29. Cooking Time (3)

27 7 0
                                        

UHUK... UHUK...

Sementara itu Tetto yang mendengar hal tersebut tak bisa untuk tak terkejut hingga membuatnya tersedak makanan dan segera mencari air mineral. Kenapa pula pria yang lebih tua darinya tersebut bisa menyimpulkan demikian, terlebih apa yang dikatakan jelas tidak masuk akal.

"Maksudnya?"

"Cuma orang bodoh yang nggak peka buat sadar kalau elo suka sama non, Jenisa."

Tidak seperti saat beberapa teman bertanya mengenai perasaannya setelah dicampakkan oleh seorang Jenisa, Tetto akan dengan lantang mengatakan bahwa dia membenci gadis itu bahkan mungkin bisa dibilang menaruh dendam kesumat yang harus dibayarkan. Namun saat melihat sorot lelaki di depannya yang seolah menolak untuk mendengar omong kosong berupa penyangkalan membuat Tetto tanpa sadar merenung dalam diri mengenai apa yang dia rasakan, mengenai apa tujuan selama ini hingga rela merubah penampilan bukan untuk membuat gadis itu menyesal melainkan ada satu bagian dari dirinya yang justru masih dengan bodohnya mengharapkan satu kesempatan berharap dengan penampilan yang sedikit lebih baik bisa membuatnya sedikit pantas untuk gadis tersebut. Sadar bila mengkonfirmasi kebenaran atau penyangkalan justru akan memperjelas perasaannya di mata seorang Arif, maka sang pengacara tidak memiliki banyak pilihan selain mencoba mengalihkan pembicaraan dengan tetap mengabaikan pernyataan Arif yang mengatakan bila dia menyukai seorang Jenisa.

"Menurut mas, Jenisa itu orangnya gimana?"

"Dia cantik."

"Saya tahu dan setuju untuk itu. Tapi terlepas dari parasnya, menurut Mas Arif Jenisa orang yang seperti apa?"

"Dia baik." Pria berwajah sangar itu menggigit sepotong apel di tangannya, kemudian melanjutkan kalimatnya dengan bercerita mengenang kisah lama. "Lo tahu cara kerja dunia? Ada yang menganggap siapa yang kuat dia yang berkuasa, terus ada yang bilang siapa yang punya uang justru mereka yang berkuasa karena hukum rimba nggak lagi berguna. Sementara sebagian lagi menganggap penampilan menjadi segala-galanya. Dan elo tahun dunia ini kejam bagi mereka yang nggak punya satu dari itu semua, dan gue termasuk di antara orang yang gak beruntung tersebut." Arif sejenak berhenti bercerita untuk kembali mengunyah sisa buah apel di tangannya.

"Gue ingat pertama kali ketemu Non Jenisa, waktu itu gue lagi duduk di sendirian di taman, tepatnya di Italia. Sebelum gue ke luar negeri, di sini gue gak lebih kayak orang buangan. Penampilan gue yang udah kayak preman buat gue sadar kalo mereka cuma lihat dan nilai seseorang cuma dari penampilan luar, lihat tato di tangan ini aja udah dikira preman pasar." pria bernama Arif menjeda kalimatnya lagi untuk meneguk minuman.

"Udah berbagai tempat gue coba datangi buat lamar pekerjaan, tapi semua berakhir sama dengan menolak secara mentah-mentah. Lucunya, gue tahu betul apa alasan penolakan mereka tapi dengan bodoh gue tetap nyoba berharap ada satu aja yang lihat keterampilan yang gue punya bukan sekedar penampilan luar. Sampai keputusan buat pergi keluar negeri muncul sekedar ikut-ikut teman, saat itu cuma modal tabungan terakhir dan gue nekat pergi ke Italia buat mengadu nasib berharap di sana gue enggak di pandang sebelah mata. Kurang lebih hampir dua tahun, tapi nasib gue gak banyak berubah. Kerja serabutan di restoran kecil buat adonan pizza sampai gue bahkan hafal di luar kepala, gajinya gak sepadan buat pengeluaran sama biaya hidup sampai terkadang gue suka gak makan. Tapi malam itu, gue inget lagi duduk di kursi taman dan entah dari mana Jenisa tiba-tiba datang..."

"Jenisa, di Italia?" tanya Tetto penasaran.

"Bukan tanpa alasan pemilik restoran sampai ikut turun tangan ke dapur buat masak makanan kalau rasanya nggak terverifikasi layak buat dihidangkan." Mau tak mau Tetto menganggukkan kepala menyetujui hal tersebut. "Dan, yah. Dia ada di Italia, pertemuan pertama kami terjadi di Italia dengan dia yang kasih gue makanan waktu lagi kelaparan."

"Dia ada urusan apa di Italia?"

"Nona Jenisa ikut kursus masak hampir satu setengah tahun di Italia. Bahkan dia nggak canggung buat kasih gue makanan meski udah lihat penampilan gue yang banyak orang bilang kayak preman. Dia bilang masakan yang dikasih itu hasil praktik kursus memasak karena tahu gue terus tolak buat terima Jenisa bilang butuh masukan dan orang lain cicipi hasil masakan dia sampai gue nggak punya alasan buat menghindar. Dari situ, kita mulai sering ketemu di tempat yang sama dan situasi yang sama, di mana gue yang lagi duduk merenungkan nasib dan Jenisa yang datang sambil bawa makanan di kotak bekalnya. Dia terus-terusan bawa hasil masakannya buat gue coba, dan waktu itu gue cuma bisa bilang makasih sambil makan bekal dia sampai habis. Kadang kalau dipikirkan situasi dulu terasa sangat memalukan, kan?" tanya Arif di akhir kalimatnya.

Namun Tetto yang memang menyimak penuh cerita tersebut menggeleng pada pertanyaan pria di depannya. Baginya cerita pria itu yang diberi makan oleh seorang Jenisa justru tidak terdengar memalukan sama sekali, namun dapat Tetto pahami apa maksud yang ingin di sampaikan Arif melalui ceritanya, bahwa kepribadian Jenisa yang baik tergambarkan dari bagaimana tindakan gadis itu yang menolong lelaki di depannya di saat banyak orang akan memilih tidak peduli dan menutup mata.

"Singkat cerita, setelah beberapa bulan kenal Jenisa, gue ketemu sama keluarganya yang lagi liburan sambil jenguk anak mereka. Ayahnya polisi yang cukup punya nama, sementara pas kenal ibunya gue jadi bisa menyimpulkan dari mana Nona Jenisa bisa secantik itu. Hari itu, tanpa gue tahu Nona Jenisa minta Tuan Jhonny sama Nyonya Jessica buat bawa gue pulang. Dia tahu kalo gue gak bisa pulang gara-gara terkendala biaya sementara kalau harus bertahan lebih lama buat imigran gelap kayak gue yang visa-nya sudah habis dan dipekerjakan dengan bayaran murah juga bukan pilihan. Lagi-lagi gue terlalu cengeng saat dapat kebaikan keluarga tuan Jhonnsy yang mau mengulurkan bantuan tanpa minta balasan. Kebaikan mereka nggak berhenti di situ, Nyonya Jessica bahkan kasih gue kerjaan di hotel milik dia waktu pulang. Waktu itu___."

"Mas Arif nangis lagi. Betul, kan?" tebak Tetto kemudian.

"Nggak betul. Gue gak nangis lagi, lebih buruk dari itu gue bahkan pingsan saat baru dapat tawaran pekerjaan. Sampai akhirnya Nona Jenisa pulang dan bangun restoran, gue yang mau balas budi coba melamar pekerjaan di sana buat sekedar bantu usahanya bisa berkembang."

Sejujurnya saat menyimak cerita mas Arif, Tetto tak ingin percaya tentang penggambaran pria tambun itu pada sosok Jenisa yang tak pernah menilai orang dari penampilan. Karena nyatanya Tetto tahu dengan betul bagaimana perasaan saat dirinya dicampakkan hanya untuk dimanfaatkan karena penampilannya yang bahkan bisa dibilang dibawah standar untuk bersanding dengan gadis itu sebagai pasangan. Tetto akan lebih meyakini jika Mas Arif pun sama seperti dirinya yang dimanfaatkan, bahkan sudah jelas pria berwajah sangar tersebut sudah mengabdi dan mendedikasikan waktunya menjadi pegawai yang Jenisa kelola.

Namun meski begitu, dilihat dari segi mana pun mas Arif lebih beruntung dari pada dirinya, lelaki itu masih bisa menerima sebuah kenyataan eksploitasi sumber daya diri sendiri sebagai imbalan balas budi tanpa pernah merasakan yang namanya dibuang. Setidaknya hal tersebut masih lebih baik, dan mengingat hal tersebut membuat hati sang pengacara kembali bergemuruh menahan sakit. Sedari dulu Tetto selalu bertanya-tanya kenapa hanya dirinya yang mendapat pengecualian, kenapa dia tidak bisa untuk mendapat kesempatan selayaknya Mas Arif atau orang lain yang bahkan tidak pernah dibedakan soal penampilan. Namun sekalipun dia meneriakkan itu semua di depan Jenisa, Tetto tetap tak pernah tahu apa alasan wanita itu menjadikannya pengecualian terhadap segala hal.

"Terimakasih buat makanannya, rasanya enak." puji Tetto mengakhiri pembicaraan.

DANGEROUS WOMANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang