"Sebelumnya bisa minta kontak Jenisa? Ini soal bisnis."
Dapat dilihat pria sangar itu terlihat enggan, namun seolah tahu bila Tetto tidak akan membiarkan pria itu menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang agar segera pergi dari sana dan kembali ke restoran, pada akhirnya pria dengan wajah sangar tersebut mengeluarkan ponsel dan memberi nomor sang bos tempatnya bekerja seperti yang Tetto minta. Mendapatkan apa yang dibutuhkan, sang pengacara segera memilih duduk manis seperti yang diminta layaknya anak baik yang mematuhi perintah ibunya -meski Tetto yakin bila Nyonya Tegar tidak akan senang bila di samakan dengan pria berwajah sangar yang mengaku utusan Jenisa tersebut- dari pada terus berdiri merecoki yang akan memicu tragedi spatula melayang.
Tak kuasa menahan rasa marah juga kesal, tanpa menunggu Tetto langsung menghubungi nomor Jenisa dan memberondong dengan segala pertanyaan. "Apa maksudnya ini? Di mana kamu sekarang? Kamu mau bunuh aku sampai mengirim seorang preman?"
Lagi, tanpa sadar sang pengacara telah melakukan kesalahan dengan mengatai seseorang dengan kata preman tepat di depan orangnya langsung, hingga tak lama kemudian sebuah karma berupa apel melayang tepat mengenai kepalanya membuat Tetto harus mengerang menahan sakit yang tiba-tiba datang. Meski begitu sang pengacara tak bisa berbuat banyak sekedar melayangkan protes karena kekerasan yang dilakukan si pria asing, karena dia sadar betul dirinya lah penyebab apel tersebut melayang dengan kepalanya sebagai sasaran. Saat menolehkan wajah, Tetto sudah mendapati si pria tengah menyoroti dengan mata yang menyipit tajam.
"Tetto, kamu gak apa-apa?" tanya Jenisa di seberang sana saat mendengar suara sang penelpon yang mengaduh kesakitan.
"Aku mengalami tindak penganiayaan, kamu tahu?" balas Tetto dengan suara yang sudah lebih pelan. "Sekarang di mana kamu? Kamu nggak menepati perjanjiannya." Bisa dengar helaan napas dari gadis diseberang sana setelah Tetto merampungkan kalimat yang ingin dia katakan.
"Oke, aku jawab satu-satu. Pertama, aku sedang ada di restoran. Kedua, dia bukan preman, namanya kang Arif. Dia salah satu stafku di restoran. Ketiga, aku tetap menepati perjanjian, karena sedari awal kita memang enggak memiliki kesepakatan bahwa harus aku yang turun tangan."
"Shit, kamu bercanda? Jenisa, aku gak tahu kamu selicik itu..." Kembali kekesalan melanda Tetto saat gadis di seberang sana sudah lebih dulu menutup panggilan mereka secara sepihak.
Berani-beraninya gadis itu bermain-main dengan seorang pengacara, mengingatnya kembali membuat Tetto harus menahan rasa marah yang siap membuncah terlebih ini sudah terhitung kali ketiga dirinya dibodohi oleh orang yang sama. Bahkan niatnya untuk menjebak Jenisa ternyata tak benar-benar terlaksana karena kenyataan yang berbicara saat ini justru Tetto lah yang sepertinya tengah dipermainkan oleh gadis tersebut. Kekesalan itu semakin menjadi saat mengingat kebodohannya yang dengan sukarela membersihkan apartemen-nya hingga kini tempat tinggalnya tersebut bisa dibilang menjadi layak dihuni.
Waktu dengan cepat bergulir bahkan sudah hampir satu jam waktu yang sudah berlalu, Tetto sendiri bisa mencium bau yang memang menggugah selera dan kian membuat perutnya memberontak karena kelaparan. Meski masih tidak menyukai kedatangan koki asing yang dikirim Jenisa dan bukannya gadis itu langsung yang turun tangan, bagaimana pun dia tidak bisa munafik saat mencicipi satu dari banyaknya hidangan yang sudah tersaji karena perutnya yang sudah lapar tidak bisa di kompromi sekedar untuk tetap bersikap elegan dan tidak menunjukkan tingkah rakus seakan Tetto tidak lebih seperti orang kampungan yang baru merasakan masakan mahal ala chef restoran. Tak berselang lama setelah semua masakan yang dibuat terjadi di atas meja, seorang pria yang memasak semuanya ikut datang membawa sebuah mangkuk terakhir dan menaruhnya bersama yang lain, pria sangar yang Jenisa sebut bernama Arif itu bahkan sudah mendorong satu kursi di sisi lain meja.
"Oke baby boy, I'm finish, now." Ucap Arif buka suara dengan tangan sibuk melepaskan kaitan apron di belakang pinggang.
"Mmmm.... Om." Panggil Tetto sedikit ragu untuk memulai pembicaraan. Sang pengacara tak tahu apa yang salah hingga kini sosok berbadan besar itu tengah memelototinya.
"Lo panggil apa tadi?"
"Ahhh... salah ya? Maksudnya mas, gak apa-apa kan saya panggil mas Arif?"
"Kenapa? Kerjaan gue di sini udah selesai. Makanan juga sudah siap sedia, bahkan untuk makan malam ada sup sama yang lauk lain yang tinggal dipanaskan." Tutur Arif menjelaskan. "Jangan bilang di sini tangan atau kaki elo yang cedera sampai gak bisa sekedar buat panaskan makanan?"
"Bukan itu." Sela Tetto dengan kepala menggeleng cepat guna menyangkal. "Makasih buat semuanya."
Tak lantas menjawab Arif lebih dulu memilih terdiam, sebelum kembali buka suara berniat berpamitan. "Kalau begitu gue mau pamit."
"Mas Arif... Itu, kalau masih punya waktu, Mas Arif boleh ikut makan juga." Ungkap Tetto berterus terang dengan nada ragu.
Arif yang hendak pergi sejenak kembali terdiam mengamati lelaki yang tengah duduk dibalik meja makan tersebut terlihat resah menunggu jawaban yang akan dia berikan atas ajakan makan siang tersebut. Meski menawarkan makan siang bersama, Tetto tak banyak berharap terlebih bila mengingat kembali first impression di pertemuan pertama mereka yang tidak bisa dibilang baik, namun saat pria tambun itu bergerak kembali untuk menduduki satu kursi lain yang kosong sebagai pengganti jawaban verbal entah sejak kapan tapi saat sadar Tetto sudah menyambut hal tersebut dengan tersenyum lebar.
"Masakan ini gue yang buat. Jadi tanpa elo persilahkan, gue berhak buat ikut makan."
"Maaf soal omongan saya yang buruk dan sempat curiga tadi."
"gak usah terlalu dipikirkan, itu sudah biasa." Balas Arif yang sibuk memilih beberapa buah yang ada di atas meja dan memakannya. "Maaf juga soal sikap gue yang kasar."
Meski awalnya Tetto sangsi bila ada topik pembicaraan yang bisa berlangsung di antara mereka, nyatanya bahkan tanpa banyak berpikir segala topik obrolan selalu terasa menyenangkan untuk mereka bicarakan. Tetto yang sibuk mencicipi hasil masakan Arif dan sesekali memberikan pujian saat lidahnya merasakan rasa luar biasa dari sebuah masakan, lain dengan sang koki yang justru terlihat lebih santai dengan sibuk menggigit buah apel di tangannya karena alasan ingin mengurangi berat badan.
"Kalau boleh gue tahu, elo ada urusan apa sama Non Jenisa sampai dia meminta gue buat mengorbankan waktu kerja cuma minta masak buat satu orang?"
"Hanya sebuah kesepakatan kecil."
"Dasar anak zaman sekarang. Pakai alasan skit cuma buat ke temuan" sindir Arif terkekeh pelan.
UHUK... UHUK...
Sementara itu Tetto yang mendengar hal tersebut tak bisa untuk tak terkejut hingga membuatnya tersedak makanan dan segera mencari air mineral. Kenapa pula pria yang lebih tua darinya tersebut bisa menyimpulkan demikian, terlebih apa yang dikatakan jelas tidak masuk akal.
"Maksudnya?"
"Cuma orang bodoh yang nggak peka buat sadar kalau elo suka sama Non, Jenisa."
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomansaBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
