Hari silih berganti, tepat di siang hari Tetto sudah tiba di apartemennya meski hal tersebut memerlukan perjuangan panjang dan ekstra mengingat betapa merepotkan prosedur untuk meminta izin dari dokter yang menangani agar diperbolehkan pulang. Tapi itu semua sudah berlalu, karena kini Tetto bisa bersantai dengan nyaman tanpa terganggu dengan bau berbagai obat-obatan. Kesepian kembali menyapa seolah selalu menjadi satu-satunya teman yang selalu setia menemani Tetto dalam menjalani hari, dan itu sudah menjadi hal biasa bagi sang pengacara yang memilih hidup sendiri dan mandiri. Namun sebagaimana takdir manusia yang diciptakan sebagai makhluk sosial yang harus hidup berdampingan dan akan membutuhkan yang lain, begitupun dengan Tetto yang menemukan titik balik kemandirian yang selama ini dipertahankan saat tubuhnya tengah dalam kondisi yang tidak bisa dikatakan baik selayaknya orang sehat kebanyakan. Karena itu sekalipun sudah berteman baik dengan rasa sepi, Tetto masih lah seorang makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain terlebih di saat perutnya yang tiba-tiba merasa kelaparan dengan berbunyi keras, yang mungkin akan terdengar memalukan bila ada orang lain yang mendengar, Karena itu Tetto membutuhkan bantuan orang lain meski itu hanya sekedar membelikan makanan, karena dia sudah tidak mempunyai cukup tenaga untuk berjalan keluar membeli makanan terlebih bila mengingat kondisinya yang belum makan sejak semalam.
Zaman sudah terlalu canggih untuk orang kesulitan hanya karena kelaparan, selagi memiliki uang dan ponsel dalam genggaman dunia akan selalu lebih mudah untuk dijangkau, namun bukannya membuka aplikasi pesan antara untuk membeli makanan, pemuda itu lebih memilih membuka daftar kontak telepon yang tersimpan di ponsel-nya. Hanya saja saat sadar bila kontak dari sosok yang dicari tidak tersimpan -atau sebenarnya tidak pernah ada bahkan dalam riwayat panggilan- sang pengacara hanya bisa mendesah pelan dan kembali terkapar di atas sofa menahan lapar. Tentu saja Tetto tidak akan melakukan hal merepotkan seperti pergi ke dapur untuk memasak karena selain tahu jika isi dapurnya kosong dengan hanya terdapat bahan olahan dalam lemari pendingin, pemuda itu sadar bila keahliannya dalam membuat masakan bahkan bisa dibilang mempunyai nilai nol besar ditambah belum ada kepastian bila masakan yang dibuat sudah terverifikasi kelayakannya untuk di makan. Toh, Jenisa akan datang sesuai perjanjian yang mereka buat semalam, karena itu Tetto hanya akan menunggu dengan tenang sambil menahan lapar.
Game online selalu menjadi pilihan terbaik untuk membunuh kebosanan, namun belum sempat pemuda itu memulai satu pertandingan, matanya yang tanpa sengaja mengedar dan mendapati kenyataan bila hunian yang saat ini tengah ditinggali tidak lebih seperti kandang hewan. Untuk beberapa saat Tetto hanya bisa mendesah pelan melihat hal tersebut berharap ada keajaiban yang datang dan membuat apartemen yang ditinggali kembali bersih tidak seperti sebelum terserang badai yang hancur berantakan. Sadar bila terlalu sia-sia bila hanya meratapi dalam diam sementara waktu terus berjalan, meski enggan nyatanya sang pengacara tetap bangun -meninggalkan ponsel-nya yang sudah menampilkan laman utama dari game yang akan dimainkan- untuk membersihkan huniannya hingga kembali layak untuk disebut tempat tinggal. Tidak ada arti tertentu dari tindakannya yang harus merepotkan diri sendiri di kondisi tubuh yang kurang prima -meski harus Tetto akui bahkan saat Nyonya Tegar sekalipun yang datang, sang tuan rumah tak pernah melakukan persiapan tertentu untuk menyambut kedatangannya dengan istimewa- dia hanya merasa memang sudah saatnya ia membersihkan hunian-nya terlebih bila mendengar berita yang tengah ramai diperbincangkan mengenai virus yang tengah viral dan meraja lela dengan menjangkiti banyak orang. Karena itu Tetto berpikir dia harus segera melakukan pembersihan agar tempat tinggalnya yang kotor tidak menjadi sangar penyebaran penyakit menular.
Masih dalam rangka mengusir virus jahat, tak tanggung-tanggung sang pengacara juga membersihkan badan yang terasa sangat lengket karena sudah seharian tidak bersentuhan dengan air. Meneliti penampilannya lewat cermin besar yang tersedia di kamar, tak lupa Tetto juga menyemprotkan parfum andalannya berharap bau rumah sakit yang menempel di tubuhnya ikut hilang dan tergantikan. Hingga tak lama kemudian suara bel pintu masuk berbunyi memenuhi seisi apartemen, membuat atensi sang pemilik rumah teralihkan dari mengagumi ketampanan-nya dari pantulan cermin. Meski hanya mengenakan kaos besar juga celana trainingnya, rambut basah yang sengaja di biarkan acak agar kesan seorang yang tengah sakit tidak ikut menghilang- Tetto mulai mengambil langkah menuju pintu depan guna menyambut seseorang di luar sana yang tidak berhenti menekan bel seolah tidak sabar untuk masuk ke rumahnya.
"Selamat pa...." sapaan tersebut tak dapat lantas Tetto rampungkan saat pintu terbuka lebar dan bukannya mendapati Jenisa dengan raut suntuk menahan kesal, justru di sini dia mejadi pihak yang kebingungan saat melihat sosok yang berdiri dibalik pintu buka seseorang yang diharapkan. Seorang pria berbadan tambun dengan kemeja kotak-kotak yang diperkirakan memiliki usia lebih tua dari dirinya tengah berdiri menjulang dengan sorot mata yang menyipit tajam.
Merasa tak nyaman Tetto berdehem singkat sebelum kembali buka suara. "Maaf ada apa?"
Si pria asing menyentuh bulu halus di dekat dagunya dengan tangan terlipat seakan menilai. "Saya yang akan masak di sini." tuturnya yang sukses membuat Tetto membulatkan mata. "Jadi bisa minggir?"
Haruskah Tetto memeriksakan matanya karena bila dia tidak salah baru semalam ia dan Jenisa bertemu maka terlalu mustahil bila mengira sosok di depannya sebagai seorang Jenisa yang selama ini dia kenal. Masih dalam kondisi terkejut, Tetto bahkan harus terpaksa menyingkir dari pintu saat si pria menerobos masuk tanpa dipersilakan. Namun seolah sadar ada yang salah karena Tetto hanya diam membiarkan pria itu begitu saja berjalan memasuki rumahnya, seketika sang pengacara bergegas ikut mengejar untuk memastikan bila pria itu bukan seorang oknum yang akan melakukan perampokan karena Tetto tidak akan tinggal diam dan membiarkan pria asing itu masuk sembarangan terlebih bila mengingat berita yang masih hangat diperbincangkan -selain virus yang tentunya tengah viral- yaitu ragamnya modus kejahatan ditambah tampilan pria itu yang terlihat sangar kian membuat Tetto semakin menguatkan kecurigaan.
"Maaf, tunggu sebentar. Tapi saya enggak..." lagi Tetto kesulitan menyelesaikan kalimatnya saat pria itu berbalik arah dengan mata melotot garang.
"Diam dan jangan banyak bicara. Karena elo, Nona Jenisa minta gue ke sini cuma masak buat pangeran kecil dari pada masak buat di restoran yang lagi sibuk sama banyak pelanggan?"
"Maaf gimana?" tanya Tetto bingung.
"Duduk dan diam saja! Bisa?" kali ini pria itu menekankan kata-katanya.
Tetto masih tak mengerti, namun tetap saja sang pemilik hunian menurut dan memilih duduk dengan tenang di atas sofa. Satu hal yang bisa dia pastikan saat pria itu menyebut nama Jenisa, pertama gadis itu mengirim pria tersebut untuk menghindar dari perjanjian. Kedua gadis itu ingin membalasnya dengan mengirim seorang preman agar Tetto tidak bisa berbuat macam-macam, meski kabar baiknya sosok pria tersebut bisa dipastikan bukan seorang pencuri seperti apa yang sebelumnya Tetto kira karena bagaimana pun saat nama Jenisa turut pria itu sebutkan sang pengacara bisa sedikit menghela napas tenang seolah nama gadis itu merupakan sebuah jaminan. Namun sebelum membiarkan pria asing itu makin masuk ke dalam apartemennya, Tetto kembali menyela untuk bertanya.
"Sebelumnya bisa minta kontak Jenisa? Ini soal bisnis."
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomansaBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
