu menyita perhatian Jenisa yang sedang termenung. Di sana, tempat diambang pintu ruangan seorang pria dengan jas putihnya keluar. Untuk beberapa alasan gadis itu tak lantas membuka mulut untuk sekedar menanyakan bagaimana kondisi pasien yang dibawa.

"Hai." sapa pria dengan snelli lengkap dengan senyumnya yang menawan.

Namun bukannya merasa terpesona oleh senyum seorang pria dengan paras rupawan, akan lebih sesuai mengatakan bila raut terkejutlah yang justru Jenisa tunjukkan dengan masih membisu memandang tak percaya pada dokter di hadapannya, bahkan sapaan itu tak kunjung direspon dengan masih tetap diacuhkannya.

"Kamu, baik-baik saja?" lagi dokter itu bertanya karena gadis di depannya tak kunjung memberi respons.

"Ahh... Maaf, kenapa?"

"Kamu nggak apa-apa?"

"Iya." Jawabnya yakin yang langsung mendapat tatapan lekat sang dokter seolah pria itu tengah memastikan sesuatu atas jawabannya. "Itu... Gimana kondisi dia sekarang?" Merasa sedikit terintimidasi akan tatapan lekat yang ditunjukkan, Jenisa memilih untuk menghindar dengan mengalihkan pembicaraan.

"Boleh aku tahu, dia siapa kamu?"

"Kita enggak sedang dalam kondisi bisa saling mengajukan pertanyaan pribadi sekarang."

Terlihat sangat jelas bila sang dokter menghela nafas pelan seolah menunjukkan rasa kecewa saat pertanyaannya tidak mendapat jawaban. Namun sesaat kemudian pria itu kembali tersenyum dengan begitu manis. "Dia baik-baik saja. Sekarang masih belum sadar, tapi sebentar lagi mungkin akan bangun."

"Syukurlah." Setidaknya Jenisa bisa bernapas lega saat mengetahui kondisi Tetto sudah membaik. "Boleh aku masuk?"

Pria dengan snelli yang biasa digunakan para dokter itu mengangguk pelan, namun tak sampai di situ keterkejutan menyambut Jenisa dengan mempertemukan mereka berdua di situasi yang tidak terduga. Gadis itu harus kembali menahan napas karena sebelah tangan yang tiba-tiba dicekal saat hendak memasuki ruang rawat Tetto berada. Menolehkan mata pada tangan lain yang menggenggam pergelangan tangannya, Jenisa mendapati sang pemilik lengan seolah enggan untuk melepaskannya pergi.

"Bisa kita bicara berdua?" tanya sang dokter lirih.

Diam adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan, ia tak bisa sekedar melontarkan penolakan atau menyetujui ajakan tersebut secara impulsif. Ia hanya bisa menelan saliva dengan susah payah dan mencoba menenangkan diri sendiri berharap pria itu sadar dan melupakan tawarannya karena bosan menunggu jawaban. Namun mengharapkan itu sama saja membiarkan dirinya tertahan lebih dalam situasi canggung tersebut dengan banyak mata yang mengawasi mereka, mencoba menguatkan hati satu kata coba Jenisa keluarkan untuk menolak ajakan tersebut karena sadar bila tujuannya di sana tak lain untuk mengantar Tetto.

"Yoga, maaf sebelumnya tapi......"

"Aku... kangen sama kamu. Lagi pula sudah lama kan kita nggak ketemu, Jenisa?"

Tamat sudah, seolah sudah tersudutkan dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk menghindar Jenisa hanya bisa diam tak bisa untuk sekedar mengeluarkan satu kata penolakan untuk menolak ajakan sang dokter untuk bertemu di lain kesempatan. Jenisa bahkan dibuat kelabakan saat sorot mata lelaki di depannya seolah menyiratkan tidak mengharapkan kalimat penolakan, terlebih semakin lama dibiarkan ia sadar akan semakin banyak orang yang menyaksikan adegan drama yang tengah mereka peran kan, entah itu pada seorang suster yang setia menemani langkah Yoga, juga pasien dan perawat lain yang nampak penasaran.

"Oke..." sahut gadis itu pelan. "Tapi nggak sekarang."

Meski niatan awalnya menolak ajakan tersebut, nyatanya Jenisa tetap tidak bisa berbuat banyak atau Yoga akan tetap menahannya dan mereka menjadi aktris dan aktor drama in real life yang lebih menarik dari pada tontonan televisi di mana seorang istri yang terus menangis karena diselingkuhi. Hanya satu yang bisa Jenisa lakukan setelah lidahnya berkhianat, yaitu mencoba menghindar karena meski ia menyetujui permintaan sang dokter. Ia tahu dirinya tak akan siap dalam waktu dekat, karena itu mencoba menyelamatkan diri dengan cara mengulur waktu menjadi satu-satunya jawaban yang bisa Jenisa pikirkan.

Sang dokter tersenyum lembut mendengar persetujuan gadis di depannya seolah hal tersebut memang sudah diperkirakan sekalipun persetujuan tersebut bersyarat. Tapi untuk memulai sesuatu, Yoga sadar sikap terburu-buru bukan merupakan sebuah jawaban dan pilihan terbaik yang bisa untuk dilakukan di pertemuan pertama mereka setelah sekian lama, maka dari itu Yoga hanya mengangguk pelan.

Meninggalkan sang dokter, Jenisa buru-buru berbalik arah memasuki ruangan inap sosok yang sudah tidak sengaja dicelakai tengah terbaring di atas ranjang. Namun tidak seperti apa yang dikatakan Yoga saat kali terakhir memeriksa pasiennya dan mendapati lelaki itu masih terpejam, di sana Jenisa mendapati pria yang sama yang beberapa saat lalu sekarat dengan kepala terkulai lemah di pundaknya kini sudah sadar dengan raut tatapan dingin yang ditunjukkan. Melihat itu membuat Jenisa sedikit gentar, bagaimanapun di sini dirinya yang bertanggung jawab atas kondisi Tetto yang harus berakhir masuk rumah sakit dan mendapatkan perawatan.

"Kamu... baik-baik saja?" tanya Jenisa terlampau pelan.

"Hmm..."

Meskiragu, Jenisa mencoba untuk tetap dudukdi satu kursi yang tersedia di samping ranjang pasien. Matanya menatap nanarpada kondisi Tetto yang belum banyak membaiksetelah terakhir kali dilihatnya di dalam mobil menuju rumah sakit,masih ada ruam merah di sekitar leher yang membuatnyaterlihat menyedihkan. Ada sebuahkeinginan yang menyelusup di hatiuntuk menyentuh luka sang pasien.

"Ini gak apa-apa?" Jenisa bertanya ragu dengan tangan yang hampir menyentuh pada leher Tetto. Entah keberanian dari mana, namun ia patut bersyukur pria itu tidak menolak dengan menepis tangannya kasar. Bahkan tanpa disentuh pun Jenisa sudah dapat merasakan suhu tubuh Tetto yang masih cukup tinggi dan keringat yang bercucuran.

"Kamu mau aku jawab jujur?" Balas Tetto dengan senyum tipis. Jeda beberapa detik untuk memberi Jenisa kesempatan menjawab dengan anggukan kepala pelan. "Bagaimana bisa aku baik-baik saja setelah semua ini, Hah? Kamu tahu, ini bahkan bisa dikategorikan sebagai percobaan pembunuhan?"

DANGEROUS WOMANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang