14. Library (Last)

75 12 2
                                        

"Kamu mau apa tadi?" tanya Jenisa dengan suara pelan.

Seolah baru tersadar dari pengaruh pesona seorang Jenisa yang seakan bisa menghipnotis akal sehatnya, pemuda berkacamata itu lebih dulu mengambil jarak aman dengan mengambil satu langkah mundur menjauhi gadis itu dari posisinya semula. Menyadari bila tangan mereka masih dalam posisi saling menggenggam membuat Tetto dilanda rasa canggung sebelum melepaskan tangan mereka dan mulai berbicara dengan suara yang tak kalah pelan.

"Sa-saya mau tegur mereka. Mereka berbuat mesum di perpustakaan, itu jelas menyalahi aturan."

Jenisa menatap pria di depannya lekat tanpa beralih sedetik pun seolah sorot matanya sudah bisa mewakilkan pertanyaan bila gadis itu mempertanyakan keseriusan atas ucapan pemuda di depannya. "Tetto, di dunia ini ada hal-hal yang lebih rumit dan nggak sesederhana seolah semua bisa kamu klarifikasikan pada salah dan benar."

"Saya nggak paham apa yang berusaha kak Jenisa jelaskan."

"Jangan terlalu gegabah mengambil keputusan. Tindakan impulsif yang mau kamu lakukan barusan, bisa membawa kamu dalam masalah yang besar."

"Tapi tetap saja tindakan mereka tidak bisa dibenarkan, bukan?" tegas Tetto tetap pada pendiriannya.

"Terlepas dari mereka bersalah atau enggak, bukannya kamu bisa memilih buat nggak ikut campur urusan orang?"

"Maksud kak Jenisa saya harus tutup mana dan cari aman?"

Saat itu Tetto benar-benar tidak tahu tujuan dari perdebatan yang mereka lakukan, Jenisa yang berkeras bila dia seharusnya tidak mencampuri urusan orang lain yang jelas-jelas melakukan penyimpangan sementara Tetto sendiri tetap pada pendiriannya bila hal yang dua orang tadi lakukan itu merupakan sebuah kesalahan dan harus diluruskan. Namun yang tidak pernah Tetto mengerti ialah usaha yang gadis itu lakukan guna membuatnya mengerti, sekeras apapun seseorang dan se-putusasa apapun dalam mencoba membuat orang lain paham, tindakan yang saat ini Jenisa lakukan tidak pernah bisa diterima akal sehat dan logikanya.

Berciuman, mungkin itu bukan hal asing untuk dilakukan pasangan pria dan wanita yang berstatus sebagai sepasang kekasih, namun hal tersebut akan menjadi janggal bila dua orang tersebut tidak pernah memiliki hubungan selain sebagai dua orang asing sejak awal. Saat mengalami itu semua sendiri secara langsung, Tetto merasa kepalanya benar-benar seolah berhenti berpikir. Kecupan yang terasa singkat namun entah kenapa ia merasa gadis itu menyampaikan perasaan yang tidak bisa diwakilkan kata-kata dan hanya lewat ciuman Tetto mulai bisa merasakan perasaan yang terasa sangat putus asa.

"K-Kak. Jenisa?" gumam Tetto tak percaya setelah bibir mereka yang sebelumnya terpaut tanpa jarak kini terpisah.

"Kamu tahu apa yang paling aku ingin, kan?" setelah terdiam sejenak guna memberi kesempatan pemuda di depannya menjawab, Jenisa kembali melanjutkan saat pria itu hanya diam. "Kehidupan yang tenang, itu hal yang paling aku inginkan."

"Saya..."

"Karena itu..." potong Jenisa cepat. "Melihat kamu yang mendatangi masalah dengan sukarela tanpa memikirkan resiko yang bisa saja kamu terima membuat aku sangat geram. Sesuatu yang sangat sulit aku dapatkan, tapi dengan mudah mau kamu sia-sia, kan?"

Entah apa maksud dari kalimat yang Jenisa katakan. Namun melihat gadis itu yang sangat tertekan saat mengatakan hal yang sejujurnya, membuat Tetto membenci situasi di mana dirinya tidak berdaya karena mereka tidak seharusnya saling berbagi di saat dia pernah dengan lantang mengatakan untuk tidak saling bertegur sapa selayaknya orang yang tidak saling mengenal. Ada sebuah batasan tak kasat mata yang menahan tangannya untuk sekedar meminta gadis itu agar lebih tenang, dan membuat Tetto hanya bisa menyaksikan dalam diam bagaimana air mata turun dari pipi Jenisa hanya karena dirinya.

DANGEROUS WOMANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang