21. All About Business (1)

50 10 0
                                        

Seseorang pernah berkata. 'Jangan takut bermimpi' selagi bermimpi tidak dilarang dalam Undang-Undang. Di antara banyak orang yang mengatakannya, salah satu di antaranya ialah Jenisa. Gadis itu dulu pernah mengatakan jika dirinya boleh bermimpi dan seharusnya Tetto lebih tahu karena tidak ada larangan dalam hukum yang melarang seseorang untuk bermimpi, namun Tetto dewasa sudah tidak pernah lagi melakukannya. Pengacara muda itu tidak ingin lagi bermimpi dan berharap pada ekspektasi yang hanya akan berakhir menyakitkan karena tahu pada akhirnya dia hanya akan berakhir pada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Tetto bukan keledai bodoh yang akan mengulangi kesalahannya dengan jatuh pada lubang yang sama, karena pengalaman cukup mengajarinya dengan baik mengenai arti dari kenyataan dalam hidup.

Kini di sore yang cerah setelah berolahraga, dengan langkah ringan dan peluh bercucuran Tetto berjalan santai menuju sebuah restoran bergaya Italia di pinggir jalan. Senyum miring terukir di bibir pria tersebut karena sebentar lagi akan ada hal menarik yang terjadi, entah sejak kapan namun Tetto sudah membulatkan niat untuk membalas seorang gadis di dalam sana dengan cara mengusiknya saat bekerja. Namun ia tidak tahu saat mengambil langkah memasuki bangunan tersebut bukannya merealisasikan niatan awalnya, justru Tetto harus mendapati kenyataan bila dirinya kini tengah terjebak dan hanya bisa duduk menatap jengah seorang gadis menyebalkan yang tidak berhenti berbicara dengan cara banyak bertanya. Karena seharusnya ia bisa berpuas hati melihat raut kesal di wajah cantik gadis yang telah mencampakan-nya bukan gadis dengan bibir merah menyala seolah sudah menghabiskan kiloan bubuk cabai, karena sedari tadi Tetto harus bertahan menjaga telinganya agar tidak kepanasan mendengar segala hal yang keluar dari mulut wanita itu.

Di mana Jenisa yang berkilah menghindar dengan alasan membuatkan pesanan yang Tetto pesan namun tak kunjung kembali hingga sekarang. Kenapa pula dia harus duduk mendengarkan ocehan gadis antah-berantah yang tak pernah bosan menatapnya kagum dengan sorot memuja di depannya, bahkan lengkungan di bibir gadis itu tak surut terhitung sejak kehadiran Tetto menempati meja yang sama. Meski Tetto mengingat sosoknya sebagai salah satu sahabat seorang Jenisa di masa kuliah mereka, hanya saja berpura-pura tidak mengenal akan lebih baik untuk dilakukan dari pada terjebak dengan obrolan yang lebih panjang dengan topik mengenang masa lalu yang tidak memiliki kesan. Satu hal yang pengacara muda sadari sedari awal ialah sejak memperkenalkan dirinya, gadis itu tampak tidak banyak berubah dengan masih saja cerewet juga mulut pedas ala bon cabe level sepuluh yang berbicara tanpa henti seolah tengah kepedasan.

"Ehem... Kamu Tetto, kan? Aku sampai pangling lihatnya." Si gadis bernama Arin mulai kembali buka suara setelah kehabisan topik pembicaraan hingga harus membuat Tetto mengalihkan fokus dari menatap pemandangan jalanan di luar jendela. "You look great." puji gadis itu untuk yang ke sekian kali.

Ingin rasanya Tetto mengumpat dan memaki mendengar apa yang gadis itu katakan berulang kali, sebut saja dia tak waras karena ingin berkata kasar saat mendapat pujian namun itu semua bukan tanpa alasan. Jika saja tidak memperhatikan sopan satun dan mengingat tempat juga dirinya seorang yang berpendidikan, Tetto tak akan berpikir dua kali untuk menghina gadis di depannya tanpa ragu. Apa yang gadis itu katakan, apa ia tidak salah dengar karena memiliki rupa yang tampan. Jangan salahkan pendengarannya yang mempertanyakan kalimat pujian gadis itu barusan, karena bagi Tetto sendiri telinganya lebih terbiasa mendengar sebuah hinaan f yang sudah menjadi makanan kesehariannya di masa lalu dari sang tersangka yang sama yang kini tengah duduk tepat di depannya. Telinganya butuh beradaptasi dari seribu caci maki seorang Arin yang terkenal pedas.

Sepertinya benar kata orang yang mengatakan jika melakukan sesuatu dengan niat tidak baik makan jangan mengharapkan hasil yang baik, terlebih lagi hasil yang sesuai ekspektasi. Niatnya awalnya untuk ikut bergabung di meja yang sama tak lebih karena melihat ada Jenisa di meja yang sama dengan si gadis bergincu merah merekah. Namun naas sesaat setelah Tetto mendaratkan bokongnya untuk duduk, Gadis yang menjadi owner restoran itu berkelit dan berhasil meloloskan diri dengan dalih membuatkan pesanan untuknya, yang juga berarti meninggalkan Tetto dengan satu orang lain di sana.

"Aku gak nyangka kamu bisa berubah drastis kayak sekarang." puji Arin kembali yang mana tetap tak Tetto acuhkan.

Tak berselang lama dari itu seorang pelayan datang membawakan pesanan. Sesaat Tetto merasa ingin bersujud syukur karena tak harus meladeni gadis di depannya lebih lama, namun di sisi lain ada perasaan marah yang bercampur dengan kesal dan kecewa setelah ditipu oleh Jenisa. Di mana gadis itu yang katanya hendak membuat pesanan untuk dan justru meminta pelayan yang mengantarkan. Seharusnya Tetto sadar bila Jenisa yang sekarang atau dulu masih sama, gadis itu masih pandai dalam hal menipu seseorang dan bisa-bisanya Tetto membiarkan dirinya kembali tertipu oleh gadis itu.

"Jenisa ke mana, ya?" tanya sang pengacara pada sang pramusaji di sampingnya.

"Oh, Mbak Jenisanya lagi keluar."

"Sejak kapan dan ke mana?" pria itu kembali bertanya dengan nada mendesak yang tidak lagi terdengar ramah. Kepalanya serasa sudah mulai berasap karena kembalidipermainkan.

"Kurang tahu, Mas. Kalau begitu saya permisi."

"Tunggu sebentar!"

Arin yang merasa diabaikan dan diam hanya menatap kedua sosok yang tengah berbincang itu tanpa diberi kesempatan untuk ikut berkomentar, hingga gadis bersurai pendek itu menyela dengan paksa saat melihat Tetto yang anjak berdiri dari tempat duduknya.

"Tetto, kamu mau ke mana?" tanya Arin heran.

Dengan posisi berdiri membelakangi pria dengan setelan santai tersebut tersenyum miring, sedari tadi ia sudah cukup berusaha menahan diri untuk tidak meluapkan emosi. Baginya setiap mendengar gadis itu berbicara, Tetto merasa tidak lebih seperti sedang diruqyah karena mendadak telinganya menjadi kepanasan. Pengacara muda itu tidak bisa menjamin bila keberadaannya yang masih bertahan beberapa menit lagi tidak akan membuat kekacauan di tempat orang, dia tidak bisa menjamin iblis dalam dirinya masih bisa bertahan menghadapi ruqyah ala Arin.

"Tolong bawa lagi pesanan saya. Bawa pindah." pinta Tetto tetap tak mengacuhkan Arin.

"K-kemana, Pak?"

"Ruangan Jenisa."

Pria tersebut mengatakannya dengan tetap tak mengacuhkan pada sosok gadis yang sedari tadi berusaha menarik perhatiannya, dia tetap berjalan memimpin langkah di depan meninggalkan Arin yang masih cengo dengan mulut terbuka. Sementara di tempatnya, gadis berambut bob itu masih tidak percaya jika dirinya diabaikan oleh si upik abu di masa kuliah mereka dulu, dan kini Arin baru menyadari alasan kenapa Jenisa mengeluh soal kehadiran Tetto yang notabenenya hanya mantan sesaat. Jenisa benar, pemuda berkacamata lima tahun lalu itu sudah berubah, bukan hanya perihal penampilan fisik namun kelakuannya pun kini sudah sangat berubah drastis.

Sejujurnya sedari awal Arin merasa cukup takjub melihat pemandangan indah di antara hiruk-pikuk rutinitas padat manusia yang tengah melaksanakan kegiatan menyantap makanan, secara sosok itu terlalu sulit dilewatkan. Namun semua lenyap tak bersisa saat mengetahui isi di dalamnya. Isi yang dibalut apik dalam bentuk rupawan. Arin segara mengeluarkan ponsel dan mengetikan sebuah pesan singkat.

To Jenisa: 'Gue cabut. Keep fight and good luck.'

Send

DANGEROUS WOMANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang