"Pak, jadwal persidangan kedua kasus perceraian Bu Desi sudah keluar. Apa perlu saya hubungi klien." tanya Rendi masih berdiri dekat meja dengan tablet di tangan.
"Nggak perlu hubungi Bu Desi. Dia minta untuk seterusnya biar saya yang handel sendiri, bahkan sepertinya ada kemungkinan beliau tidak akan hadir lagi di persidangan putusan."
"Tapi Pak, bukannya lebih baik kalau klien datang langsung ke persidangan, terlebih mengingat Bu Desi sendiri sebagai penggugat. Itu akan lebih menguntungkan buat kita."
"Tujuan persidangan ini hanya untuk dapat status perceraian secara sah di mata hukum, jadi tidak akan berpengaruh banyak mengenai hadir atau tidaknya penggugat disidang keputusan. Kecuali bila ada sesuatu yang perlu diperdebatkan, seperti hak asuh anak dan pembagian harta kekayaan. Terlebih ini permintaan Bu Desi langsung." Balas Tetto dengan mata yang masih fokus pada kertas di atas meja. Namun sesekali pemuda itu akan menoleh pada ponselnya yang tergeletak tidak jauh dengan posisi layar yang menggelap.
"Kalau begitu saya permisi." Pamit Rendi undur diri. Namun belum sempat pemuda itu mencapai daun pintu, suara sang atasan kembali terdengar hingga sukses menghentikan langkahnya untuk keluar ruangan
"Ren, sebentar!"
"Ya?" tanya pemuda itu sambil membalikkan badan.
"Sekarang sudah jam makam siang, kan?" tanya Tetto melirik arloji yang dikenakan dan hanya dibalas anggukan oleh Rendi. "Kalau begitu ayo kita makan, tolong panggilkan Lina juga sekalian. Biar saya traktir kalian makan siang hari ini."
Seperti apa yang diperintahkan, Rendi melaksanakan perintah atasannya tersebut dengan senang hati sekalipun baik Lina maupun Rendi masih sama-sama kebingungan dengan apa yang tengah dilakukan sang pengacara yang kini tengah menyetir. Namun keduanya memilih bungkam, karena kata gratis sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka menutup mulut rapat-rapat. Baik Lina maupun Rendi tidak ada yang ingin bertanya tentang alasan Tetto yang mendadak menjadi sosok dermawan dengan sukarela mentraktir mereka makan siang. Bukan karena apa, mereka cukup mengenal watak seorang Tetto yang terkenal sangat prefectionis dan moody-an. Biasanya pemuda tampan itu justru akan lebih memilih makan siang di dalam ruangannya dengan alasan efisiensi waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, lebih-lebih lagi bila mengingat Tetto yang tidak cukup pandai bersosialisasi membuat beberapa orang di kantor mereka juga tak ingin berurusan dengan pemuda itu jika tidak diperlukan. Hanya Lina staf litigasi dan Rendi sang sekretaris yang cukup dekat juga mengenal bagaimana kepribadian seorang Tetto. Karena sudah mengenal pemuda perlente itu dengan baik, Rendi dan Lina yang mendapat berkah akhir bulan dari kebaikan sang atasan tak ingin merusak suasana hati lelaki itu dengan pertanyaan mereka. Salah-salah, acara traktiran ini bisa gagal total.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sebuah restoran bergaya Italia. Keduanya masih mengikuti Tetto dari belakang bagai anak ayam yang mengikuti induknya ke mana pun pergi. Suasana di dalam restoran terbilang cukup ramai mengingat sudah memasuki jam makan siang dan menjadi sebuah pemandangan yang wajar. Berbeda dengan Rendi dan Lina yang tampak sibuk memilih pesanan di buku menu, lain dengan Tetto yang memilih sibuk mengedarkan mata ke setiap penjuru ruangan mencari-cari seseorang.
"Pak, kiita boleh pesan apa saja ini?" tanya Rendi.
"Hmm..." Tetto yang tak fokus hanya menjawab dengan bergumam.
"Saya pesan spageti bolognese, sama minumnya orange juice saja." Jelas Lina menyebutkan pesanannya pada sang pramusaji.
"Kalau saya spageti carbonara satu, Fetucini, Raviolli sama minumnya orange juice saja." tambah Rendi melanjutkan pesanan. "Pak, Anda mau pesan apa?"
"Saya.... Em, saya tortellini isi ayam saja, minumnya ice tea."
"Oke, biar saya sebutkan pesanannya lagi. Satu spageti bolognese, satu spageti carbonara sama fetucini, dan raviolli terus satu tortellini isi ayam. Minumnya dua orange juice sama satu ice tea." Sang pramusaji terdiam sejenak, melihat tiga pelanggannya mengangguk setuju atas pengulangan pesanan yang disebutkan. "Baiklah, silakan ditunggu pesanannya sebentar." balas gadis bername tag Lisa dengan senyum ramah. Sebelum benar-benar berbalik pergi, suara Tetto kembali terdengar menghentikan gerakannya yang berniat pergi untuk menyerahkan pesanan.
"Permisi, sebelumnya bisa kamu panggilkan owner restorannya?" pinta Tetto.
Lisa yang bukan anggota girl group asal luar negeri itu sudah mengerti dan hanya bisa mengangguk patuh. Dulu, sosok yang sama sering kali membuat kekacauan di restoran tempatnya bekerja, sehingga ia dan teman-temannya sering kali dibuat kewalahan hanya oleh satu pelanggan. Tapi sejak beberapa waktu ke belakang, Lisa sudah tak lagi menemukan kehadiran sosok yang sama, dan bersyukur hari-hari bekerjanya kembali tenang. Namun sepertinya doa yang dipanjatkan untuk meminta agar orang itu tak kembali tidak terkabul, karena saat ini pria itu justru kini berada di hadapannya lagi. Hanya saja satu yang membuat Lisa heran, berbeda dengan dulu yang sering membuat huru-hara, kini ke datangan pemuda itu terlihat lebih santai dan tidak terkesan akan membuat keributan. Sekalipun gesture yang diperlihatkan terbilang aneh dengan mata yang sibuk mengedar seolah mencari seseorang, dan sudah menjadi rahasia umum jika yang dicari pasti dan selalu sang pemilik restoran tempatnya bekerja. Entah apa yang akan diperbuat pria itu saat ini, yang pasti Lisa berharap lelaki itu tak akan membuat keributan lagi. Karena itu, Lisa dengan suka rela menyanggupi tanpa ajang berdebat karena tak ingin berurusan lebih lama dengan pria itu.
Sembari menunggu hidangannya tersaji, Tetto memilih mengamati sekitar. Suasana keramaian seperti ini terasa asing baginya yang selalu memilih makan siang di dalam ruangan kerja. Meski begitu, sebisa mungkin pemuda itu mencoba menyesuaikan diri dengan terlebih dulu melakukan pengamatan dengan mengabaikan Rendi juga Lina yang tengah berbincang.
"Ehm......" suara batuk yang terkesan disengaja terdengar menghancurkan lamunan sang pengacara. Menoleh ke samping lalu menaikkan sedikit mata, di sana Tetto mendapati seorang wanita dengan perut sedikit bulatnya tengah berdiri menjulang. Tetto yang tidak merasa mengenali wanita itu pun memilih mengabaikan dan kembali fokus ke depan.
"Ehem......" Lagi suara dari orang yang sama kembali terdengar membuat Tetto yang semula mengira wanita itu mendatangi meja yang salah kembali memusatkan perhatian.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita yang bisa disimpulkan tengah berbadan dua.
Tak langsung menjawab, Tetto menoleh pada dua rekan kerjanya. Meminimalisir kemungkinan bila satu dari mereka justru yang memiliki urusan dengan wanita itu. Namun mendapati gelengan dari Lina maupun Rendi cukup membuat Tetto mengerti.
"Maaf, kami sudah memesan tadi. Terima kasih." Tolak Tetto. Pengacara sampai pada kesimpulan bila si wanita berbadan dua tidak lain ialah salah satu pegawai restoran yang ingin mencatat pesanan mereka. Meski sejujurnya keraguan itu muncul mengingat pakaian yang dikenakan terlampau santai tidak seperti pelayan lain pada umumnya yang mengenakan seragam.
"Kamu panggil saya cuma mau bilang kalo saya pelayan?"
"Maaf, tapi ada kesalahanpahaman di sini. Saya minta di panggilkan pemilik restoran ini." Balas Tetto mencoba memberikan penjelasan
"Dan kamu bicara dengan 'orang tersebut' sekarang."
Sejenak Tetto terdiam, matanya mengamati dengan lebih jelas wanita di hadapannya. Pengacara itu yakin Jenisa memiliki rambut yang bergelombang, bukan lurus. Dia juga yakin sosok yang dikenalnya sebagai pemilik restoran memiliki tubuh yang tinggi layaknya model, bukan standar. Terakhir Tetto yakin Jenisa masih lajang di mana kemungkinan gadis itu tengah mengandung jelas-jelas tidak mungkin, terlebih terakhir kali mereka bertemu -yang mana itu terjadi kemarin malam- perut Jenisa masih rata. Namun sedetik kemudian Tetto tersadar, sang pengacara kembali mencoba mengamati perempuan hamil di sampingnya. Tanpa sadar pria itu memutar kembali memori masa lalunya mengenai sosok sahabat dari sang mantan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomanceBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
