"Awwhhh......" ringis Jenisa memegangi bagian samping kepalanya yang terbentur dengan lantai sambil berusaha untuk duduk dengan benar.
Sementara Tetto yang juga terkapar ikut mengeluh kesakitan dengan tetap berusaha memaksa tubuhnya untuk berdiri dengan normal dan mata yang tak lepas untuk mengedar ke sekeliling ruangan. Kamarnya tampak baik-baik saja, bahkan tergolong bersih dan rapi untuk ukuran seorang kamar pria lajang karena dari yang terakhir Tetto ingat. Berbeda dengan kamar yang sama yang terakhir diingat hingga sang pengacara bahkan setuju untuk mengatakan kamar yang digunakan tak layak untuk sekedar menjadi kandang kucing peliharaan karena saking banyaknya barang yang berserakan.
"Apa kamu enggak mau membantu?" Suara Jenisa terdengar menyadarkan Tetto akan perbuatannya yang membuat mereka harus berakhir jatuh. Matanya menoleh ke bawah dan menemukan gadis itu yang masih terduduk di lantai dan terlihat menyedihkan.
"Maaf soal yang tadi?" Tetto mengulurkan lengannya, memberikan bantuan untuk membantu gadis itu berdiri. "Duduk dulu di kasur." Pintanya kemudian.
"Kamu sudah gila, ya?" tuding Jenisa dengan mata menyipit tajam. Bukan kata terima kasih yang didapat melainkan respons dengan kalimat penuduhan juga penghinaan setelah membantu gadis itu. Meski begitu, Tetto tak bisa protes mengingat tindakannya yang memang tak waras untuk ukuran manusia normal.
"Ahhh, kepalaku." keluh gadis itu kemudian.
"Apa masih sakit?" tanpa berpikir dan ragu, pria itu mengulurkan lengannya membelai rambut sang gadis yang masih memegangi kepalanya yang terasa kesakitan.
"Kamu masih tanya? Aku gak paham apa maksud dari kelakuan kamu yang sudah mirip ibu-ibu naik motor matic di jalanan, main terobos tanpa kasih peringatan." Gumam Jenisa kesal.
Tetto menarik kembali tangannya. Bibirnya terkatup tak bisa untuk menjawab karena alasan dari tindakannya merupakan sesuatu yang memalukan juga rahasia yang tidak bisa disebarkan terlebih pada wanita di depannya.
"Kalau kamu mau menyelamatkan harga diri, itu sudah terlambat. Aku sudah melihat semuanya." Lanjut Jenisa berkata dengan nada santai.
Masih dengan tangan sibuk mengusap kepala yang terbentur lantai gadis itu tidak menyadari bahwa di tempatnya Tetto melotot terkejut dengan kepala yang sudah menaik mantap horor pada Jenisa yang masih bisa terlihat santai. Bagaimana pula dia bisa ceroboh dan membiarkan gadis itu mengetahui rahasia yang selama ini disimpan, lalu jika sudah seperti ini apa yang harus Tetto lakukan sekarang.
"Aku sudah tahu." Ulang Jenisa kembali.
Penegasan yang gadis itu katakan tak lebih seperti sambaran petir bagi sang pengacara hingga membuat Tetto hanya bisa bungkam dan kelabakan untuk menyiapkan sebuah alasan yang terdengar masuk. Bahkan ia tak mampu lagi untuk sekedar menatap mata gadis di depannya saat Jenisa balik menaikkan wajah seolah siap untuk melakukan serangan mematikan lewat mulutnya yang terlihat sangat berbisa dengan senyum miring seolah siap menertawakan. Sadar bila tidak memiliki jalan keluar selain membeberkan lebih dulu kebenaran yang selama ini dia simpan sebelum gadis itu mengatakannya lebih dulu dan berpotensi menimbulkan salah paham, Tetto mencoba melawan egonya yang meminta untuk tetap bungkam dan menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk yang bisa dia dapatkan.
"Kamu......," Jenisa menggantung kalimatnya dengan mata menyipit curiga.
"I-itu, sebentar biar aku jelaskan. Sebenarnya... aku nggak ada niat...."
"Pakaian dalam kamu itu, sangat norak tahu." Tak berselang lama kemudian gelak tawa yang sebelumnya Jenisa tahan akhirnya pecah hingga gadis itu dibuat terpingkal.
"Ya, gimana?" Tetto sungguh tak mengerti dengan apa maksud dari kalimat yang diucapkan gadis di depannya. Bahkan mungkin ekspresi wajahnya yang kebingungan terlihat sangat jelas mewakilkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS WOMAN
RomanceBagi Tetto menjalani hidup dengan tenang dan menghindari masalah adalah pilihan, itu karena Tetto remaja dengan sukarela menjerumuskan diri dalam sebuah masalah tanpa peduli resiko yang bisa saja menimpa. Karena kenaifan-nya dulu yang mempercayai se...
