Seharusnya Tetto sadar, sedari awal dia tidak pernah layak untuk sekedar mengantar gadis itu pulang. Bukan tak mungkin bila Jenisa merasa malu saat banyak pasang mata yang dikenal dan berkemungkinan sebagai teman di area kampus melihat gadis itu menaiki motor vespanya yang kuno. Rasa kecewa memang menyakitkan, namun itulah konsekuensi yang harus Tetto tanggung karena dia sudah membulatkan tekad untuk sedikit lebih lama menikmati kebahagiaan semu yang sebelumnya tengah dirasakan.
"Harusnya aku pulang saja tadi siang." Keluh pemuda berkacamata tersebut sambil menyandarkan badan di punggung kursi taman.
Cting
Notifikasi pesan masuk yang terdengar membuat Tetto kembali melirik ponselnya, dengan tangan yang dengan sigap membuka sebuah pesan yang baru masuk tersebut.
From Dendi :
"To elo bawa helm dua kan? Gue pinjem ya buat Kaila."
17.13
Miris sekali saat menyadari beberapa detik yang lalu ia kembali dibuai oleh harap setelah tahu rasanya dikecewakan. Mungkin ini definisi dari kata bodoh yang sebenarnya.
"Terserah kamu aja, Den."
17.14
"Oke... Thank's."
17.14
"Fiuhhh, harusnya aku terima tawaran Aji aja tadi buat temani dia blind date dari pada dibuat ke pikiran sama sesuatu hal yang nggak berguna kayak sekarang." Gumam Tetto sendiri.
Pemuda itu mengeluh dengan kepala menengadah pada langit yang tampak cerah nan indah dengan dihiasi warna jingga yang terang dari ufuk barat, berharap Tuhan yang di atas sana bisa mendengar dan memperbaiki nasibnya.
Cting
Tetto kembali dibuat mengerang kesal karena lagi suara notifikasi pesan masuk yang terdengar menandakan bila alam seolah tengah berniat mempermainkannya dengan membuat Dendi sebagai sender dari pesan yang baru masuk tersebut, yang paling membuat Tetto tidak tahan hingga haru menggerang kesal ialah isi pesan yang Dendi kirimkan karena dia sudah bisa menebak ucapan terima kasih lah yang akan dia dapatkan karena sudah mengizinkan kawannya itu untuk membawa helm milik Aji yang sengaja pemuda Solo itu tinggalkan dam kini Tetto bawa..
"Ini anak kenapa lagi sih. Udah di kasih juga helmnya." Rutuk Tetto yang sebelumnya mencoba untuk bersantai namun harus kembali menerima ganggan..
"Kenapa lagi? Kan udah di bilang terserah."
17.15
Tak untuk waktu yang lama untuk sebuah balasan kembali masuk. Tak ingin ambil pusing Tetto membaca maksud dari isi pesan Dendi yang masih saja mengganggunya.
"Kamu niat kan mau anter aku pulang?"
17.16
Hal pertama yang terbesit dalam kepalanya ialah kata 'Maksudnya?', kata itu sudah mewakili segala kebingungan sang pemuda berkacamata saat pertama kali membaca sebaris kalimat tersebut. Dia yakin, tadi Dendi mengatakan ingin mengantar Kaila pulang. Lalu kenapa pula pria itu menanyakan kesediaannya untuk mengantar pulang. Kejanggalan pun terjawab saat matanya melirik nama kontak dari room chat yang di buka, Tetto yang masih merasa tak percaya dengan apa yang dilihat mencoba melakukan pemindaian ulang terkait sederet kalimat yang sebelumnya dikirim sang pemilik kontak namun diabaikan.
"Maksudnya 'tergantung' itu, kamu bawa helm dua enggak?"
Tepat di 17.15 menit yang lalu, pesan itu masuk. Pesan yang dikiranya berasal dari Dendi yang mana sudah dia izinkan meminjam helm tak lain dan tak bukan berasal dari orang berbeda. Tetto tak tahu harus bagaimana menggambarkan perasaannya karena rasanya seperti campur aduk. Antara rasa senang yang membuncah saat ajakannya disambut baik. Tapi juga khawatir karena balasan yang dikirim -yang ia dikiranya untuk Dendi namun kini terkirim pada kontak yang salah. Apa Jenisa memikirkan ulang persetujuannya? Dengan kecepatan jari yang luar biasa, Tetto mengetikan sebuah kalimat permintaan maaf. Tak lupa pesan yang sebelumnya salah kirim juga telah ikut dihapus.
"Itu... Emmm, soal pesanku di atas. Maaf, aku kira itu orang lain."
17.16
"Kalau begitu kamu bisa jemput aku sekarang?"
17.17
"Tentu. I'll be there soon."
17.17
Tetto yang tak bisa menutupi kebahagiaannya melompat dengan tangan terkepal ke atas. Ia tak peduli tingkah anehnya kini menjadi tontonan mahasiswa lain yang ada di sana. Masih dengan senyum mengembang, pemuda itu hendak bergegas pergi.
"Ahhh, helm ku." Pemuda itu mendadak teringat akan helmnya yang hendak dipinjam Dendi.
To Dendi :
“Sorry, Den. Aku batal kasih pinjam helmnya.”
17.18
Tak terlalu susah untuk Tetto menemukan keberadaan Jenisa yang tengah berdiri dengan fokus pada ponsel. Dengan masih duduk di motor vespa kesayangannya, Tetto merogoh saku untuk mengambil ponsel dan mengabari gadis itu jika dia telah tiba. Dia cukup sadar diri untuk tak banyak menuntut dengan hubungan yang menurutnya masih membingungkan ini. Dia tak ingin dan tak peduli jika hubungannya dipublikasikan di depan umum atau tidak. Sekali lagi, ia cukup sadar diri.
Tak berapa lama setelah tanda double checklist yang berubah warna menjadi biru, sang gadis tampak menoleh ke sana-kemari. Sampai mata indah itu mendapati dirinya yang tengah duduk di motor dengan jarak cukup jauh dari keramaian. Tetto yang sadar jika Jenisa kebingungan hanya bisa mengangkat sebelah lengan sebatas kepala untuk merespons. Bukan tanpa sebab, ia takut gadis itu tak menyadarinya dengan wajah yang di tutupi helm berkaca hitam. Entah kenapa setiap berinteraksi dengan Jenisa mulutnya serasa kelu yang membuatnya jarang berbicara banyak sekedar memanggil gadis itu.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Jenisa saat gadis itu sudah mendekat.
"Ahhh, iya tentu saja."
"Helmnya?"
Sadar akan tingkahnya yang mendadak gugup, Tetto menarik napas dalam lebih dulu. Ia anjak berdiri dan membuka jok di mana satu helm tersimpan di sana. Posisinya yang masih membelakangi Jenisa juga kaca helm gelap yang sedari tadi sedia terpasang digunakannya untuk misuh-misuh merutuki tingkahnya sendiri.
"Maaf. Ini helmnya."
Tak banyak yang dilakukan pemuda itu setelah mengambilkan helm untuk sang kekasih. Jangan berharap ada drama di mana Jenisa meminta bantuannya untuk mengaitkan tali helm. Karena jelas itu tak akan pernah terjadi. Selain karena Jenisa yang dirasa bisa melakukannya sendiri, Tetto tak yakin dirinya mampu untuk menawarkan hal tersebut. Dan yang harus diwaspadai sekarang ialah bukan perihal pasang memasang helm. Melainkan si Juki, vespanya yang mendadak tak mau menyala setelah beberapa kali coba dinyalakan. Beragam-macam doa coba dirapalkan berharap motornya bisa menyala saat itu juga. Beruntung tak lama kemudian kendaraan antik itu mau menyala dengan suara khasnya.
Makasih Tuhan. Makasih Juki.
Tidak banyak yang dilakukan selain Tetto yang mencoba tetap tenang dengan menjaga fokusnya pada jalanan yang bisa buyar kapan saja, itu karena sepasang lengan yang setia memegangi bagian samping kemejanya. Jika dia saat ini berada di tempat lain dan tidak sedang menyetir, bisa dipastikan Tetto akan pingsan di tempat saat itu juga. Tapi tidak untuk sekarang, ia tak ingin mempertaruhkan keselamatan Jenisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomanceBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
