68

7.4K 743 24
                                        

"ANAAAA"

Ferine menoleh kebelakang dan aku sontak ikut menoleh kearah belakang , jantungku berdegup kencang bahkan kedua mataku membulat sempurna saat melihat sosok itu

Sosok tak kasat mata bahkan aura mahkluk halus kalah dengan auranya yang berwarna hitam seperti kopi tubruk

Kenapa dia bisa disini? Sial sekali hidupku, baru datang tapi sudah bertemu ......ckkk aku gak suka menyebut namanya

Aku harus kabur dari sini atau perlu aku harus terbang supaya cepat, tapi ngomongin soal terbang...apa dukun juga bisa memberi sayap untuk para pelanggannya ya?

Kurasakan tubuhku di peluk sangat erat lalu ia melepaskan nya dan dengan cepat juga di mencium bibirku di tempat umum seperti ini

Deg

"Anda apa-apaan nona",ucap Ferine

Vera melepaskan kecupannya di bibirku dan menatap Ferine dengan tatapan sinis "apa anda masalah? Saya mencium kekasih saya"

Ferine sontak menatap diriku "apa perempuan itu benar Ana? Kamu kekasihnya?"

Aku hanya mengangguk lemah karena aku tidak tau harus berkata apa

Siluman kecoa brengsek, katanya Vera di penjara oleh keluarga Bognan dibawah tanah tapi kenapa Vera bisa bebas dan tau aku ke Jakarta? Kecoa brengsek.....kamu harus tanggung jawab sialan, gara-gara siluman kecoa itu aku harus terjebak dengan Vera lagi

Ferine menatapku dengan tatapan tak percaya "Kamu...."

Brukkk

Ferine menjatuhkan plastik nya dan pergi begitu saja meninggalkan ku, aku sontak melihat kearah Vera yang mengernyitkan dahinya "tunggu disini, nanti aku jelaskan"

Aku segera berlari mengejar Ferine yang sudah menuju basement apartemen tanpa memperdulikan Vera, aku sontak masuk kedalam mobil Ferine saat Ferine membuka mobilnya

"Keluar Ana"

Aku mengatur nafasku yang tersengal-sengal "aku terpaksa berkencan dengannya Ferine"

Ferine menatapku tajam "terpaksa katamu? Apa maksudmu Ana? Ah aku rasa kamu ingin mempermainkan perasaanku lagi karena jika memang dasarnya player ya tetap player"

Aku menggeleng cepat "aku tidak ada niat sedikit pun mempermainkan perasaan mu , hidupku sudah sangat rumit, bernafaspun sulit...jadi bagaimana bisa aku masih bermain perempuan?"

"Apa maksudmu?"

Kedua mataku terpejam kuat dan menghela nafas kasar "orangtuaku meninggal karena kecelakaan di sengaja"

"Kamu gak lagi berbohong kan?"

Aku menggeleng kuat "tidak Ferine, aku memang tidak mempunyai bukti yang kuat tapi aku yakin orangtuaku meninggal karena sopir yang menabrak orangtuaku juga tiba-tiba mati di tahanan"

Aku tidak mungkin bisa menceritakan bukti yang Katya berikan padaku karena aku tidak ingin Ferine terlibat dalam masalahku, ini bukan masalah antara manusia dengan manusia, tapi ini masalah antara manusia dengan siluman, keluarga Bognan itu sejenis siluman berbahaya

Ferine nampak terdiam dan aku menghela nafas panjang "aku ke Jakarta sebenernya mau menyelidiki seseorang"

"Lalu apa alasanmu jika kamu terpaksa berkencan dengan perempuan itu?"

Deg

Duh aku harus jawab apa? Masak aku jawab kalau dia pembunuh orangtuaku, itu gak mungkin dong dan lagian aku juga gak punya bukti yang jelas

"Aku butuh uangnya"

Ferine memejamkan kedua matanya erat-erat dan menghela nafas panjang "Ana.....kenapa kamu masih melakukan itu huh?"

"Karena dia kaya Ferine, dia sangat kaya"

"Kan masih ada aku yang bisa membantumu, kenapa kamu harus meloroti uang orang lain lagi"

Aku menunduk dalam "kamu terlalu baik denganku Ferine, aku akan menjadi tidak tau diri jika aku meminta tolong padamu, jadi kumohon jangan marah lagi ya"

"Kenapa? Memangnya aku siapamu huh? Terserah aku dong mau marah atau enggak"

Skak mat

Aku memegang lengannya lembut "Ferine, kamu salah satu orang yang spesial untukku, telur spesial mata sapi saja kalah dengan rasa spesial ku untukmu"

Kulihat Ferine mengulum senyumnya "kamu masih bisa bisa nya bercanda huh?"

"Jadi maafkan aku ya, kita kembali lagi ke apartemen, bisa bahaya kalau aku berduaan dengan perempuan itu, aku takut di perkosa"

Ferine tertawa pelan "dan kamu tadi gak takut aku perkosa saat kita berduaan di apartemenmu hum?"

Aku menggeleng "aku yakin kamu bukan tipe perempuan yang pemaksa"

Ferine mengangguk "ya sudah, aku akan menjagamu dari sentuhan perempuan itu"

Aku sontak memeluk tubuh ramping Ferine dengan erat "makasih Ferine, makasih banyak"

Kurasakan tangan Ferine membelai punggung ku dengan perlahan "sama-sama Ana, kamu adalah perempuan spesial di hidupku jadi aku tidak akan membiarkan perempuan manapun berbuat semena-mena padamu"

Duh baik banget sih kamu Ferine, andai aku punya kakak sepertinya, hufttt....sayangnya aku anak pertama

Setelah berpelukan cukup lama aku dan Ferine keluar dari mobil , saat hendak menuju minimarket tadi aku melihat Vera sudah membawa barang belanjaan ku tadi, aku sontak mengambil 2 plastik dari tangannya "maaf merepotkan mu Ve"

"Gak papa sayang"

"Sini biar aku yang bawa 1",ucap Ferine dan aku memberikan satu plastik sayuran kearah Ferine

Kami memasuki lift dalam diam, suasana di lift mendadak gelap dan bewarna abu-abu, kali ini siluman mana yang akan datang, aku merasakan hawa hawa bahwa kejadian aneh akan datang, apakah itu? Apa kuntilanak beranak dalam lift? Atau genderuwo beranak dalam lorong?

Ting

Kami keluar dari lift dan aku menekan sidik jariku lalu kamipun masuk kedalam unit apartemen ku

"Ana"

Aku menoleh kearah Ferine yang meletakan satu plastik belanjaan sayur di atas pantry sedangkan aku meletakan snack di meja dekat sofa "butuh sesuatu?"

"Bisa tolonh bantu aku masak?"

Aku tersenyum manis "tentu"

"Tidak, kita delivery saja dan kamu bisa keluar karena aku ingin berduaan dengan kekasihku"

Ferine menunjuk dirinya sendiri "aku keluar? Kenapa? Apartemen ini milik Ana, Ana saja tidak mengusirku jadi kenapa kamu mengusirku?"

"Karena aku kekasihnya",sahut Vera ketus

"Baru kekasih kan? Jadi Ana masih milik siapapun, siapa tau nanti Ana jadi istriku kelak, jodoh gak ada yang tahu"

Percakapan macam apa ini? Duh siapa juga yang mau nikah muda

Aku memilih mengupas bawah dan bawang merah daripada harus mendengarkan percakapan aneh mereka

"Hapemu merknya apa sih Na? Aku jarang banget lihat kamu megang hpe",tanya Ferine sambil memotong-motong kentang

"Samsung"

"Sayang",sahut Ferine pelan

"Apa kamu bilang? Kamu kalau mau bilang sayang jangan ke pacar orang dong, dasar lesbi",sahut Vera kesal lalu menarikku untuk berdiri disamping nya

Aku yang masih memegang pisau hanya memejamkan kedua mataku pelan....sabar Na, sabar

"Ngaca dong mbak, situ juga lesbi kenapa ngatain orang lesbi",ujar Ferine sambil menunjuk pisau yang ia pegang kearah Vera

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah akan terjadi bacok-bacokan di apartemen ku? Tapi kalau Vera yang mati sih aku alhamdulillah, tapi kalau Ferine yang mati ya......

Innalilahi

Voted?
Komen?



Not Me (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang