"Tetto?"
"Hah, kenapa?" tanya pemuda tersebut kebingungan saat namanya dipanggil. Matanya melirik sejenak pada posisi dimana Jenisa duduk. Sebuah senyum terpaksa coba dibuat saat melihat mata gadis itu seolah bertanya apa dirinya baik-baik saja.
"Jadi dia yang butuh bantuan kamu Yoga." tutur Jenisa menjurus langsung pada inti pembicaraan dari pertemuan mereka.
Tetto masih tak bisa percaya jika yang dimaksud gadis itu mengenai sosok seorang dokter yang bisa membantu kasusnya tak lain ialah seorang Prayoga. Apa ini takdir atau kebetulan, yang jelas dia tak menyukai kedua skenario tersebut. Matanya melirik sejenak pada pria dengan setelan jas hitam yang memperlihatkan dengan jelas ketertarikan saat menatap satu-satunya wanita yang duduk di meja yang sama, ingin rasanya Tetto melayangkan kepalan tangan tepat di wajah pria itu. Namun ia cukup waras untuk tetap menahan emosi.
"Tentu. Silakan, saya akan bantu sebisa mungkin." Sambut Yoga dengan senyum ramah.
Mati-matian Tetto menahan diri untuk tidak mengeluarkan umpatan, bahkan sebisa mungkin kepalanya coba ditundukkan karena tidak sudi melihat wajah pria itu. Bisa dipastikan jika sekali saja mulutnya terbuka maka kalimat memaki sudah pengacara itu layangkan. Jika tahu akan seperti ini dan bila dia tahu orang yang bisa memberinya informasi tentang sang klien adalah lelaki tersebut, Tetto jelas tak akan sudi.
Namun di tengah kebisuan yang mencoba dilakukan guna meredam emosi dan menahan diri, Jenisa sudah lebih dulu berinisiatif buka suara seolah paham menunggu Tetto menjelaskan maksud dan tujuannya sendiri tidak akan memakan waktu yang sebentar. Sekali lihat pun seorang lansia yang tengah bermeditasi pasti akan langsung terganggu karena merasakan aura negatif yang menguar dari diri pria itu, karena itu Jenisa lebih dulu menyela pembicaraan.
"Jadi dia mau minta bantuan kamu untuk cari informasi tentang pasien yang waktu itu aku lihat sehabis anter Oma check-up. Kalau nggak salah ingat namanya Bu Desi, dia klien temanku ini." tutur Jenisa memberi penjelasan. Harus di garis bawahi dalam kalimat gadis itu bila di sini Tetto tidak lebih hanya sekedar seorang teman.
Namun yang lebih menyebalkan dari mendengar kejelasan mengenai status mereka yang tidak lebih seperti orang HTS-an, Tetto lebih kesal karena Jenisa seolah bertingkah menjadi juru bicaranya guna mewakili untuk mengungkapkan maksud dan tujuan awalnya datang. Padahal sedari awal matanya bersibobrok dengan wajah itu, Tetto sudah tak peduli lagi dengan tujuannya semula.
"Begitu ya. Aku ingat memang ada pasien yang namanya Bu Desi. Kalau tidak salah dia pasien dari dokter senior di rumah sakit tempatku kerja. Tapi untuk membocorkan informasi pribadi pasien, aku ragu bisa melakukan itu. Aku rasa itu bukan kapasitasku Jenisa." Ungkap Yoga dengan nada menyesal.
Baguslah kalau begitu. Sementara itu di tempatnya Tetto sudah bergumam merasa bersyukur
Berbanding terbalik dengan nadanya yang menunjukkan rasa penyesalan. Entah kenapa Tetto menangkap arti tersembunyi dari kalimat pria itu seolah Yoga tengah memasang umpan selayaknya predator yang mengintai mangsa. Namun melupakan itu semua sang pengacara memilih tak ambil pusing, karena yang pasti setelah ini dia akan langsung hengkang dari tempat tersebut dengan dalih sakit perut atau semacamnya. Hanya saja belum sempat pemuda itu membuka suara, suara lain sudah kembali mendahului untuk berbicara.
"Apa enggak bisa diusahakan?" pinta Jenisa.
Di sana gadis itu kembali buka suara dengan mata memohon membuat Tetto yang melihatnya menjadi teramat sangat geram, karena sadar bila sedari tadi ia seolah tak dibiarkan buka suara sekedar untuk memberikan persetujuan atas penolakan yang didapatkan. Tetto tak suka saat melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Jenisa memohon terutama pada bajingan brengsek di depan mereka, dan kenapa pula harus gadis itu yang jadi teramat peduli pada semua ini sementara Tetto sendiri yang mempunyai urusan berniat untuk menolak menerima bantuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomanceBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
