36. Office-Sial (Last)

18 8 0
                                        

"Aku minta maaf." Gumam Jenisa kembali buka suara.

"Buat apa lagi?"

"Buat luka yang kamu dapatkan." Lanjut gadis itu menjelaskan permintaan maafnya.

"Saya nggak apa-apa. Lagi pula..."

"Untuk ini juga." Tambah Jenisa dengan satu tangan yang menyerahkan benda persegi kecil dari dalam saku celananya.

Untuk sesaat Tetto dibuat terdiam saat mendapati sebuah benda yang bahkan tidak di sadari hilang dari genggaman sudah berada di tangan gadis itu dengan kondisi yang hancur, ponsel yang selama ini dia genggam entah sejak kapan sudah berpindah tangan dengan kondisi layar yang retak di beberapa bagian. Menerima kembali barang miliknya Tetto langsung mencoba untuk memastikan ponsel tersebut masih dapat digunakan, namun naas layang yang sudah retak tersebut tak kunjung menyala seiring dengan harapan sang pemuda berkacamata yang kian menipis setiap menit-nya.

"Aku bener-bener minta maaf. Karena aku kamu dipukul dan ponsel kamu juga sekarang jadi hancur." Ungkap Jenisa dengan kepala tertunduk.

Untuk beberapa alasan rasa khawatir-nya saat terus berusaha membuat ponsel-nya kembali menyala berangsur hilang, Tetto sadar rasa frustrasi yang tanpa sadar dia tunjukkan di hadapan Jenisa justru semakin menanamkan rasa bersalah dalam hati gadis itu tanpa sengaja. Karena itu bukannya terus mencoba dengan harapan sia-sia saat dia sadar betul ponselnya sudah tidak bisa terselamatkan, tanpa pikir panjang Tetto membuang benda persegi tersebut dengan sengaja.

"Kamu?"

"Kenapa?" tanya pemuda berkacamata tersebut balik bertanya. "Toh, ponselnya juga sudah ketinggalan zaman, mungkin itu pertanda buat saya ganti yang lebih baru untuk kebutuhan perkuliahan, kan? Jadi jangan dibahas lagi."

Sadar bila pemuda itu dengan sengaja menyudahi topik pembicaraan secara sepihak hanya untuk membuatnya merasa lebih baik membuat Jenisa termenung sesaat. "Bagaimana pun terima kasih buat yang sudah kamu lakukan sampai sekarang."

"Jenisa." Panggil satu suara dari arah belakang.

Menolehkan mata ke belakang, di sana seorang gadis dengan pakaian yang sama dengan yang Jenisa kenakan dan bisa dipastikan sebagai salah satu panitia tengah berdiri dengan tangan terlipat. "Di tunggu sama yang lain buat evaluasi."

"Sebentar lagi gue gabung, Rin." Balas Jenisa dengan senyum yang sama, senyum menipu yang mungkin memang sering ditunjukkan di depan banyak orang untuk membuat dirinya terlihat baik-baik saja.

Sadar bila gadis di sampingnya berniat pergi sebentar lagi membuat Tetto juga memilih berdiri. "Seperti yang kamu dengar, aku harus balik lagi ke dalam."

"Iya."

"Lain kali hati-hati, jangan sampai terluka lagi!"

"Iya."

"Jangan terlalu gegabah mengambil keputusan sampai kamu jadi terlibat masalah orang!" tegur gadis itu lagi

"Iya saya paham." Balas Tetto sambil menghela napas pelan.

Namun belum sampai sosoknya hilang dari pandangan, bahkan masih bisa Tetto hitung jarak yang terbentang di antara mereka hanya sejauh lima langkah, gadis itu kembali berbalik badan membuat Tetto harus menarik napas ekstra untuk mendengar nasihat yang sama dan entah sudah berapa kali dia dengar dari orang yang sama.

"Satu hal lagi..."

"Apa lagi?" tanya Tetto lelah. "Kalau kak Jenisa mau nasihati saya lagi, mending lain kali saja. Lagi pula kak Jenisa sudah ditunggu panitia yang lain di dalam sana,"

DANGEROUS WOMANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang